Keanggotaan Palestina di PBB makin Kuat

143 negara termasuk RI mendukung keanggotaan Palestina di PBB dalam sidng MU PBB di MB PBB New York Jumat (10/5) lalu. sembilan menolak dan 25 abstain

JIKA di medan tempur, Palestina tidak berdaya menghadapi mesin perang raksasa Israel yang mencaplok wilayahnya  didukung Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, posisi politiknya di PBB makin menguat.

RI termasuk dalam salah satu dari 77 negara sponsor di Majelis Umum PBB bagi keanggotaan Palestina di badan perserikatan bangsa bangsa tersebut.

Dalam pemungutan suara yang digelar di Markas PBB di New York, Jumat (10/5) resolusi tersebut didukung 143 negara, sembilan negara menolak (Amerika Serikat, Argentina, Republik Ceko, Hongaria, Israel, Mikronesia, Nauru, Papua Nugini dan Palau) dan 25 negara lainnya abstain.

Menlu RI Retno menyebutkan, hasil yang dicapai resolusi PBB itu merupakan sebuah terobosan bagi kesetaraan hak bangsa Palestina yang akan memberikan visibilitas politik yang lebih tinggi atas isu dan peran Palestina di PBB.

Resolusi MU PBB itu sendiri pada intinya memberikan hak istimewa bagi bansag Palestina sama dengan status keanggotaan penuh kecuali hak voting dan merupakan pertama kalinya Negara berstatus pengamat diberi hak dan kewenangan khusus mendekati anggota PBB lainnya.

Palestina sebelumnya telah menjadi negara berstatus pengamat sejak 2012 sehingga dengan status ini hanya bisa menyampaikan pandangan, tetapi tidak bisa dipilih atau memilih dalam berbagai persidangan atau proses di PBB dan badan-badan PBB lainnya.

Waau tidak mengikat, resolusi MU PBB tetap dinilai penting alam upaya Palestina untuk menjadi anggta penuh PBB dan paling tidak menaikkan derajat hak Palestina mnjadi anggota dan pengesahan resolusi membuka peluang lebh luas bagi Palestina bergabung di berbagai badan dan kantor di bawah PBB.

Sejumlah hak istimewa yang diberikan pada Palestina a.l. dapat duduk bersama negara-negara anggota PBB, mengajukan resolusi dan menjai sponsor resolusi, dipilih menjadi pemimpin Sidang Umum PBB dan berbagai komite di bawahnya.

Sebaliknya, di lapangan, pasukan Israel (IDF) terus membombardir wilayah Rafah, Gaza selatan, Palestina yang diyakininya menjadi tempat persembunyian milisi Hamas yang berbaur dengan lebih satu juta pengungsi.

Mengabaikan seruan int’l termasuk dari pendukung utamanya, AS, Israel agaknya ngotot untuk melancarkan serbuan pasukan daratnya ke Rafah. Sejak konflik Hamas – Israel yang berlangsung sejak 7 Okt. sudah sekitar 35.900 warga Palestina tewas, belum termasuk 78.000 orang yang mengalami luka-luka dan mnciptakan ratusan ribu pengungsi.

Perjalanan bangsa Palestina untuk merdeka, tampaknya masih jauh dan memerlukan perjuangan panjang dan melelahkan. (AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here