spot_img

Waspada, Fenomena El Nino dan IOD Positif Bisa Sebabkan Gagal Panen

JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa gabungan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada musim kemarau dapat berdampak buruk pada ketersediaan air dan menyebabkan gagal panen.

Dwikorita menjelaskan bahwa dua fenomena ini membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan curah hujan menjadi sangat rendah. Kondisi ini mengakibatkan berkurangnya uap air di atmosfer.

Jika normalnya curah hujan adalah sekitar 20 mm dalam sehari, saat fenomena ini terjadi, curah hujan hanya akan terjadi sekali dalam sebulan atau bahkan bisa menjadi sangat jarang hingga tidak ada hujan sama sekali.

“Dampaknya bisa sangat parah, bahkan bisa berlangsung selama dua bulan tanpa hujan sama sekali,” katanya, seperti diberitakan Antara, Selasa (18/7/2023)

Akibatnya, lanjut Dwikorita, sumber air berkurang drastis. Dan, ini menyebabkan kekhawatiran terhadap kekeringan sumber mata air karena tingkat penyerapan hujan juga menurun.

“Kekurangan air berdampak pada sektor pertanian dan kehidupan sehari-hari karena pasokan air terganggu,” tuturnya.

Dwikorita menekankan bahwa sektor pertanian berisiko mengalami gagal panen dan mungkin akan memicu timbulnya hama dan penyakit pada tanaman pertanian.

Selain itu, kesehatan juga menjadi risiko karena kegiatan sanitasi seperti mandi, mencuci, dan buang air besar dapat terganggu karena kurangnya pasokan air.

BMKG telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengantisipasi dampak dari dua fenomena ini yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus atau awal September 2023.

Presiden Joko Widodo juga telah memerintahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk meningkatkan produksi beras guna menjaga stok beras nasional menghadapi kemungkinan terjadinya fenomena El Nino atau cuaca abnormal pada kuartal III 2023.

Kunci Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Dwikorita menyatakan, kunci menghadapi bencana hidrometeorologi, baik yang bersifat basah maupun kering, terletak pada tata kelola air.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas, sehingga tidak jarang wilayah barat sedang mengalami musim kemarau, sementara wilayah timur masih basah.

“Oleh karena itu, koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi sangat penting dalam menghadapi dinamika cuaca dan iklim ini. Meskipun prediksi cuaca tersedia, namun dinamika cuaca terus berkembang,” katanya.

Dwikorita menyatakan, persiapan dalam tata kelola sumber daya air dapat dilakukan melalui pembangunan bendungan, waduk, dan saluran irigasi, dengan kerjasama antara pemerintah daerah, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Balai Wilayah Sungai di setiap daerah.

“Tata kelola air menjadi kunci penting dalam menghadapi situasi baik pada musim kemarau maupun musim basah, dan PUPR bersama Balai Wilayah Sungai dan pemerintah daerah memiliki peran yang mumpuni,” tuturnya.

Hingga awal Juli, sekitar 60 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. BMKG bersama para pemangku kepentingan terkait telah melakukan koordinasi untuk mengatasi dua jenis bencana hidrometeorologi, baik yang basah maupun kering, sejak awal Februari.

Dwikorita menjelaskan bahwa meskipun suatu daerah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di daerah yang berdekatan dapat terjadi banjir karena perbedaan topografi dan dampak dari cuaca lokal.

Oleh karena itu, selain tata kelola air, Dwikorita juga mengimbau pemerintah daerah untuk secara rutin memperbarui informasi cuaca dan terus memonitor informasi cuaca karena dinamika cuaca yang sangat kompleks.

BMKG menyediakan informasi cuaca setiap 3 jam, dan jika ada peringatan dini, informasi tersebut diberikan setiap 3 hari hingga 3 jam, bahkan dalam beberapa kasus, 30 menit sebelum kejadian. Hal ini dimaksudkan agar informasi tersebut selalu terpantau dan memungkinkan tindakan antisipatif.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles