Wujud Toleransi di Perayaan Waisak

sambutan penduduk sepanjang pantura yang dilalui pejalan kaki ritual tudhong 32 bhiksu dari Thailand merefleksikan toleransi bangsa Indonesia terhadap kepercayaan yang berbeda.

DI TENGAH masih tumbuhnya sikap intoleransi, fanatisme identitas (SARA) di sebagian masyarakat di tanah air, sambutan yang diberikan pada puluhan  banthe (bhiksu) yang mengikuti acara thudong (jalan kaki) dari Thailand sangat menyejukkan.

Ke-32 banthe melakukan ritual perjalanan spiritual sejak 23 Maret lalu selama 68 hari ke Malaysia, Singapura, lalu selama di Indonesia berjalan kaki dari Jakarta menyusuri Pantura menuju Borobudur untuk mengikuti Perayaan Waisak.

Thudong adalah tradisi berjalan kaki dalam agama Budha yang sudah berlangsung lama  pada masa lalu saat belum tersedia vihara atau tempat tinggal bagi para bhiksu sehingga mereka berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan keyakinan mereka dan perdamaian.

Dengan kecepatan rata-rata 10 K per jam para bhiksu tersebut dengan semangat dan sampai hari terakhir tidak satu pun yang mengalami sakit, cedera atau tidak mampu melanjutkan jalan kaki sepanjang 2.600 Km ( dari Thailand, Malaysia, dan Jakarta – Borobudur).

Di Kertasemaya, Kab. Indramayu, rombongan bantei disambut hangat oleh ribuan warga yang menanti mereka di pinggir jalan sambil membawa minuman kemasan atau makanan ringan untuk disuguhkan pada mereka.

Begitu hangatnya sambutan masyarakat, tidak hanya warga yang beragama Budha, tetapi juga warga muslim dan Kristiani dengan tulus menyampaikan selamat datang pada tamu mereka tersebut.

Para banthei tersebut tak bisa menghindari rasa haru mereka atas sambutan masyarakat yang notabene sebagian besar adalah umat dari keyakinan agama yan berbeda.

“Seandainya kami boleh menangis, kami akan menangis sejadi-jadinya menyaksikan begitu luar biasa sambutan masyarakat pada kami, tai kami tidak bisa menangis, “ tutur Bhiksu Abhiko Mahatera saat berorasi di Kelenteng Liong Hok Bio, Magelang.

Perayaan Waisak 2567 BE bertemakan: “Aktualisasikan Ajaran Budha Dharma di dalam Kehidupan Sehari-hari” dan subtema: “Momentum Waisak Memperkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Perdamaian Dunia” yang dipusatkan di Candi Borobudur, Minggu (4/6) dihadiri ribuan umat Budha.

Perayaan Trisuci Waisak 2567 BE juga digelar di sejumlah tempat seperti di Wihara Body Gaya, Medan diikuti mayoritas etnis Tamil yang didatangkan oleh Belanda sebagai pekerja perkebunan pada tahun 1800-an dan sampai kini menetap di sana.

Semangat toleransi dan kerukunan umat beragama di tengah masyarakat Indonesia yang pluralis dan keyakinan yang berbeda-beda di bawah lambang Bhineka Tunggal Ika harus terus dikobarkan.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement