
DISRUPSI distribusi bahan kebutuhan pokok juga berpotensi memicu kenaikan harga-harga dengan meningkatnya intensitas hujan dan angin kencang serta gelombang tinggi akibat siklon tropis Megi dan Malaka di Filipina yang menyambangi sebagian perairan Indonesia timur.
Jadi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tak hanya akibat rantai pasok global yang terimbas Perang Rusia lawan Ukraina dan sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap ekspor energi Rusia.
Di dalam negeri, selain permainan harga (kartel) oleh produsen dan spekulan seperti minyak goreng, pertalite dan solar (bersubsidi semua), naiknya demand atau permintaan di tengah Ramadhan dan Idul Fitri juga ikut mengatrol harga produk pangan.
Korbid Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin di Jakarta, (Kompas, 11/4) mengemukakan, siklon Megi, menyambangi daratan Leyte di utara Filipina sekitar 850 Km sebelah utara Tahuna, Sulawesi Utara selama 24 jam.
Saat ini silon diperkirakan masih berada di lokasi sama dengan kecepatan angin maksimum 35 knot atau 65 Km per jam dengan tekanan 1.000 hPa sehingga berpotensi meningkatkan hujan berkapasitas sedang sampai lebat di Kalimantan Utara.
Cuaca diikuti gelombang pasang dengan ketinggian 2,5 sampai empat meter berpeluang turun di perairan utara Kep. Talaud , sedangkan gelombang setinggi 1,25 sampai 2,5 meter kemungkinan di perairan Kalimantan Utara, Selat Makassar utara, Laut Sulawesi, Bitung Kep. Sitaro, Sangihe , perairan selatan Talaud dan selatan Sulawesi Utara.
Sementara itu, intensitas tropis siklon Malaka, diperkirakan menguat seiring pergerakannya ke arah barat laut sehingga dalam 24 jam mendatang, akan meningkatkan kecepatan angin menjadi 75 Knot atau 135 Km per jam dengan tekanan 965 hPa.
Keberadaan siklon Malaka akan memicu hujan di wilayah Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gootntalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Siklon Malaka juga akan memicu gelombang setinggi 2,5 sampai empat meter di peraoran Kep. Talaud dan Kep. Halmahera hingga Papua.
Selain mengganggu rantai pasok kebutuhan masyarakat, pengelola angkutan laut dan nelayan diminta juga untuk mengantisipasi cuaca buruk demi menghindari korban jiwa mau pun harta benda.
Waspada!




