Bencana Menjelang Pergantian Tahun

24 korban lagi masih hilang dalam musibah longsor di Kampung Cimapag, Cisolok, Sukabumi (31/12). Longsor terjadi karena lahan dengan kemiringan 30 derajat itu dijadikan sawah.

APARAT masih terus bekerja menyisir pantai serta reruntuhan bangunan di Banten dan Lampung Selatan yang diterjang tsunami pada 22 Desember lalu untuk menemukan korban, kini terjadi lagi bencana tanah longsordi Cisolok, Sukabumi (31/12).

Berdasarkan laporan Tim Gabungan Polri, TNI, Basarnas, berbagai instansi dan relawan, longsor yang menerjang Kampung Cimapag, terjadi di Desa Sinaresmi, Kec, Cisokok, Sukabumi, paling tidak menewaskan 11 warga, 24 korban lainnya hilang atau belum ditemukan dan tiga korban mengalami luka luka berat.

Dusun dengan kemiringan 30 derajat itu diguyur hujan sepanjang malam pergantian tahun, sejak Senin pagi hingga sore hari, dan pada pukul 18.00 material longsor menerjang 32 rumah yang dihuni 101 orang.

Berdasarkan hasil pengamatan tim penanggulangan bencana, lereng terjal perbukitan di kawasan itu ditanami tanaman padi atau dijadikan sawah, minim pepohonan keras , sehingga longsor saat turun hujan deras dalam waktu lama.

Menurut Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Sukabumi Eka Widiaman, di lereng dengan kemiringan 30 derajat itu selayaknya tidak dijadikan persawahan, sebab air yang dialirkan ke sawah membuat tanah jenuh dan rawan longsor.

Peringatan senada juga disampaikan oleh Kepal Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kasbani yang menyebutkan, lokasi tanah longsor di Cisolok memiliki kerentanan gerakan tanah berkategori menengah sampai tinggi.

Saat turun hujan lebat, titik rawan kawasan yang berpotensi longsor adalah yang berbatasan dengan sungai, tebing curam dan lereng.

Lokasi Kampung Cimapag, 60 Km dari kota Sukabumi dan 25 Km dari resor wisata Pelabuhan Ratu ke arah Gunung Salak-Halimun melalui jalan menanjak dan turunan curam, sehingga aparat harus berhati-hati mengevakuasi korban karena hujan yang terus turun berpotensi terjadi longsor susulan.

Peringatan juga disampaikan Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Tony Agus Wijaya yang menyebutkan lokasi tersebut diprediksi bakal diguyur hujan dalam beberapa hari mendatang sehingga berpotensi menggeser lumpur dan batu yang dapat membahayakan.

Lagi-lagi jatuhnya korban sebagin juga akibat diabaikannya mitigasi bencana, karena jelas-jelas di tanah dengan kemiringan tinggi (30 derajat) dijadikan persawahan. Apa saja yang dilakukan kepala desa dan aparat BPBD setempat?
Hal ironis juga terjadi dalam kasus bencana di Banten, sepekan menjelang tutup tahun, dimana tempat evakuasi sementara dari bencana tsunami (shelter) yang dibangun dengan biaya Rp18 milyar di Kec. Labuhan, Kab. Pandeglang dikorupsi.

Akibatnya, bangunan mangkrak yang dipenuhi sampah dan biasa digunakan untuk ngumpul para preman atau tuna wisma itu tidak bisa digunakan warga untuk mengungsi saat bencana terjadi.

Orang tentu tidak mudah percaya, jika musibah demi musibah yang melanda negeri ini terjadi karena azab Allah, apalagi yang menyatakan hal itu adalah politisi nyinyir, yang tidak berbuat apa-apa atau minim bagi rakyat.

Seharusnya ia intropspeksi, jika itu azab dari Allah, tentunya juga ditujukan terhadap dirinya yang tidak menjalankan amanah yang telah dimandatkan oleh rakyat.

Advertisement