Usia Warga Kota Lebih Pendek 4,3 tahun Gegara Polusi

Usia penduduk di 18 kota di Indonesia berkurang 4,3 tahun akibat polusi udara. Depok paling tinggi 6,6 tahun.

POLUSI udara yang mendera penduduk ibukota dan kota-kota besar di Indonesia dari tahun ke tahun, tidak saja menimbulkan berbagai penyakit terutama terkait pernafasan, juga memperpendek usia mereka rata-rata 4,3 tahun.

Hasil riset Energy Policy Institute, Chicago University, AS yang dikutip Kompas (22/9) menyebutkan, setiap peningkatatan polutan PM2,5 sebesar 10 mikrogram/meter kubik (ug/m3) di atas ambang batas kesehatan, berpotensi mengurangi harapan hidup 0,98 tahun.

Data PM2.5 sendiri diperoleh dari Socisoeconomic Data and Application Center (SEDAC) Badan Ruang Angkasa AS (NASA) rentang 1998 – 2019 yang lalu dikombinasikan dengan Global Human Settlement Layer (GHSL) Uni Eropa 2020.

Dari rangkuman kedua data tersebut bisa diketahui jumlah penduduk di kota-kota metropolitan di Indonesia berdasarkan rata-rata paparan PM2,5 yang digunakan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas untuk menemukan kota-kota besar di Indonesia yang pouisi udaranya dapat mengurangi harapan hidup paling besar.

Dari 18 kota dengan harapan hidup berkurang akibat polusi udara, Depok menempati urutan tertinggi (6,51 tahun), disusul Bogor (6,56 tahun), Bandung (6,31 tahun), disusul seluruh kotamadya Jakarta, Bekasi dan Tangerang (kota Tangerang, Kab. Tangeran dan Tangsel) antara (4,61 tahun sampai 5,88 tahun), lalu Semarang, Batam, Palembang, Surabaya, Medan, Lampung dan Makasar (antara 0,71 sampai 3,23 tahun). Jika dirata-rata, usia penduduk di 18 kota tersebut berkurang 4,3 tahun akiata paolusi udara.

Di 18 kota tersebut, Tim Kompas menemukan korelasi positif (r = 0,5) antara prevalensi penyakit pernafasan (infeksi saluran pernafasan akut, TBC, pneumonia dan asma dengan rata-rata angka PM2.5 selama 22 tahun (1998 – 2019).

Korelasi tersebut menunjukkan, kasus penyakit pernafasan meningkat seiring dengan naiknya papara polusi udara di kota-kota tersebut.

Pada 2019 tercatat lonjakan angka PM2,5 sebesar 16 persen bersamaan dengan kenaikan jumlah kunjungan pasien yang mengalami gangguan pernafasan  sebesar 10,9 persen yakni dari 1,2 juta pasien rawat inap dan rawat jalan menjadi 1,33 juta atau naik 133.000 orang.

Kemenkes juga mencatat, penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di wilayah Jaboderabek paa Juli lalu 285.623 orang atau naik 38,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

Besarnya risiko kesehatan dan harapan hidup penduduk akibat polusi udara harus dimitigasi secara serius baik dengan penanganan jangka pendek mau pun jangka penjang, mulai dari penataan transportasi, peruntukan lahan dan industri yang ramah lingkungan.

 

 

 

 

Advertisement