WISMAMITRA MALING

Lembu KW-2 ini oleh Betara Guru tetap diberi nama Lembu Andini, Sebab untuk balik nama ke Polda harus tambah biaya lagi.

UNTUK menopang kehidupannya Bagawan Wasista mencoba mengajukan permohonan sapi Banwa (Bantuan Dewa) ke Kahyangan meskipun profesinya tak pernah berkaitan dengan sawah, kecuali kemenyan. Maklum, semenjak populasi kaum paranormal semakin membesar,   “periuk” Bagawan Wasista dari Pertapaan Ngalengkapura  mulai terancam. Penghasilan dari jasa ramal-meramal dan pongobatan jarak jauh itu tidak lagi menarik. Untuk membayar honor cantrik saja dia sering nombok, bahkan bukan sekali dua para ajudannya terlambat gajian.

Dasar nasib Bagawan Wasista sedang bagus, tak lama kemudian Batara Iswara (Sanghyang Siwah – Red) memberikan hadiah Lembu Andini yang konon masih keturunan jin Rohpatanam. Namun berdasarkan brosur panduan saat pengiriman lembu, Andini tersebut masih tergolong keluarga sapi Brahman dari Australia!

“Setelah Lembu Andini beranak kelak; pedet (anak sapi)-nya harus kau berikan kepada bagawan lain yang berminat. Karenanya pelihara baik-baik, jangan sampai dijual…” kata Batara Iswara ketika menyerahkan Lembu Andini secara simbolis.

“Beres, boss. Begawan kan tak boleh berpolitik, mana mungkin mengkhianati kepercayaan orang.” Jawab Begawan Wasista santun.

Lembu Andini ternyata memang banyak membawa berkah. Hanya dalam beberapa minggu saja Bagawan Wasista kehidupannya sudah banyak berubah. Rumahnya yang dulu beratapkan seng bekas dari Jalan Perintis Kemerdekaan, kini langsung diganti genting keramik berwarna. Begitu pula lantainya, bila sebelumnya cuma plesteran semen kini diganti dengan ubin keramik yang seharga Rp 75.000 per meter.

Kenapa bisa begitu? Soalnya Lembu Andini ini memang luar biasa, air susunya ngocor terus macam leiding PDAM. Tiap hari cantrik- cantrik Bagawan Wasista ejleg-eler (mondar-mandir) setor susu ratusan liter ke KUD terdekat. Lebih dari itu Lembu Andini punya kesaktian menyediakan makanan-makanan lezat tanpa pesan ke restoran. Karena-nya Bagawan Wasista dan cantrik-cantriknya tiap hari makan ayam goreng Kentucky tanpa bayar dan minum Es Teler “77” tanpa keluar duit. Yang paling hebat, air susu Lembu Andini itu bisa memperpanjang usia peminumnya sampai 1.000 tahun.

“Berkat minum susu Andini, gue masuk asuransi jiwa tanpa diperiksa lagi, dan ambil rumah BTN cicilannya menjadi semakin murah,” kata cantrik Fahridipala, bangga.

“Enak dong! Tinggal saja di Indonesia, semakin jompo makin besar peluang jadi Cawapres.” tambah cantrik Putut Fadlijaya.

Kabar pertapaan Bagawan Wasista yang makmur jibar-jibur (zaman keemasan) sampai pula ke telinga Prabu Wismamitra dari Kerajaan Nikunja. Pejabat yang suka makan enak tanpa bayar itu kemudian mengajak istrinya, Ny. Wismamitra, bertandang ke rumah Bagawan Wasista.

Sebagai orang kecil yang adoh ratu cedhak watu (tinggal di pelosok – Red), Bagawan Wasista merasa memperoleh  kehormatan tersendiri atas kunjungan Prabu Wismamitra tersebut. Karenanya pejabat tinggi negara itu dijamu sepuas-puasnya, di samping masih disiapkan pula oleh-oleh untuk pulang nanti.

“Setahuku di sini jauh pasar swalayan dan restoran, tapi hidanganmu kok beraneka macam dan bikin lidah ngibing (berjoget),” ujar Wismamitra yang agaknya pernah tinggal di Banyumas beberapa tahun lamanya.

“Lihat dulu dong, siapa Bagawan Wismamitra,” jawab Sang Bagawan pongah.

Lupa dengan sanjungan memabukkan, tanpa disadari Bagawan Wasista buka kartu  rahasia “perusahaan”-nya. Prabu Wismamitra beserta nyonya sangat terpukau mendengarkan kisah-kisah nilai tambah Lembu Andini. Apalagi Ny. Wismamitra yang ambisi menja­di ketua Dharma Wanita Cabang Nikunja seumur-hidup, sangat bernafsu memiliki lembu ajaib tersebut. Tanp malu-malu dia merengek-rengek kepada suaminya agar dibelikan Lembu Andini itu. Sayang, Bagawan Wasista yang ingat pesan Batara Iswara selalu, tak bermaksud melego barang keramat tersebut dengan harga berapa pun.

“Kalau begitu, ditukar dengan Mercy L-500 milikku saja, bagaimana? Biar saya nanti pulang boncengan naik ojek….!” bujuk Prabu Wismamitra lagi.

“Maaf Den, gue takut dicoret dari keanggotaan KUD,”  ujar Bagawan Wasista santun.

Karena berulangkali Bagawan Wasista menggeleng, pupuslah harapan raja Nikunja itu untuk memiliki Lembu Andini. Atas desakan istri tercintrong, main kasar pun dilakukan. Pukul dulu, urusan belakangan begitu prinsipnya. Maka lain hari Prabu Wismamitra tengah malam keluyuran ke pertapaan Bagawan Wasista untuk mencuri Lembu Andini di kandangnya.

“Kalau berhasil, langsung dipotong dan dikuliti di tempat ya boss?” tanya seorang asisten maling dari Nikunja.

“Husy, ini lembu bukan untuk korban. Dasar pekok….” Omel Prabu Wismamitra sambil mata melotot.

Prabu Wismamitra terus merangkak ke daerah sasaran. Karena Satpol PP Ngalengkapura kebanyakan minum susu dan roti tawar, malam itu pada ketiduran sehingga tak  mengetahui ada maling masuk. Untungnya Lembu Andini tak menyerah begitu saja. Sebagai ternak sakti dan pandai  bicara, langsung saja dia berontak ketika dadung (tali pengikat leher) ditarik paksa oleh konglomerat dari Nikunju itu.

“Tolongin dong gue mau dicuri pejabat mata susuan…..!” teriak dan lenguhnya bergantian.

“Ssst, jangan teriak keras-keras. Volumenya dikecilin….” Bisik Prabu Wismamitra panik.

Bagawan Wasista yang sedang asyik di depan teve nonton Asian Games 2018, dengan ogah-ogahan menuju ke kandang lembu Banwa itu. Perkelahian pun terjadi. Anak buah Prabu Wismamitra yang belum juga naik gaji jadi asal-asalan membantu bossnya. Karenanya dalam waktu cepat raja Nikunja itu berhasil dikalahkan oleh Bagawan Wasista. Beserta komplotannyq dia buru-buru pulang ke negerinya. Dimarahi oleh bininya, atau malah tak diberi pintu nantinya, bodo amat! Bagi Prabu Wismamitra yang penting menyelamatkan nyawa dulu daripada tak menangi   (menyaksikan) Hari Raya Kurban 1439 H.

Sementara Prabu Wismamitra mengasingkan diri karena benar-benar diusir oleh nyonya rumah, di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru sibuk dengan persiapan merayakan Idul Kurban. Semuanya dikerjakan oleh kalangan dewa saja, sebab minta bantuan wayang kelas bawah tak memungkinkan lagi. Maklum, mereka ini minim jiwa sosialnya. Dimintai tolong potong sapi saja, minta upah satu kepala untuk setiap sapi.

“Ke mana ya mencari sapi yang murah, tapi memenuhi syarat kurban?” kata hati Batara Guru setelah mondar-mandir mencari sapi di Kahyangan tapi juga belum dapat.

“Ada noh Sapi-Udin sedunia,” jawab Patih Narada asal-asalan.

Meskipun di Kahyangan Jonggringsalaka juga banyak sapi, namun kini banyak yang tak bisa dibuat kurban lantaran diglonggong untuk mendongkrak harga. Batara Narada yang tahun ini ikut-ikutan dagang sapi, pusing juga mencari dagangan. Sudah minta tolong Tumenggung Joglempo untuk mencarikan sapi ke NTB, juga kagak dapet! Malah pulang-pulang kepala benjol kena reruntuhan gempa.

“Nyerah deh boss, silakan mencari sendiri. Badan sudah capek, bini di rumah marah-marah…!” kata tumenggung dari Bekasi itu, bisik-bisik.

“Payah lu, baru diembargo bini sudah takut.”

Di saat Batara Guru mencari-cari lembu untuk kurban, tiba-tiba dia melihat Lembu Andini merumput sendirian. Ke mana Bagawan Wasista pemiliknya? Nggak tau tuh! Lembu Andini merasa sebagai sapi sakti dan jagoan, melihat ada wayang Batara Guru datang tanpa menghormat, jadi marah. Dengan membanggakan dirinya bahwa Prabu Japaran tunduk padanya dan selalu memberi upeti, Lembu Andini minta Batara Guru juga menyembah pada­nya. Tentu saja konglomerat Kahyangan itu naik pitam, baru kali ini ada ternak berani pada wayang kelas atas.

“Elu  sapi   nggak  pernah   makan sekolahan,   ya?  Di  mana  pun letaknya wayang, semuanya tunduk ama gue, tau? bentak Batara Guru.

Lembu Andini yang agaknya juga punya Aji Pengeyelan tetap keras kepala, tidak mau tunduk kepada Batara Guru. Penguasa dewa itu menjadi murka, kegagalannya mencari lembu untuk kurban ditumpahkannya.

“Gue bikin kurban, baru nyaho   lu…!” gertaknya sambil mengeluarkan golok pinjaman dari RPH Cakung.

Rupanya Lembu Andini ngeper juga melihat senjata tajam itu. Beruntung sebelum Batara Guru melampiaskan kekesalannya, Batara Narada segera tiba melerai.

“Stop, jangan dipotong Lembu Andini. Di samping belum tiba hari raya Idul Adha, lembu ini belum poel   (ganti gigi) atau massinah,   karena usianya belum ada 2 tahun,” teriak Batara Narada sambil membuka buku fikih karangan Sulaiman Rasyid.

Lembu  Andini  yang merasa  diselamatkan  nyawanya, akhirnya tunduk pada Batara Guru. Ketika dinaiki punggungnya untuk dijadikan kendaraan pribadi, terpaksa nurut. Pada  situasi  seperti   ini,   Andini  memilih  diam, daripada celaka.

Prabu Japaran melihat sapi sesembahannya dinaiki wayang jadi marah. Dia hendak membinasakan Batara Guru itu. Lagi-lagi penguasa Kahyangan unjuk gigi. Anak buah Andini itu dipelototi sehingga badannya panas dingin dan gatal-gatal dikrawe (tumbuh-tumbuhan hutan yang bikin gatal).

“Udah deh, nyerah aja lu dari pada panjang urusannya…!” kata Lembu Andini membisiki.

Sesuai dengan petunjuk Lembu Andini, Prabu Japaran pun akhirnya menyembah Batara Guru, dan mengikuti ke mana saja mantan bossnya itu dinaiki. Daripada nganggur, tokoh kalahan itu menerima saja dipekerjakan sebagai Satpam di Kahyangan. Gajinya Rp 750.000,- sebulan tanpa uang transpor. Maklum, kerja di kahyangan itu yang penting berkah.

Meskipun menjadi kendaraan pribadi Batara Guru sungguh terjamin, tapi Lembu Andini tak menyenangi tugas ini. Dia ingin bebas lepas seperti sedia kala. Untuk mencapai tujuannya, secara diam-diam dia sering menghasut dewa-dewa di Jonggring Salaka lewat twetter. Batara Guru waspada, sebagai hukumannya, lembu suka ngomporin wayang itu disotake (dikutuk) sehingga menjelma sebagai pelangi. Sebagai ganti kendaraan pribadinya, Batara Guru kemudian mengambil Lembu Andana anak Raseksa Gopatama. Daripada balik nama banyak makan duit, akhirnya lembu pengganti itu diberi pula nama yang sama: Lembu Andini, tapi KW-2.  (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement