Waspadai 6 Kebiasaan Tidak Sehat Penyebab Diabetes

JAKARTA – Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ lain dalam tubuh seiring berjalannya waktu. Organ-organ yang rentan terhadap kerusakan akibat diabetes meliputi jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan sistem saraf.

Peningkatan kadar glukosa dalam darah pada penderita diabetes dapat merusak pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan penyakit jantung dan masalah kardiovaskular lainnya. Kerusakan pada pembuluh darah juga dapat mempengaruhi sirkulasi darah ke mata, menyebabkan masalah penglihatan dan potensial untuk kebutaan.

Selain itu, ginjal juga dapat terpengaruh oleh diabetes, yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal atau gagal ginjal. Kerusakan saraf juga merupakan komplikasi umum yang terkait dengan diabetes, yang dapat menyebabkan neuropati perifer, gangguan pada sistem saraf tepi tubuh.

Karena itu, diabetes disebut juga sebagai the silent killer. Banyak kebiasaan buruk yang dapat menjadi penyebabnya. Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Vineeta Taneja dan dr. Tushar Tayal, menjelaskan enam kebiasaan tidak sehat yang dapat meningkatkan risiko terkena diabetes, seperti dilaporkan oleh Hindustan Times.

1. Pola Makan Tidak Sehat

Mengonsumsi makanan yang mengandung tepung putih, junk food, karbohidrat olahan, minuman berkarbonasi, dan makanan olahan yang kaya gula dapat secara signifikan meningkatkan risiko terkena diabetes.

Konsumsi makanan-makanan tersebut dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan salah satu faktor risiko terbesar untuk diabetes. Kelebihan lemak tubuh yang terutama terakumulasi di sekitar perut akibat obesitas dapat meningkatkan resistensi insulin dan kadar gula darah.

2. Kurangnya Aktivitas Fisik

Sebagian besar pekerja, terutama mereka yang bekerja di kantor, seringkali memiliki jadwal kerja yang tidak teratur dan menghabiskan banyak waktu dalam posisi duduk yang lama. Gaya hidup yang minim aktivitas fisik, ditambah dengan kebiasaan makan yang tidak sehat, kurang tidur, dan tingkat stres yang tinggi, dapat meningkatkan kadar hormon stres kortisol dan vasopresin dalam tubuh.

Semua faktor ini dapat menjadi penyebab diabetes. Melakukan aktivitas fisik ringan secara teratur, seperti berjalan, berlari, yoga, atau aerobik setidaknya lima hari dalam seminggu, dapat membantu membakar kalori dan meningkatkan sensitivitas insulin.

3. Mengonsumsi Karbohidrat Rafinasi

Makanan seperti tepung maida (tepung terigu putih) dan gula rafinasi adalah salah satu faktor penyebab obesitas dan diabetes. Tepung maida dan gula rafinasi telah diolah menjadi bentuk karbohidrat yang dapat dengan cepat diserap ke dalam aliran darah, menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Hal ini kemudian mendorong peningkatan sekresi insulin yang tinggi.

Sebagai perbandingan, karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian utuh dan makanan berserat tinggi, dicerna secara perlahan oleh tubuh. Hal ini menyebabkan kenaikan kadar gula darah yang lebih lambat dan sekresi insulin yang lebih fisiologis.

Dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, tubuh memiliki lebih banyak waktu untuk memproses glukosa dengan lebih efisien dan menjaga stabilitas gula darah.

4. Merokok

Merokok, baik dalam bentuk rokok tembakau maupun rokok elektrik, memberikan dampak merugikan bagi kesehatan seseorang. Asap yang dihasilkan mengandung bahan kimia berbahaya dan karsinogen yang memengaruhi organ tubuh yang berbeda dan dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Selain menjadi penyebab penyakit paru-paru dan kanker, merokok juga dapat menyebabkan resistensi insulin dan mengganggu produksi serta pemanfaatan insulin dalam tubuh. Hal ini berdampak negatif pada pengaturan gula darah dan dapat menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat.

Oleh karena itu, meninggalkan kebiasaan merokok sangat penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan dan mengurangi risiko terkena diabetes.

5. Stres

Jika seseorang menjalani gaya hidup dengan tingkat stres yang tinggi dan tidak dapat mengelolanya dengan baik, hal ini dapat mempengaruhi kadar gula darah yang dapat menjadi pemicu diabetes.

Untuk mengurangi risiko terkena diabetes, sangat penting untuk melakukan perubahan positif pada gaya hidup. Ini termasuk mengelola stres dengan baik melalui teknik relaksasi, olahraga, dan mencari dukungan sosial.

Selain itu, orang yang memiliki riwayat keluarga diabetes disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin sejak usia 45 tahun. Pemeriksaan kesehatan yang teratur dapat membantu mendeteksi faktor risiko dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat.

Dengan adanya perubahan gaya hidup yang sehat dan pemantauan kesehatan yang tepat, seseorang dapat mengurangi risiko terkena diabetes dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.

6. Mengonsumsi Minuman Beralkohol

Hati merupakan organ yang berperan dalam detoksifikasi dan pengaturan gula dalam tubuh. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, yang pada akhirnya dapat memicu ketidakseimbangan kadar gula dalam tubuh.

Selain itu, alkohol secara umum memiliki kandungan kalori kosong tanpa nilai gizi yang signifikan. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.

Kandungan kalori dalam minuman beralkohol dapat menyumbang tambahan kalori yang tidak diperlukan oleh tubuh, sehingga dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengonsumsi alkohol dengan bijak atau bahkan menghindari konsumsi alkohol secara keseluruhan demi menjaga kesehatan hati, mengontrol gula darah, dan mengurangi risiko obesitas serta diabetes.

Sumber: Antara

Advertisement