
Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin , pihaknya tidak akan melakukan gerakan apa pun yang bisa memicu perang, tidak mengurangi kecemasan warga Ukraina.
Faktanya, negara Beruang Merah itu sudah menempatkan sekitar 100.000 pasukan dengan persenjataan berat, tank-tank, artileri dan peluncur roket dan rudal di perbatasan Ukraina di timur ibu kota, Kiev sejak medio Desembet lalu.
Rusia juga melakukan latihan gabungan secara intens dengan Belarus dalam dua tahap (2-9 Feb dan 10 – 20 Feb), diduga untuk membuka front lain untuk menyerang Kiev dari utara.
Ukraina sendiri, selain menggelar latihan perang kota di Chernobyl pekan lalu, mengingat jumlah tentaranya kalah jauh di bawah Rusia, menyiapkan sekitar 100.000 penduduk, termasuk perempuan untuk dilatih bela negara.
Seorang anggota tentara Ukraina, Botsman (49) yang berjaga-jaga di wilayah Donetsk juga mengaku tegang menghadapi situasi sekitarnya akhir-akhir ini.
“Sangat sunyi, seperti situasi tenang yang terjadi menjelang badai, “ tuturnya. Media resmi dan medsos, juga dijejali berita tentang kemungkinan perang dari berbagai visi dan versi.
Penduduk di kota kecil Maslovka, di wilayah Belgorod Oblast, Rusia dekat perbatasan Ukraina, juga takjub menyaksikan tank-tank dan artileri tidak putus-putusnya diturunkan dari staiun KA sejak beberapa waktu terakhir ini.
“Tank dan meriam ada di mana-mana,” kata seorang warga,O leg Romanenko menirukan isterinya yang panik menyaksikan pemandangan tidak biasa itu.
Sebaliknya, militer Ukraina berlatih menggunakan senjata-senjata baru yang dikirim oleh negara-negara NATO seperti rudal-rudal anti tank Javelin (AS) dan NLAW (Next generation Light Antitank Weapon – NLWA) eks-Inggeris-Swedia.
Remaja sampai lansia, laki-laki dan perempuan, bersenjatakan senapan-senapan mainan terbuat dari kayu juga mengikuti latihan dasar militer untuk mempertahankan negerinya dari kemungkinan invasi Rusia.
Tanpa bantuan NATO, Ukraina yang cuma berada di peringkat ke-27 militer global, agaknya bakal kewalahan menghadapi mesin perang raksasa Rusia.
Namun, 30 negara NATO termasuk negara-negara eks-Pakta Warsawa seperti Bulgaria, Polandia dan Ceko yang kini di belakang Ukraina tentu tak bisa dipandang sebelah mata oleh Rusia.
“Kami tidak akan biarkan Ukraina sendirian, “ demikian komitmen AS yang dilontarkan Presiden Joe Biden.
Melihat besarnya risiko dan kerusakan yang bakal timbul jika peran pecah, diharapkan kedua belah pihak kembali ke meja perundingan.
Presiden Perancis Emmanuel Macron juga sedang mencoba memediasi, betemu dengan Presiden Putin, dan selanjutnya terbang ke Kiev menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (AP/AFP/Reuters/ns)




