WIRATA PARWA

BHilawa pun berhasil menjebak Patih Kicaka. Tak lama kemudian Kicaka dihajar hingga wasalam.

BIARPUN negeri Wirata terletak di belahan bumi Timur Tengah, tapi tak pernah ada ceritanya rakyat negeri itu memperlakukan semena-mena para TKW (Tenaga Kerja Wayang). Karenanya keluarga Pendawa Lima tanpa ada keraguan sedikitpun menyamar diri di negeri ini. Mereka berpura-pura mencari sesuap nasi, tapi sesungguhnya ngumpet dari mata-mata dan kejaran Kurawa.

Jaringan intelejen Wirata sangat lemah, sehingga penyamaran Pendawa Lima tak terdeteksi. Begitu mereka melamar, langsung diterima oleh patih Kicaka. Bima (Balawa) yang pernah belajar kuliner pada Bondan Winarno, dijadikan juru masak. Sedangkan Permadi (Wrehatnala), ditunjuk sebagai guru tari karena dia mantan murid Sampan Hismanto. Sikembar Nakula (Pinten) dan Sadewa (Tangsen) dipromosikan sebagai penggembala ternak. Lumayan menarik adalah Drupadi (Salindri) istri Wijakangka, dia dijadikan perias kerajaan karena pernah kerja di Johny Andrean. Adapun si sulung Wijakangka (Kangka) diposisikan sebagai penyuluh agama, karena dia memang lulusan MAN (Madrasah Aliyah Negeri).

“Tugasmu ceramah di TV setiap pagi. Propaganda anti poligami bolah-boleh saja, tapi harus konsisten. Jangan pula nanti kamu malah kawin lagi,” nasihat Prabu Matswapati raja Wirata.

“Kalau saya punya panggilan A’ak Kangka, pas kan. Betul tidaaaak?” ujar ustadz baru, A’ak Kangka.

Nasib buruk keluarga Pendawa Lima tak lepas dari kekalahan mereka bermain dadu dengan Kurawa. Negeri Indraprasta tergadai, badan pun terusir ke hutan selama 12 tahun. Dan begitulah, kini setiap pagi usai subuh A’ak Kangka bercuap-cuap di TV memberi pencerahan tentang kebajikan dan amar makruf nahi munkar. Cuma celakanya, meski kalbunya sudah dimenej setiap pagi, pejabat doyan korupsi tetap saja korupsi. Raja Wirata pun geleng-geleng kepala, sudah dicuci mentalnya tapi kagak ngaruh juga.

Sesungguhnya, Prabu Matswapati adalah raja yang telah dipereteli kekuasaannya oleh patih Kicaka. Secara deyure memang dia raja Wirata, tapi defakto yang berkuasa justru Patih Kicaka. Semua perizinan yang teken Matswapati, namun segala komisi masuk rekening kipatih.Walhasil pemberantasan korupsi di negeri ini jadi setengah hati, karena Kicaka adalah “buaya” yang harusnya diberantas ramai-ramai kalangan cicak.

“Dalam memberantas tikus negara, kita harus fokus,” kata patih Kicaka setiap memberi sambutan dalam peresmian ini dan itu.

“Payah, kipatih bisanya ngomong fokus melulu,” kata rakyat sambil matikan TV.

Sebagai tokoh the real king, Patih Kicaka memang sibuk luar biasa. Namun belakangan ini semakin sibuk lagi semenjak Salindri buka salon di kompleks Istana. Di sela kesibukan kerjanya, dia pasti menyempatkan diri ketemu TKW cantik itu, lalu bla bla bla ngobrol ngalor ngidul. Maklum, sebetulnya dia kesengsem berat pada penampilan Salindri yang seksi menggiurkan tersebut.

Patih Kicaka sering sekali kirim SMS rayuan maut, tapi tak pernah ditanggapi. Justru Salindri menasihati, sebagai pejabat penting harus bertindak hati-hati, jangan sampai terjebak skandal seks. Apakah Kicaka ingin mengikuti jejak John Profumo PM Inggris yang jatuh gara-gara urusan selangkangan?

“Jangan begitu, ki Patih. Sayang kan, jika jabatan hancur gara-gara wanita?” kata Salindri memberi petuah.

“Taik kucing. Kenapa kamu Salindri malah menasihati saya. Tak perkosa baru rasa,” ancam Patih Kicaka dengan sungut bersambil-sambil.

Pada 22 Desember ini, kebangkitan asmara Patih Kicaka semakin terasa. Setiap melihat Salindri ukuran celananya mendadak berubah. Beberapa hari lalu, hampir saja Salindri kehilangan kehormatannya. Beruntung dia berhasil menendang “burung” ki patih sebelum berlaga, sehingga selamat dari bahaya maut. Tapi sejak itu pula, Salindri mempertinggi kewaspadaan nasionalanya. Di antaranya pakai celana jins rangka 5, dan tidurnya pun selalu mengkurep.

            Ini memang bukan penyelesian. Salindri pun mengadu pada suami, A’ak Kangka, tapi jawabnya: sabar, itu cobaan Tuhan, betul tidaaaak? Terpaksa dia bercerita bla bla bla pada Bilawa. Nah ini dia, adik Wijakangka ini pun memerintahkan sang kakak untuk menjebak Kicaka dengan pura-pura meladeni aspirasi urusan bawahnya. Katanya, begitu Kicaka masuk perangkap, langsung wush…… kuku Pancanaka bersarang di perutnya.

“Kalau ketahuan, dan kamu dihukum mati?” Salindri bertanya sedikit ragu.

“Oo, pasti dapat grasi. Negeri ini kan paling doyan komisi dan obral remisi.”

Matahari baru saja ke peraduan. Selepas adzan magrib Patih Kicaka terkaget-kaget menerima SMS dari Salindri bahwa ngajak kencan di bawah pohon duwet dekat istana. Tapi sial, ketika dia meluncur ke sana yang hadir justru si Balawa dan langsung menghajarnya dengan telak. Dalam kondisi tak siap, Kicaka gagal mengalahkan serangan Balawa yang bertubi. Belum juga sampai 3 ronde, patih Wirata tersebut terkapar mandi darah. Nyawanya wasalam, perut terbelah terkena kuku Pancanaka Balawa.

Belum juga pembunuhan Kicaka oleh Balawa diusut tuntas, mendadak pasukan sekutu menyerbu negeri Wirata. Dari arah selatan masuk pasukan Kurawa pimpinan Haryo Suman (Sengkuni). Dari arah utara datang menggempur bala tentara Trigarta pimpinan Prabu Susarmo. Pasukan Wirata yang sebagian besar baru menikmati libur Natal-Tahun Baru, kalah. Bahkan Prabu Matswapatipun ditawan di Rutan Salemba.

“Suruh Balawa tumpas musuh, nanti kasusnya kita deponir,” perintah Matswapati di balik terali besi.

“Kalau diprotes DPR, gimana Boss?” tumenggung Dursila Arienanjaya bersaran.

“Alah, DPR lagunya memang begitu. Dikasih proyek e-KTP juga diem…..”

Atas nama hukum, Balawa dibebaskan sementara dari tahanan dan langsung menyerbu bala tentara sekutu, dibantu sang adik, Wrehatnala. Hanya dalam tempo 2 jam, pasukan Kurawa terusir, sementara Prabu Susarmo tewas kena peluru nyasar Densus-99. Alhamdulillah Prabu Matswapati bisa dibebaskan, dan para TKW penyamar itu pun mulai berani membuka diri siapa mereka sebenarnya.

“Wah, penyusupan kalian rapi benar, macam anggota HTI aja,” puji Prabu Matswapati. (Ki Guna Watoncarita)

           

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement