JAKARTA, KBKNews.id – Iman seseorang tidak selalu berada dalam kondisi stabil. Ada masa semangat membara dalam ibadah, namun ada pula masa futur, yaitu saat seseorang mengalami penurunan semangat dalam menjalankan ketaatan.
Futur merupakan fenomena umum yang dialami hampir semua orang, baik dari kalangan awam hingga yang sudah lama beribadah.
Secara etimologi, futur memiliki dua makna: pertama, berhenti setelah aktif dan kedua, malas atau menunda-nunda setelah semangat. Dalam praktiknya, futur membuat seseorang yang sebelumnya tekun beribadah tiba-tiba melemah, berhenti, atau enggan melanjutkan kebiasaan baiknya.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa khusus agar umat Islam terhindar dari sifat lemah dan malas: “Allahumma inni a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal.”
Futur bisa menimpa siapa saja, namun menjadi berbahaya saat dibiarkan berlarut-larut tanpa upaya bangkit. Sebabnya beragam. Pertama, rasa jenuh akibat rutinitas ibadah yang monoton. Hal ini bisa diatasi dengan memvariasikan bentuk ibadah, seperti mengganti doa iftitah, jenis zikir, atau memperluas aktivitas spiritual seperti silaturahmi, mendengarkan majelis ilmu, atau membantu sesama.
Kedua, hati yang masih terbagi antara dunia dan akhirat. Jika hati lebih condong pada urusan duniawi, semangat akhirat bisa luntur. Ketiga, minimnya usaha menambah ilmu agama. Seseorang yang tidak memperluas wawasan keagamaannya mudah merasa cukup dan kehilangan semangat untuk berkembang.
Keempat, pengaruh lingkungan dan pergaulan. Meski sudah baik dalam ibadah, seseorang bisa kembali futur jika terus berinteraksi dengan lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kelima, berlebihan dalam perkara mubah seperti makan, tidur, dan berpakaian. Gaya hidup berlebihan membuat hati berat dalam menjalankan ibadah.
Penyebab lainnya adalah enggan hidup berjamaah dan memilih menyendiri. Hidup berjamaah memberikan semangat, teladan, dan saling menguatkan. Futur sering menyerang mereka yang jauh dari komunitas baik. Minimnya ketaatan juga turut memperparah kondisi ini, seperti malas shalat berjamaah, enggan membaca Al-Qur’an, atau jarang berbuat amal saleh.
Untuk mengatasi futur, seseorang harus memaksa diri dalam tanda kutip agar tetap berada di jalur ketaatan, meski sedang malas atau lemah. Iman memang naik turun, tapi dengan istikamah, variasi ibadah, lingkungan yang baik, serta kesadaran untuk tidak menyerah, semangat iman bisa kembali menyala.





