banten – Setelah dilanda bencana tsunami Selat Sunda, daerah Banten rawan terhadap serangan ular tanah yang mematikan, apalagi disaat pembersihan puing sisa bencana.
“Propinsi Banten adalah habitat ular tanah atau oray gibuk dalam bahasa lokal,” kata Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat.
Dia meminta petugas, warga atau relawan berhati-hati saat membersihkan puing dan sampah di kawasan terdampak Tsunami Selat Sunda.
Beberapa kasus laporan sudah masuk soal keberadaan ular tanah di lokasi puing bangunan. “Banten memang daerah endemik ular tanah sejak dulu, sudah banyak korbannya,” kata Aji.
Saat ini di daerah terdampak tsunami, ular tanah akan mencari lokasi yang nyaman untuk mencari makan dan sembunyi. Tsunami, kata Aji, banyak membuka area baru yang memungkinkan ular beraktivitas dan berkeliaran tanpa terganggu manusia untuk mencari makan.
“Keberadaannya bisa di bawah puing rumah, kayu, bambu, sampah yang terbawa ombak, tenda pengungsian, tumpukan barang bantuan dan area lain yang kering dan nyaman,” ujarnya.
Jenis ular ini tidak bersarang sehingga area sembunyi (hidden cave) dan lokasi berburunya selalu berpindah. “Habitatnya ikut rusak dan tergenang air, jadi sebaran ular menjadi acak,” kata Aji, Selasa (1/1/2019), dikutip Tempo.





