
BANJIR bandang di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh terus menyisakan korban. Sampai Minggu (7/12) dilaporkan 916 korban tewas, 389 hilang dan lebih 2.600 terluka.serta sekitar 850.000 penduduk mengungsi.
Mantan Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkap sejumlah sebab dahsyatnya banjir bandang dan longsor yang menimpa ketiga daerah itu.
Struktur Geologi dan Geomorfologi
P. Sumatera memiliki struktur geologi sangat labil. Terdapat bebatuan terbentuk dari tumbukan lempeng yang naik dari dasar laut.
Jika terjadi keretakan, bebatuan mudah membuat permukaan di atasnya longsor meski hanya digoncang gempa kecil. Longsoran menyumbat air sungai sehingga terbentuk bendung alami yang suatu saat bisa jebol.
“Retakan-retakan itu membuat wilayah sekitarnya sangat rentan terhadap gerakan tanah,” katanya dikutip dari laman UGM, Minggu (7/12).
Sementara dosen dan peneliti Fakultas Kehutanan UGM Dr Ir Hatma Suryatmojo, SHut, MSi, IPU menyebutkan, struktur geomorfologi Sumatera membuat wilayah ini memang rentan terhadap luapan besar saat hujan turun.
Lereng-lereng terjal dari Aceh hingga Lampung mengalirkan air langsung ke dataran rendah. Jalur alami ini mempercepat aliran dan membawa material dalam jumlah besar ketika intensitas hujan meningkat.
“Dengan pola seperti itu, hujan deras pasti membawa material dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi,” ujar Hatma.
Tak cuma itu, Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM itu menyebut soal kondisi iklim akhir-akhir ini yang memperparah dampak longsor dan banjir.
Hujan ekstrem terjadi karena seringnya kenaikan suhu mencapai 1,55 derajat Celcius. Kenaikan suhu juga berpotensi mencapai 3,5 derajat Celcius di akhir abad, apabila tidak diantisipasi.
Khususnya di Sumatera, sistem hidrologi di sana tidak bisa mampu lagi menahan laju air. Curah hujan di Sumatera sendiri mencapai ratusan milimeter per hari.
“Kalau mitigasi ekologisnya dilewatkan, kita bisa musnah,” ujar Dwikorita.
Anomali Siklon Tropis
Kemudian, anomali siklom tropis menurut Dwikorita juga turut memperparah kondisi. Saat ini, siklon bergerak tidak seperti biasanya.
Siklon yang tidak menembus zona tropis, kini tumbuh dan bergerak melintasi daratan sehingga menjadikan hujan turun lebih sering daripada biasanya.
“Siklonnya tidak lagi patuh pada jalurnya, dan ini anomali yang semakin sering muncul,” tuturnya.
Dwikorita menegaskan anomali siklon tidak terjadi seketika. Hal itu muncul sebagai hasil dari akumulasi fenomena yang terjadi sebelumnya.
Mulai dari kemunculan Siklon Seroja dan Cempaka beberapa tahun yang lalu. Siklon Senyar juga memperkuat pendapat Dwikorita tersebut.
Dwikorita melihat Siklon Senyar tumbuh di area yang tak biasanya. Siklon juga bergerak menyebrangi daratan dan tiba di Semenanjung Malaya.
“Ini anomali yang mengindikasikan perubahan iklim semakin mempengaruhi dinamika siklon di kawasan Indonesia,” pungkasnya.
Hutan Hilang, Ekologis Rusak
Banjir bandang di Sumatera yang yang membawa kayu-kayu dan sedimen, menurut Hatma menunjukkan kondisi
ekologis yang kian menurun.
Pembukaan lahan di daerah hulu, pemukiman yang merangkak naik ke dataran tinggi, serta perubahan fungsi hutan memperbesar limpasan permukaan.
Secara alami hutan memiliki kemampuan besar untuk menahan air hujan. Bahkan dalam kondisi ideal, hingga sepertiga air dapat tertahan di tajuk dan lebih dari separuh meresap ke dalam tanah sebelum mencapai permukaan.
Ketika tutupan hutan berkurang, seluruh volume air bergerak serentak menuju sungai dan mempercepat terjadinya banjir.
Jadi, jelas selain akibat struktur geologi, geomorfologi dan anaomali siklon tropis, ulah manusia juga berkontribusi besar pada bencana banjir kali ini yang dipicu musnahnya hutan dan rusaknya ekologis kawasan hutan.
Untuk menghindari terulangnya bencana banjir dan longsor upaya untuk membuat jera pelaku dengan mengusut semua pihak bertanggung jawab yakni pemberi izin, pembuat kebijaksanaan, penegak hukum selain korporasi yang melakuan eksekusi di lapangan.




