
NASIB tragis dialami para pengungsi Suriah yang berusaha keluar dari ancaman maut di tengah eskalasi perang di wilayah barat laut negeri itu, Idlib dan Aleppo antara pasukan rezim pemerintah Presiden Bashar al-Assad melawan pemberontak.
Sekitar 350 ribu orang tewas, tidak terhitung yang luka-luka dalam perang saudara berkepanjangan sejak wafatnya diktator Hafez al-Assad, ayah Bashar pada 2011.
Sejak itu, Suriah pun menempati rekor tertinggi jumlah pengungsi di dunia (sekitar 6,7 juta) tersebar di sejumlah negara, paling banyak di Turki (3,6 juta), disusul di Lebanon (949-ribu), Yordania (700-ribu), di negara-negara Uni Eropa (UE), terbanyak di Jerman (593-ribu).
Eskalasi pertempuran memperebutkan Idlib dan Aleppo antara pasukan loyalis Bashar yang didukung Rusia dan Iran melawan pemberontak didukung pasukan Turki sejak Desember lalu memicu peningkatan jumlah pengungsi sekitar 900-ribu orang lagi.
Di tengah udara membeku di musim dingin sepanjang wilayah menuju Turki atau Yunani, para pengungsi berteduh di sejumlah bangunan rusak yang masih berdiri atau mendirikan tenda seadanya.
Turki yang sudah kewalahan karena kebanjiran pengungsi, begitu pula tetangganya, Yunani menolak kehadiran pengungsi baru dengan membangun pagar-pagar di tapal batas yang dijaga ketat tentara.
Pemerintah Turki sendiri saat ini sedang merundingkan cara-cara penanganan pengungsi dengan mitranya sesama anggota NATO dan juga negara-negara UE.
Turki menghendaki agar tetangganya, Yunani membuka pintu pada para pengungsi yang hendak menuju Eropa, sebaliknya, UE meminta Turki bertanggung jawab pada para pengungsi yang ada di tapal batas negaranya sebelum perundingan dilakukan.
Alasannya, UE tidak ingin terjadi lagi eksodus seperti pada 2015 dimana sekitar satu juta pengungsi dari wilayah TimurTengah dan Asia membanjiri negeri mereka.
Jumlah pengungsi ke UE bisa ditekan setelah UE menjanjikan sekitar enam milyar Euro, namun kemudian Turki berang dan mengancam UE akan membuka pintu-pintu perbatasan di negerinya dan Yunani sehingga para pengungsi bisa mengalir ke UE, karena hanya separuh dana yang dijanjikan itu direalisasikan.
Dalam perundingan terakhir antara Presiden Dewan UU Charles Michel, Kepala Kebijakan LN UE Joseph Borrel dan Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan, UA menjanjikan bantuan 192 juta dollar AS pada Turki untuk penanganan pengungsi.
Bisa dibayangkan rumitnya persoalan pengungsi, berpangku tangan saja berati mengingkari HAM, sebaliknya, ikut cawe-cawe, berarti juga mengundang berbagai persoalan, a.l. berkurangnya kesejahteraan rakyat, belum lagi dengan munculnya persoalan keamanan dan sosial.
Namun lebih buruk lagi, nasib yang menimpa pengungsi, jika tetap bertahan di lokasi konflik, nyawa mereka terancam, dan yang masih hidup, masa depan mereka gelap, menahan lapar dan menggigil diterpa dinginnya udara.
Apa pun alasannya, berbagi duka, membuka pintu dan mengulurkantangan bagi orang-orang yang sedang terkena musibah, dalam hal ini para pengungsi, adalah ahlak dan  perbuatan mulia. (AP/Reuters/ns)




