JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap melarang penduduk beraktivitas di radius 4-5 kilometer dari puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meskipun statusnya sudah turun menjadi siaga pascaerupsi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa larangan tersebut berlaku untuk radius 4 km dari arah Timur dan Selatan, serta 5 km dari arah Barat dan Utara puncak gunung.
“Warga masih sama sekali tidak boleh ada aktivitas pada radius yang ditentukan itu,” katanya dalam siaran daring bertajuk disaster briefing yang dipantau di Jakarta, Senin (5/2/2024).
Penetapan ini didasarkan pada hasil pemantauan sonar termal BPNB yang menunjukkan adanya sisa lelehan panas material vulkanik yang dapat membakar benda apapun di daerah tersebut, sehingga masih berbahaya bagi penduduk.
Lebih lanjut, Abdul Muhari menyebutkan bahwa jarak antara lelehan tersebut dengan pemukiman dan lahan pertanian warga hanya sekitar 2 km, sehingga warga masih harus tinggal di tenda pengungsian.
“Petugas gabungan di lapangan masih disiagakan untuk mengawasi keselamatan warga setempat,” ujarnya, dilansir dari Antara.
Menurut data BNPB, sejak Gunung Lewotobi Laki-laki meletus pertama kali pada 23 Januari 2024, hingga Minggu (4/2), sebanyak 5.547 orang tinggal di pengungsian, dan empat di antaranya meninggal dunia.
Tempat pengungsian tersebar di 44 titik yang dilengkapi dengan peralatan medis, dapur umum, air bersih, dan aman dari ancaman material vulkanik gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut tersebut.





