ANDAIKAN setiap pembohong kena sanksi hidung panjang seperti Pinokio, niscaya banyak orang berhidung Petruk gara-gara jadi youtuber. Sebab dewasa ini banyak youtuber yang tidak bertanggungjawab, yang demi uang tega membohongi masyarakat dengan konten-konten menyesatkan alias hoaks. Mereka berebut menyedot kocek 139 juta penggila medsos di Indonesia, tak peduli bahwa konten-kontennya telah meracuni publik.
Berita hoaks merupakan salah satu bentuk dampak negatif dari media sosial. Berita-berita yang ditayangkan cenderung memutarbalikkan fakta dengan cara mendesain ulang gambar, video, bahkan kata-kata dari sumber aslinya. Berita itu dilengkapi dengan keterangan berupa kalimat menyesatkan. Berita itu berpotensi menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan. Padahal sumber keabsahan pengunggahnya sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Sekarang ini, tanpa menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) atau AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia), orang sudah bisa menjadi wartawan, tanpa terikat oleh UU Pers No. 40 Tahun 1999 dan mematuhi kode etik jurnalistik. Mereka memproduksi berita baik tulisan maupun gambar, tanpa mempedulikan dampaknya bagi masyarakat. Bagi kalangan jurnalis sejati masalah SARA akan selalu dihindari, oleh mereka dilalap habis. Bodo amat kehebohan publik, jika berita bikinannya jadi firal, justru mereka mengantongi uang lebih banyak.
Gara-gara konten Youtube yang glogok sok (tanpa disaring), bahkan dibumbu micin biar lebih menghebohkan, banyak Youtuber yang terkena pelanggaran ITE (Informasi Transaksi Elektronik). Di Mabes Polri tercatat, tahun 2022 saja dari Januari hingga September polisi telah menindak 113 kasus berita bohong atau hoaks. Polda Metro Jaya 27 kasus, Polda Jatim sebanyak 14 kasus dan Polda Sumatra Utara menindak 11 kasus.
Berdasarkan laporan dari Hootsuite Digital, pada 2022, sebanyak 68,9 persen warga Indonesia aktif menggunakan media sosial. Kepentingannya beragam, untuk berkomunikasi, mencari informasi dan berita, hingga keperluan bisnis maupun politik. Video menjadi salah satu media yang paling banyak diakses. Pengguna YouTube di Indonesia sebanyak 139 juta. Hal tersebut menjadi potensi bagi sebagian orang untuk mengunggah berbagai konten dalam format video.
Tapi kebanyakan dari mereka ini bukan darah jurnalis, ketika dimudahkan oleh teknologi, jadi bertindak ngawur. Hal-hal yang tidak pantas untuk konsumsi publik diunggah juga. Bahkan mereka berani menciptakan berita bohong, hanya dengan cara mengedit sejumlah video, lalu diberi narasi yang menyesatkan, seakan itu berita baru yang benar adanya. Masyarakat awam pun heboh.
Judul-judulnya pun sering manipulatif. Penonton sangat tergoda untuk membuka atau mengklicknya. Tapi begitu disimak, sama sekali isinya tak sesuai judul. Youtuber begini kini ombyokan. Mereka youtuber-youtuber muda petualang, yang tak mau berfikir dampaknya untuk masyarakat hari ini dan hari-hari ke depan, karena yang dikejar hanya cuan (uang).
Gara-gara ulah tak bertanggungjawab penggiat medsos pada umumnya dan youtuber pada khususnya, kepercayaan publik tergradasi tinggal 40 persen terhadap media online dan media cetak, termasuk juga pada berita-berita medsos. Jadi seperti dongeng penggembala Sariman, sekali dia bikin kabar bohong soal macan yang mau menerkam dirinya, begitu benar-benar Sariman mau diterkam macan, penduduk sudah tak peduli.
Tapi media online dan cetakpun juga demen terbawa arus. Terhadap berita firal di medsos melu payu (ikut-ikutan) memberitakan. Padahal alamat atau lokasinya sering tak begitu jelas, hanya menyebut kota kabupaten. Dan ini sudah menjadi gejala umum media di era gombalisasi ini. Tanpa cek dulu beritanya, minimal diperkaya informasinya sehingga lebih terjamin akurasinya, asal bersumber Kapolres langsung dilalap habis. Istilah Menpen Harmoko dulu, ini jenis jurnalis memamah biak.
Ironisnya, meski polisi sudah mengandangi sejumlah youtuber abal-abal, yang belum dijangkau polisi masih terus memproduksi konten-konten bohong. Bahkan ranah Istana pun mereka buat mainan. Jangan-jangan polisi sudah kuwalahan, atau jika semua pencipta berita hoaks ditangkap, penjara sudah tak muat menampungnya? Semoga saja polisi tak sampai pada narasi keputus-asaan, “Biarkan saja, nanti kalau capek kan berhenti sendiri.”
Penulis sampai capek melayani WA teman-teman lama di daerah. Asal kirim video ada pengantar, “Bener nggak ini Mas?” Saya hanya bisa menjawab, cek beritanya di media online yang terverifikasi Dewan Pers. Jika Detik.com atau Kompas.com tak memuatnya, berarti itu bohong. Sebab media online yang diawaki wartawan sejati, takkan ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks. Bahkan mereka sering “cek fakta” untuk mengcounter berita ngawur tersebut.
Meski begitu banyak youtuber abal-abal, tapi masih banyak juga chanel Youtube yang bagus dan menambah wawasan kita, seperti podcastnya Dedy Corbuzier, Akbar Faisal Uncensored, Helmy Yahya Bicara. Kalau yang ringan-ringan bisa tonton Pak Ndul ahlinya ahli, atau Sinau Hurip Adiputra dari Kudus. Meski enteng tapi berisi, bisa mengasah kepekaan sosial masyarakat. (Cantrik Metaram)





