Waspada Pencurian Data, Jangan Sembarangan Isi Daya Ponsel di Fasilitas Publik

Ilustrasi. (Foto: Unsplash/Andreas Haslinger)

JAKARTA – Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengisi daya ponsel di fasilitas publik guna menghindari pencurian data oleh peretas.

Firman mengatakan bahwa modus pencurian data melalui pengisian daya ponsel di fasilitas umum semakin nyata dan dapat sangat berbahaya. Data di dalam ponsel yang berhasil dibobol oleh pelaku kejahatan siber dapat disalahgunakan untuk pemalsuan identitas atau pembobolan rekening, yang merugikan korban.

Oleh karena itu, Firman meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tidak sembarangan menghubungkan ponsel ke perangkat yang tidak aman, seperti fasilitas pengisian daya publik.

Dia mengingatkan bahwa jika data pribadi dalam ponsel terpapar oleh peretas, mereka dapat mengakses informasi tersebut untuk berbagai kegiatan jahat, termasuk pencarian sumbangan atau pengurasan rekening.

“Jadi, harus waspada dan berhati-hati. Ketika ponsel teretas data pribadinya, mereka (peretas) bisa masuk lebih dalam mulai dari penyalahgunaan identitas, mencari sumbangan, hingga mengeruk rekening kita sampai kering,” kata Firman dilansir dari Antara, Jumat (14/4/2023).

FBI juga telah mengeluarkan peringatan kepada konsumen agar tidak menggunakan stasiun pengisian daya umum, karena penipu dapat menyusupkan malware dan mencuri data pengguna.

Dalam peringatan terbaru yang dirilis, pejabat FBI mengimbau pelanggan untuk menghindari penggunaan port pengisian USB umum di bandara, pusat perbelanjaan, dan hotel, karena para peretas dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengakses ponsel atau tablet seseorang.

“Para pelaku jahat telah menemukan cara untuk menyusupkan malware dan perangkat lunak pemantauan melalui port USB umum ke perangkat pengguna,” demikian pernyataan dari kantor FBI Denver di Twitter baru-baru ini.

Praktik yang dikenal sebagai “juice jacking” pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011, ketika para peneliti menciptakan stasiun pengisian untuk menunjukkan potensi peretasan di kios pengisian daya tersebut.

Meskipun belum jelas seberapa umum “juice jacking” terjadi, karena laporan tentang taktik pencurian malware tersebut masih terbatas.

Para ahli telah memperingatkan bahwa jika seseorang memberikan akses penuh ke ponsel mereka melalui “juice jacking”, para peretas dapat mengakses data pribadi seperti informasi kartu kredit. Data ini kemudian dapat dijual kepada pelaku kejahatan lain.

Oleh karena itu, para pelanggan disarankan untuk membawa kabel USB mereka sendiri dan menghubungkannya ke stopkontak atau pengisi daya portabel. Kabel USB-C dan pengisi daya nirkabel dianggap sebagai pilihan yang lebih aman.

Jika seseorang harus menggunakan port USB umum untuk pengisian daya, para ahli telah mengingatkan agar waspada terhadap tanda-tanda bahwa ponsel mereka mungkin diintervensi, seperti baterai yang cepat habis, ponsel yang mengalami overheat, atau pengaturan yang berubah.

Advertisement