spot_img

2024: “PR” Sejumlah Konflik Kawasan

SEJUMLAH  konflik kawasan yang masih berlangsung atau bereskalasi pada 2023 seperti Perang antara Hamas dan Israel, Rusia vs Ukraina, krisis politik di Myanmar, Taiwan dan China serta sengketa di Laut China Selatan  menjadi setumpuk persoalan global yang perlu dicarikan solusinya pada  2024.

Isu Palestina yang tanpa solusi sejak kemerdekaan Israel pada 1948 meletup lagi setelah fraksi militer Palestina, Hamas meluncurkan ribuan roket dan melakukan serangan mendadak ke wilayah Israel selatan 7 Oktober lalu, menewaskan 1.200 tentara dan warga Israel dan menyandera 240 warga sipil.

Israel selang sehari kemudian melakukan serangan balasan yang jauh lebih brutal, membombardir seluruh Jalur Gaza yang dihuni warga Palestina sampai hari ini, menyebabkan 20.000 lebih warga Gaza tewas, 50.000 lagi luka-luka, ribuan kehilangan tempat tinggal dan lebih 1,2 juta mengungsi.

Belum ada anda-tanda perang mereda apalagi stop, sementara gencatan senjata yang diprakasai Mesir, Qatar dan AS hanya berlangsung enam hari, dilanjutkan lagi dengan bombardemen oleh Israel ke berbagai target sipil di Jalur Gaza.

Di daratan Eropa, invasi Rusia ke Ukraina, tetangganya sesama negara sempalan Uni Soviet sejak 24 Februari 2022 juga belum usai karena Ukraina didukung persenjataan dari Barat terutama kekuatan NATO pimpinan AS mampu memberikan perlawanan sengit.

Sampai Desember lalu,  paling tidak sekitar 300.000-an prajurit Rusia tewas, juga jumlah yang sama diperkirakan korban di pihak Ukraina, dan lebih satu juta penduduknya mengungsi ke negara-negara tetangganya.

Di Laut China Selatan, klaim China di area garis putus-putus (nine-dash line) seluas dua juta Km2 di perairan tersebut memicu sengketa dengan Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina dan Vietnam.

Sejumlah insiden terjadi di kawasan  LCS yang dipersengketakan China dengan Filipina yang lalu mengundang AS untuk menambah pangkalan di negeri itu, juga patroli bersama dengan Jepang dan Australia.

Potensi konflik di LCS terus bereskalasi, menyeret kekuatan lain, misalnya dengan pembentukan aliansi AUKUS (Australia,Inggeris dan AS) 15 Sept. 2021 termasuk kerjasama pembuatan kapal selam nulir untuk Australia.

Ketegangan antara negara serumpun China daratan dan Taiwan, walau masih berbentuk saling gertak dan penyusupan ke wilayah Taiwan oleh pesawat-pesawat tempur China sewaktu-waktu juga bisa memicu perang terbuka yang menyeret kekuatan global terutama AS dan sekutu-sekutunya yang berada di belakang Taiwan.

Di Semenanjung Korea, uji-uji coba rudal balistik antarbenua dan kesiapan perang Korea Utara menghadapi negara serumpun, Korea Selatan juga tidak pernah sepi dari pernyataan saling gertak sehingga dikhawatirkan juga memicu perang terbuka.

Sedangkan di ASEAN, di tengah penguncilan oleh negara-negara Barat dan juga ASEAN, rezim junta Myanmar tetap bercokol sejak awal Feb. 2022 serta mengabaikan lima poin usulan solusi krisis politik di negara itu yang ditawarkan ASEAN.

Lima usulan ASEAN yakni akses pengiriman bantuan kemanusiaan, penghentian kekerasan, dialog inklusif antarpihak yang bertikai, pembentukan utusan khusus dan kunjungan utusan khusus ke Myanmar.

Semoga sisa-sisa konflik yang belum ada solusinya, malah bereskkalasi tahun lalu dapat diselesaikan, atau paling tidak makin mereda tahun ini.

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles