Ancaman Trump Terbukti, AS Serang Venezuela

ANCAMAN yang beberapa kali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyerang Venezuela dalam upaya membasmi kartel narkoba  di negara itu akhirnya terbukti.

Sejumlah media AS menyebut serangan ke Venezuela telah dimulai, Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat atau Sabtu siang atau sore WIB (3/1). Selisih waktu 11 jam, lebih dulu Indonesia).

Serangkaian ledakan dilaporkan  mengguncang Ibu Kota Caracas, membuat Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan keadaan darurat.

Maduro dalam pernyataannya  mengecam keras serangan itu dan menyebutnya bentuk agresi militer yang sangat serius.

“Venezuela di hadapan komunitas internasional menolak, menyangkal, dan mengecam agresi militer sangat serius yang dilakukan AS terhadap wilayah dan rakyat kami,” demikian pernyataan resmi Pemerintah Venezuela, dikutip AFP.

Pemimpin negara tetangga Venezuela, Presiden Kolombia Gustavo Petro pada hari yang sama juga menyebut serangan AS ke Venezuela telah dimulai di mana Ibu Kota Caracas jadi targetnya.

Petro dalam unggahan di media sosial X menulis, “Saat ini mereka membombardir Caracas… Menyerangnya dengan rudal,” sambil menyerukan sidang darurat DK PBB.

Paling tidak tujuh ledakan

Menurut Associated Press, setidaknya tujuh ledakan terdengar di ibu kota Caracas sekitar dini hari disertai deru  pesawat terbang rendah terdengar di sejumlah titik di Caracas sekitar waktu subuh.

Warga Caracas berlarian ke jalan-jalan karena panik mendengar dentuman keras dan suara pesawat militer.

“Seluruh daratan bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan deru pesawat di kejauhan,” kata Carmen Hidalgo, pegawai kantoran berusia 21 tahun, dikutip dari The Guardian.

Asap tampak mengepul dari dua instalasi militer utama di Caracas: Pangkalan udara La Carlota di pusat kota, dan kompleks militer Fuerte Tiuna salah satu tempat tinggal Presiden Nicolas Maduro.

Bandara Higuerote di bagian timur Caracas juga dikabarkan menjadi sasaran. Tak lama setelahnya, CBS News mengutip sumber yang menyebutkan, serangan tersebut memang diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump. Targetnya termasuk sejumlah fasilitas militer strategis Venezuela.

Hingga berita ini diunggah, Gedung Putih dan Pentagon

belum memberikan komentar resmi terkait serangan tersebut.

Keterlibatan AS  

Sejumlah media “Negeri Paman Sam” seperti CBS News dan Fox News mengutip sumber anonim dari pemerintahan Trump yang membenarkan bahwa militer AS terlibat operasi tersebut.

Serangan ini menambah ketegangan dalam hubungan AS-Venezuela, yang memburuk sejak lama akibat sanksi ekonomi dan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap pemerintahan Maduro.

Raksasa militer AS yang menurut Global Firepower berada di ranking 1 tentu saja tidak sebanding dengan Venezuela yang berada di peringkat ke-50.

Dari anggaran militer saja, AS pada 2025 mengalokasikan 895 miliar dollar AS (Rp1.946 triliun ), sementara Venezuela 4,09 (Rp68,3 triliun) atau kurang satu persen dari anggaran AS.

Gajah vs Semut

Bagaikan gajah lawan semut, AB AS berkekuatan 1,32 juta personil berbanding 109-ribu personil militer Venezuela.

AD AS memiliki 4.640 tank, 392-ribu kendaraan lapis baja, sebaliknya Venezuela hanya memiliki 172 tank dan sembilan kendaraan lapis baja.

AU AS mengoperasikan 4.640 pesawat tempur dan 1.000  helkopter berbanding 30 pesawat tempur dan 10 helikopter yang dimiliki Venezuela.

AL AS mngoperasikan 440 kapal perang a.l. 11 kapal induk, 70 kapal selam dan 81 kapal perusak. Sebaliknya AL Venezuela hanya memiliki 25 kapal perang di antaranya satu fregat dan selebihnya kapal berukuran lebih kecil dan  satu kapal selam.

Nasib Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang disasar AS belum diketahui, namun menurut akun Truth Social milik Trump, ia sudah ditangkap dan dibawa keluar Venezuela.

Lagi-lagi Presiden Trump menggunakan cara cowboy untuk mencari solusi persoalan. (CBS/AFP/berbagai sumber)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here