
DI INDONESIA pada awal 2022 saja tercatat 191 juta pengguna medsos yang jumlahnya terus bertambah, menimbulkan dampak dan negatif, baik terhadap otak maupun akibat kontennya.
Peneliti Universitas of North Caroline, AS mengungkapkan, kebiasaan membuka medsos yang dilakukan para remaja dikaitkan dengan perubahan kepekaan otak terhadap penghargaan atau hukuman sosial dari orang lain. (Kompas, 6/1).
Hasil temuan tentang perubahan otak tersebut diperoleh melalui penggunaan alat pemindai otak yakni pencitraan resonansi magnetik fungsional (MRF).
“Masa remaja adalah salah satu periode terpenting perkembangan otak yang mengalami banyak perubahan dibandingkan pada masa bayi, “ kata salah seorang peneliti yang juga Profesor Psikologi dan Ilmu Syaraf, Eva Telzer.
Saat remaja, tuturnya, terjadi pertumbuhan otak yang sangat dramatis, khususnya pada bagian otak yang merespons penghargaan sosial, padahal seharusnya, penghargaan sosial dalam interaksi sehari-hari juga bisa berupa umpan balik saat bertatap muka langsung.
Para peneliti tersebut juga melihat, perubahan otak pada remaja bisa mempromosikan perilaku medsos yang kampulsif atau adiktif walau di sisi lain juga mencerminkan adaptasi yang membantu remaja menavigasi interaksi di dunia digital yang makin meningkat.
Hasil penelitian lain mengungkapkan, sejumlah remaja hampir selalu menggunakan ponsel untuk membuka medsos mereka paling tidak satu jam.
Penelitian yang melibatkan 169 murid sekolah kelas VI dan VII di tiga Sekolah Menengah Negeri di pedesaan di Carolina Utara itu menyimpulkan, jika otak berdaptasi sehingga memungkinkan para remaja itu menavigasi dan merespons dunia mereka, adalah hal baik.
Sebaliknya, jika ternyata membuat mereka menjadi kompulsif atau ketagihan serta melenyapkan kemampuan mereka berinteraksi dalam dunia sosial, membuat hal itu berpotensi menjadi maladaptif.
Untuk itu, disarankan agar para orang tua membantu anak remaja dengan memupuk aktivitas yang membawa keriaan diluar kegiatan berselancar di medsos, misalnya dengan berolahraga, seni atau menjadi relawan.
Dampak Negatif Medsos
Dampak negatif lain medsos, misalnya menjauhkan orang-orang dekat dan juga menurunkan interaksi tatap muka, kemampuan anak berbaur dengan masyarakat, pertumbuhan fisik terganggu, memicu kejahatan cyber da mengakibatkan susah tidur (insomnia).
Khusus bagi pengguna di Indonesia, persoalan penting adalah mengedukasi para pengguna medsos agar lebih beradab, jika terlibat dialog, mencerahkan, tidak berujung sumpah-serapah jika berbeda pendapat atau berseberangan dengan pandangan pemosting lain.
Hasil survei Microsof melalui Digital Civility Indeks (DCI 2021 lalu menampatkan Indonesia pada ranking ke-29 dari 32 negara dan terendah di lingkup negara-negara anggota ASEAN.
Walau dalam pasal-pasal UU ITE sudah disebutkan cara bermedsos yang beretika seperti menggunakan bahasa yang baik, menghindari isu SARA, meng”crosscheck” kebenaran berita, narasi memuat ujaran kebencian, hoaks, adu domba dan “buli-membuli” masih marak saja.
Bermedsos secara beradab pun bangsa kita harus belajar terus termasuk di tahun politik ini dimana polarisasi antar pendukung kontestan bisa memicu postingan memuat lontaran narasi saling hujat.




