WALHASIL tanpa persyaratan ini itu, tanpa harus melawan kotak kosong, Sucitra kemudian dinobatkan sebagai raja baru di Pancala. Tapi dia sangat tahu diri, dan tak pernah melupakan sejarah. Maka Gandamana ditawari jabatan untuk menjadi Komisaris BUMN di Pancala, tapi tidak mau dengan alasan pantang makan gaji buta. Dia baru bersedia ketika tawaran diturunkan dari Komisaris BUMN menjadi Dewan Penasihat kerajaan saja. Maksud Prabu Drupada, jabatan kehormatan untuk adik iparnya ini lebih lumayan ketimbang seperti Amien Rais tidak memproleh posisi apa-apa di PAN.
Gandamana mau menerima jabatan ini, karena nyaris tanpa resiko dan tanggung-jawab yang berat, karena juga tanpa gaji memang. Jika ada fasilitas, paling-paling dibebaskan dari pembayaran PBB, rekening listrik, tambahan pulsa paketan sebulan Rp 250.000,- Bagi Gondomono, ini sudah bisa ngomong sampai bibir ndower.
“Maaf ya dimas Gandamana, karena sampeyan tak mau jadi Kepala Lembaga dan Komisaris BUMN, posisi yang pantas untukmu menjadi Dewan Penasihat kerajaan saja.” Kata raja baru Pancala, Prabu Drupada Raden Ngabehi Loring Pasar.
“Oh, nggak papa. Wong aku juga nggak pengin ini itu lagi. Bagiku yang penting sekarang, bisa mangan enak, turu kepenak, ngising ya kepenak.” Jawab Gandamana sangat sederhana.
Demikianlah, selama menjadi raja di Pancala Prabu Drupada dalam perkawinannya melawan Dewi Gandawati telah melahirkan tiga putra, yakni Drupadi, Srikandi dan Trustajumena. Ketika telah tumbuh dewasa, kecantikan si sulung sungguh luar biasa, tak kalah dengan bintang sinetron seribu episode. Karenanya banyak yang naksir untuk dijadikan permaisuri. Tanpa ada pendaftaran, tanpa ada unggahan status, tahu-tahu peminat Dewi Drupadi sudah 50 orang, dari kalangan adipati, tumenggung sampai penewu dan Pak RW.
Menolak serta merta tidak mungkin, bisa menimbulkan konflik horizontal. Tahu sendiri kan karakter mayoritas wayang, jika lamaran ditolak malah ngajak berantem. Jerokna jagangmu, kandelna betengmu (perdalam parit dan tebalkan benteng), tak ayal lagi akan takbruki batang sayuta (saya tatuh sejuta mayat). Kan mengerikan itu, karena sebelumnya di Pancala sudah ribuan nyawa melayang ditelan Corona.
“Apakah harus kita seleksi lewat persyaratan ada laporan LHKPN dari KPK” tanya Prabu Drupada.
“Nggak efektip itu. Jika hartanya mistyerius, dia akan bilang itu dana hibah. Mending buka sayembara perang, siapa yang bisa mengalahkan Gandamana, boleh persunting Drupadi.”
Kaget juga Prabu Drupada, sampai sebegitunya adik iparnya membela ponakan, padahal Gandamana bukan keluarga Ninik-Mamak dari tanah Minang. Tapi jika seorang Dewan Penasihat sampai seberani itu, bahasa sekarang: bukan kapasitasnya. Maka Prabu Drupada mencari akal, Gandamana dinaikkan pangkatnya menjadi Patih Njero. Dengan posisi baru tersebut dijamin takkan dikritisi pengamat politik dan LSM.
Gandamana yang sekarang menjadi Patih Pancala, memang dikenal akan kesaktiannya. Dia memiliki ajian Wungkal Bener dan Bandung Bondowoso, di mana kekuatannya melebihi 10 forklift ketika digunakan. Pukulannya kuat luar biasa melebihi drop hammer. Maka jika mau, sekali pukul Jembatan Suramadu (Surabaya) atau Kreteg Mbacem (Sukoharjo-Solo) langsung ndlosor ambruk.
“Terima kasih Dimas Gandamana, Anda siap mati demi kehormatan negeri Pancala.”
“Nggak usah berterima kasih, kangmas Prabu. Sudah kewjiban kita punya kesadaran bela negara. Ini dipraktekkan langsung, bukan hanya teori tapi makan banyak anggaran.” Jawaban Gandamana langsung makjleb.
Aturan atau kebijakan baru dari Pancala itu segera diumumkan lewat konpres dan website Pancala dotcom. Hasilnya efektip, pelamar langsung menyusut. Dari yang tadinya 50 peserta tinggal 5 orang. Mereka adalah para manggala praja, termasuk juga seorang adipati yang pernah dipanggil KPK. Paling menarik, ada juga nama Aria Bima, bukan politisi PDIP tapi dari keluarga Pandawa Lima.
Lho kenapa Aria Bima mau ikut juga? Bukankah dia sudah memiliki tiga bini, Nagagini, Arimbi dan Urangayu. Apa mau menyempurnakan menjadi 4 sekalian agar sesuai dengan peluang yang diberikan Qur’an dalam surat Anisa ayat 3? Bukan, dia ikut-ikutan melamar bukan untuk dirinya, melainkan demi persembahan pada Puntadewa sang kakak yang sampai sekarang masih ngejomblo.
“Jadi sampeyan mendaftar bukan untuk dirinya sendiri?” kata petugas panitia.
“Ya enggaklah, bini tiga saja sudah kerepotan, masak mau nambah lagi,” jawab Aria Bima sambil mendesis.
Demikianlah, hari pertandingan sayembara Gandamana itu langsung diputuskan hari dan tanggalnya. Mengingat masih dalam suasana Covid-19, baik peserta, panitia maupun penonton semua mengikuti protokol kesehatan. Muka ditutup masker jidat ditempeli Test Rapid. Yang bersuhu 36-37 drajat boleh masuk arena di alun-alun Pancala, sementara yang 45 drajat langsung dibawa ke RS Jiwa.
Sebagaimana pertandingan tinju laiknya, para peserta harus timbang badan dulu. Rata-rata bisa masuk kategori kelas walter, karena bobot minimalnya 67 Kg. Sebetulnya Aria Bima tak memenuhi syarat karena dia sudah berkategori kelas berat (90 Kg). Tapi karena Gandamana bilang siapa takut, akhirnya pertandingan bisa digelar. Ini oplosan kelas, gabungan antara kelas walter dan kelas berat.
“Saudara-saudara sekalian. Resiko pertandingan memperebutkan Dewi Drupadi ini adalah mati. Jika takut mati, silakan mundur dengan ganti rugi biaya akomodasi Rp 1 juta.” Kata panitia.
“Lanjuttttt….., kematian adalah resiko perjuangan.” Begitu kata para peserta dengan gagah berani dan sangat pede.
Pertandingan tinju, tepatnya pertempuran jago Pancala Gandamana lawan para kontestan peminat Drupadi berlangsung seru. Adipati Sarayuda dengan nomer undian 3, langsung maju menghadapi Patih Gandamana, tapi baru dibanting sekali langsung stip. Nomer undian 2 Tumenggung Wanalela idem ditto, sekali banting langsung gegar otak, muntah-muntah. Giliran nomer undian 4, majulah Aria Bima. Penonton bersuit-suit sambil tepuk tangan.
Patih Gandamana-Aria Bima segera berantem adu siasat menjatuhkan lawan. Lihat posturnya, 90 lawan 67 Kg penonton pastikan Aria Bima akan jadi pemenang. Tapi tiba-tiba justru Bima yang nggak bisa bergerak, dipiting Gandamana sama sekali tak bergerak. Aria Bima nyaris tak bisa bernapas karena jepitan di leher semakin menguat dengan ajian Wungkal Bener Gandamana.
“Mati dah gua hari ini,” batin Aria Bima.
“Makanya jangan nyombong, lu menang badan gede doang.” Sindir Gandamana.
Tiba-tiba Aria Bima melihat perut Gandamana tanpa pelindung, mlenthu (nonjol) bak orang pulang macul makan nasi habis 5 piring. Langsung saja perut yang begitu menantang itu disodetnya pakai kuku Pancanaka miliknya. Sekali sodet usus langsung mbrojol keluar, dan jepitan leher Aria Bima mengendur dan terlepas. Patih Gandamana terjengkang menghadapi sakratul maut.
“Aku bangga ponakanku akan jadi permaisuri raja Ngamarta, aku nanti hanya bisa melihatnya dari swarga pangrantunan. Bima marilah mendekat, ini ajian Wungkal Bener dan Bandung Bondowoso buat kamu saja. Gua di sana nggak butuh lagi,” seru Patih Gandamana.
“Bener nih? Terima kasih kalau begitu…….” Jawab Aria Bima.
Bima mendekat dan keduanya bersalaman agak lama, ternyata itu sedang transver data kedua ajian andalan. Begitu selesai, Patih Gandamana meninggal atau wafat menurut istilah wartawan muda sekarang. Bima pun dielu-elukan pendukungnya, dan sebentar lagi Puntadewa tak lagi menjadi wayang jomblo.
Paling bergembira adalah kontestan peserta undian nomer 1 dan 5, mereka kalah terhormat karena gagal mendapatkan Drupadi tapi tanpa perlu kehilangan nyawa. Ibarat kata dia menang WO, karena lawannya sudah dikalahkan oleh jago yang lain. (Ki Guna Watoncarita -Tamat)



