
JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa secara resmi menyetujui penggunaan darurat vaksin produksi Sinovac, perusahaan farmasi asal China.
Ini adalah vaksin kedua asal China sekaligus vaksin Covid-19 kedelapan yang mendapat lampu hijau dari WHO.
Langkah WHO ini memberi negara, penyandang dana, lembaga pengadaan dan masyarakat kepastian bahwa vaksin itu memenuhi standar internasional untuk keamanan, kemanjuran, dan produksi.
Menurut WHO, selama peninjauan CoronaVac, pihaknya juga mengobservasi fasilitas produksi vaksin.
“CoronaVac mengandung virus SARS-CoV-2 yang tak lagi aktif. Ketentuan penyimpanannya yang sederhana membuatnya sangat mudah dikelola dan sangat cocok untuk pengaturan sumber daya rendah,” jelas WHO dalam pernyataan resminya.
Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus saat konferensi pers virtual menambahkan bahwa target WHO saat ini adalah mengintensifkan vaksinasi, dengan sekitar 30-40 persen populasi di semua negara sudah divaksin pada akhir tahun ini.
“Dunia sangat membutuhkan banyak vaksin Covid-19 untuk mengatasi ketidakmerataan akses di seluruh dunia,” kata Mariangela Simao, asisten direktur jenderal WHO untuk akses ke produk kesehatan.
Simon pun mendesak produsen vaksin untuk berpartisipasi dalam fasilitas COVAX, berbagi pengetahuan dan data mereka, dan berkontribusi untuk mengendalikan pandemi.




