
JAKARTA – KBKNEWS.id – JAKARTA – Seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS) mengatakan, rancangan kesepakatan damai dengan Iran akan mencakup penghancuran uranium yang telah diperkaya di lokasi dan membawa material itu keluar dari Iran.
Pejabat senior yang berbicara kepada wartawan melalui sambungan telepon seperti dilaporkan CBS News, Jumat (12/6) menyebut, isi kesepakatan sementara tersebut sebenarnya sederhana.
Menurut pejabat yang berbicara dengan syarat anonim tersebut, poin pertama dalam kesepakatan itu adalah membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mencabut blokade.
Selat Hormuz menjadi jalur penting tanker pengangkut 20 persen minyak mentah dan gas alam dunia.
Gangguan transit di selat sempit dengan lebar 30 sampai 70 Km itu telah menekan pasokan energi global, mendorong kenaikan harga BBM, serta membuat harga makanan dan kebutuhan pokok di luar kawasan melonjak.
Poin kedua, kesepakatan akan mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran. Poin ketiga, AS akan mendapatkan material nuklir yang telah diperkaya, lalu material tersebut “dihancurkan di lokasi dan dibawa keluar Iran, ” kata pejabat senior pemerintahan tersebut.
Dia menambahkan, kesepakatan sementara itu juga menjamin perdamaian jangka panjang di kawasan, sehingga Iran tidak lagi mendanai kekerasan.
“Pada akhirnya, kesepakatan ini memiliki rezim inspeksi yang memastikan bahwa ini merupakan komitmen jangka panjang dan dapat ditegakkan dalam jangka panjang,” ujar pejabat itu.
Apabila Iran mematuhi kesepakatan, lanjutnya, Teheran akan dibebaskan dari banyak tekanan ekonomi yang telah dikenakan selama bertahun-tahun.
Dengan begitu, Iran dapat kembali terintegrasi ke dalam perekonomian dunia. Namun, pejabat itu menegaskan, manfaat tersebut hanya akan berlaku jika Iran benar-benar memenuhi kesepakatan.
Menurut pejabat tersebut, masih ada kelompok garis keras Iran yang ingin menggagalkan kesepakatan itu, meski demikian, dia menyebut banyak pemimpin Iran ingin mempertahankan kesepakatan tersebut.
“Saya merasa sangat baik dengan kesepakatan ini. Tetapi mari kita lihat. Kita belum benar-benar sampai di garis akhir,” paparnya seraya menambahkan, ” Perdamaian belum pernah sedekat ini,”.
Kesepakatan di depan mata
Senada dengan Pakistan, Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa potensi kesepakatan dengan AS kini sudah berada di depan mata.
Melalui unggahan di media sosial X pada Jumat, Araghchi meminta semua pihak, khususnya media, untuk tidak berspekulasi mengenai isi kesepakatan tersebut.
“Nota Kesepahaman Islamabad belum pernah sedekat ini (untuk terwujud). Sembari menunggu finalisasinya, media harus menahan diri dari berspekulasi mengenai isinya,” kata Araghchi.
“Sejalan dengan pendekatan kami yang bertanggung jawab dan transparan, semua rincian akan dibagikan kepada publik pada waktunya,” sambungnya.
Prospek perdamaian AS dan Iran terus mengalami pasang surut sejak pecah konflik ditandai serangan AS dan Israel pada 28 Feb. , lalu gencatan senjat 8 sampai 22 April, kemudian diperpanjang sepihak oleh Presiden Trump, lalu diteken MoU gencatan senjata selama 60 hari pada 28 Mei lalu.
Di tengah gencatan senjata tersebut kedua belah pihak saling ancam, bahkan saling serang. Iran melancarkan serangan rudal balistik ke fasilitas AS di negara-negara Teluk dan Israel sampai Jumat lalu (12/6), sebalknya AS dan Israel juga terus membombardir wilayah Iran.
Jadi, jika hari ini gaung perdamaian lebih nyaring terdengar, belum tentu juga perdamaian sebenarnya bakal segera terwujud. (CBS/ns)




