Jepang Terus Perkuat Militernya

Walau kecil dalam jumlah, Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) dengan 250-ribu personil. memiliki persenjataan cangih dan mematikan berkat dukungan AS dan industri dalam negeri yang kuat. Miilter Jepang terus diperkuat dan dimordinisir untuk menghadapi potensi ancaman dari China dan Korut.

WALAU di bawah nama Pasukan Bela Diri (Japan Self Defence Forces – JSDF), Jepang beraliansi dengan mitra strategisnya, Amerika Serikat terus memperkuat militernya dari ancaman China dan Korea Utara.

Dalam konsultasi AS dan Jepang di Washington, pekan lalu (11/1), menlu AS Anthoni Blinken bersma mitranya, Menlu Jepang Yahashi Yoshimasa mengonsolidasikan kerjasama dan memutakhirkan strategi bersama untuk mengantisipasi kebangkitan militer China dan Korut.

Bagi AS dan Jepang, tentara China yang saat ini berkekuatan 3,1 juta personil, AL-nya dengan 700-an kapal perang termasuk dua kapal induk, AD 5.200 tank dan AU dengan  3.285 pesawat serta Korut yang terus melakukan uji coba rudal balistik dan nuklir merupakan potensi ancaman nyata.

Untuk menghadapinya, Jepang terpaksa merogoh kocek anggaran belanja militernya dengan meningkatkan menjadi sekitar 49,9 miliar dollar AS (sekitar Rp773,4 triliun pada  2023, dibandingkan AS 858 miliar dollar AS (Rp13.000 triliun) pada ranking ke-1 global.

Tidak diperoleh data tentang anggaran militer China 2023, namun  pada 2022 menempati rangking ke-2 setelah AS dengan anggaran militer sebanyak 230 miliar (Rp3.365 miliar), sementara Jepang pada urutan ke delapan.

Sesuai strategi baru untuk menciptakan kawasan Indo Pasifik yang bebas dan terbuka, aliansi AS dan Jepang akan mempercepat upaya pengembangan peran dn misi aliansi serta memanfaatkan kemampuan timbal balik guna menghadapi tantangan kini dan ke depan.

Keduanya menganggap, China merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap tatanan int’l untuk kepentingan mereka sendiri menggunakan kekuatan politik, militer, ekonomi dan teknologi.

“Ini tantangan strategis yang dihadapi kawasan Indo Pasiik, “ demikian disebutkan dalam pertemuan tertulis Menlu AS dan Jepang.

Canggih

JSDF didukung sekitar 250-ribu personil, walau kecil dibandingkan  AS, Rusia, China dan India namun dilengkapi dengan alutsista canggih, baik buatan AS mau pun industri di dalam negerinya.

Matra Darat (JGDSF) yang berkekuatan 150-ribu personil a.l didukung 1.000 tank utama (MBT) termasuk buatan sendiri yang bisa disetarakan dengan tank-tank buatan negara Barat, 5.500 kendaraan lapis baja, 214 artileri swagerak dan 480 meriam tarik serta 99 aneka peluncur rudal.

Sementara AU Jepang (JAFSDF) mengoperasikan 740 aneka pesawat, 330 diantaranya pesawat tempur termasuk 140 unit generasi ke-5 siluman F-35 Super Lightning, sejumlah F15 seri J/DJ Eagle (keduanya buatan AS) dan F-2 buatan patungan Mitsubishi dan Lokheed Martin, AS dan puluhan heli serang UH-60 Black Hawk dan pengangkut berat CH-47 Chinook.

Sedangkan AL Jepang (JNSDF) memiliki 154 kpal perang, dua diantaranya pengangkut helikopter, 36 perusak, 10 fregat 30 penyapu ranjau dan 22 kapal selam.

Perlombaan persenjataan tidak bisa dihindari, karena tiap negara menganut prinsip: “Si Vis Pacem Parabelum” atau  “Siapa yang cinta damai harus siap berperang”.

Sementara di tengah pergulatan raksasa di kawasan Indo Pasifik antara AS dan mitra-mitranya   melawan kebangkitan militer China, RI harus terus memperkuat diri untuk mempertahankan kedaulatannya dari potensi ancaman dari mana saja (AP/Reuters).