Iran Terus Bergolak, Rezim Khamenei di Ambang Kolaps

Aksi-aksi demo yang menjurus anarkis ditangani oleh aparat keamanan Iran dengan kekerasan sehingga diperkirakan 2.500 orang tewas (ilustrasi: BBC)

AKSI-aksi masa yang berlangsung di seluruhnya 31 provinsi di Iran sejak 28 Desember lalu makin mencekam menyusul pemadaman internet di seluruh negeri oleh pemerintah selama 156 jam terakhir, sejak Kamis (15/1).

CNN melaporkan, penghentian internet dan saluran komunkasi di seluruh negeri membuat Iran terisolasi dari dunia luar, sehingga  sulit memastikan situasi yang terjadi, termasuk jumlah korban kekerasan oleh aparat keamanan terhadap pendemo yang diperkirakan sudah mencapai ribuan orang.

Melansir situs CNN, pengawas keamanan siber NetBlocks menyebut di akun X bahwa pemadaman komunikasi yang memasuki hari ketujuh “memperkuat akun pro-rezim, menyebarkan konten palsu AI, dan agenda lainnya.”

Minta Dukungan China

Sementara itu, pemimpin Iran dan China menggelar pembicaraan telepon di tengah ancaman intervensi militer AS.

Pembicaraan telepon tersebut dilakukan antara Menlu  China Wang Yi dengan Menlu Iran Abbas Araghchi, Kamis (15/1).

Dalam pembicaraan itu, China menegaskan penolakannya terhadap penggunaan maupun ancaman kekerasan dalam hubungan internasional mengacu pada ancaman Presiden Trump untuk mengintervensi jika aparat keamanan Iran membunuhi para pendemo anti pemerintah.

Wang Yi menuturkan, tidak boleh ada memaksakan kehendak satu pihak kepada pihak lain dan menyebutkan,   China secara konsisten menjunjung tinggi tujuan dan prinsip Piagam PBB serta hukum internasional.

Ia berkeyakinan, pemerintah dan rakyat Iran akan tetap bersatu, mampu mengatasi berbagai kesulitan, menjaga stabilitas nasional, serta melindungi hak dan kepentingan sah mereka.

Selain itu, Wang Yi menyerukan kepada semua pihak agar menghargai perdamaian, menahan diri, dan mencari solusi perbedaan melalui dialog.

Ia menambahkan bahwa China bersedia memainkan peran yang konstruktif dalam upaya menjaga perdamaian dan stabilitas regional.

Sementara  Menlu Iran Abbas Araghchi menjelaskan perkembangan terbaru situasi di Iran, termasuk demo yang mengguncang negara tersebut.

Araghchi menuturkan, gelombang demo Iran dipicu oleh campur tangan pihak eksternal, sebagaimana dilansir Associated Press.

Dia menyampaikan, situasi di dalam negeri Iran kini telah kembali stabil setelah pemerintah mengambil langkah-

langkah pengamanan.

Araghchi menambahkan, Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi intervensi dari luar, sembari tetap membuka ruang dialog dengan berbagai pihak.

Dalam kesempatan yang sama, Araghchi berharap China dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan.

Salah satu Indikasi makin gawatnya situasi di Iran tercermin dari kehadiran gugus tugas kapal induk dari Laut China Selatan ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mencakup Timur Tengah.

Perpindahan ini melibatkan satu gugus tempur kapal induk yang berpusat pada kapal induk USS Abraham Lincoln.

Dunia terus mengamati perkembangan di negeri para mullah itu apakah rezim yang berkuasa ini akan tumbang, dan kembali ke zaman monarki yang ditinggalkan sejak Revolusi Iran pada 1979 atau akan muncul pemimpin pembaharuan baru dari kelompok Islam? (AP/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here