
PERLU bukti apa lagi bagi para pemangku kepentingan di Indonesia untuk lebih proaktif dan serius melakukan tindakan mitigasi guna menekan potensi risiko bencana, mengingat sepanjang 2018 saja tercatat 11.577 kali terjangan gempa.
Pusat Gempa Nasional BMKG mencatat, intensitas gempa selama 2018 jauh lebih besar dibandingkan 6.929 kali pada tahun lalu dan hampir empat kali lipat dibandingkan pada 2013.
Sebagian gempa yang terjadi pada 2018 bersumber dari kawasan dangkal atau di bawah 60 Km (9.585 kali) disusul gempa dari kawasan menengah (61 – 300 Km) dan 1.836 kali dan dari kawasan dalam (di atas 300 Km) 136 kali.
Sejumlah gempa yang menimbulkan kerusakan a.l. Gempa berkekuatan M 6,1 di Lebak, Banten (23/1) menewaskan satu orang dan merusak 1.223 unit rumah, gempa berskala M 6,3 di Geumpang, Aceh Barat (8 /2) yang merusak 11 rumah dan satu mesjid, gempa M 4,8 di Sumenep, Madura yang merusak 77 rumah dan menyebabkan enam orang terluka.
Berikutnya gempa M 4,4 di Lebak (7/7) merusak 28 unit rumah, di Muara Teweh gempa berkekuatan M 4,2 merusak beberapa rumah, gempa M 5,2 di Kepulauan Mentawai (20/7) merusak 12 rumah, kemudian gempa M 5,3 di Padang Panjang (21/7).
Gempa dengan korban cukup besar terjadi di Lombok (05/8) menewaskan 555 orang lebih dan merusak ratusan bangunan, kemudian gempa di Sulawesi Tengah (28/9) disusul tsunami dan likuifaksi yang menewaskan sekitar 2.100 dan merusak 5.000-an bangunan rumah, kemudian gempa di Manokwari 28 Desember.
Erupsi anak Krakatau pada 21 Desember yang melongsorkan dinding gunung tersebut kemudian memicu gelombang laut di Banten dan Lampung Selatan menyebabkan 429 korban tewas, 1.485 luka-luka, 154 hilang dan 16.802 orang mengungsi. Korban harta benda a.l. 882 rumah, 73 hotel dan penginapan, 60 pusat kuliner, 434 perahu atau kapal nelayan, 24 mobil dan 41 sepeda motor rusak.
Sebagai penutup 2018, gempa tektonik terjadi di Manokwari (28/12), namun sejauh ini belum ditemukan adanya korban.
Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia, dilingkari oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.
Kondisi geografis menjadikan Indonesia sebagai wilayah rawan erupsi gunung api, gempa, dan tsunami, sekaligus juga menjadikannya wilayah subur dan kaya keragaman sumberdaya hayati.
Debu akibat letusan gunung berapi menyuburkan tanah sehingga masyarakat menggantungkan nasibnya dengan bercocok tanam di area sekitar gunung berapi dan selain itu . Jalur Cincin Api juga menghasilkan energi panas bumi yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga alternatif.
Tunggu apalagi! Seluruh dana dan daya harus disiapkan untuk segera melakukan mitigasi bencana agar jumlah korban jiwa dan harta bisa ditekan sekecil mungkin jika terjadi bencana alam yang di luar jangkauan manusia untuk menangkalnya.
Wilayah Indonesia berada di jalur gempa teraktif dunia, dilingkari Cincin Api Pasifik dan di atas tiga tumbukan lempeng benua: Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara dan Pasifik dari timur.
Letak geografis ini di menjadikan negeri ini sebagai wilayah rawan erupsi gunung api, gempa dan tsunami, sekaligus juga wilayah subur dan kaya dengan keanekaragaman hayati.
Debu akibat letusan gunung berapi menyuburkan tanah sehingga penduduk betah dan menggantungkan nafkah dengan bertani . Jalur Cincin Api juga menghasilkan energi panas bumi yang dapat dmanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.




