JAKARTA, KBKNEWS.id – Kehilangan orang tua sejak usia dini tidak membuat Rahmad Gustav Kurniawan Lubis menyerah pada keadaan.
Pemuda asal Medan, Sumatra Utara, itu justru berhasil mengubah keterbatasan menjadi motivasi untuk meraih pendidikan tinggi melalui program Youth Ekselensia Scholarship (YES) dari Dompet Dhuafa.
Rahmad harus menghadapi kenyataan pahit sejak kecil. Ayahnya meninggal dunia ketika ia baru berusia enam bulan, sementara ibunya wafat saat dirinya berusia delapan tahun. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Rahmad kemudian diasuh oleh bibinya yang juga harus membesarkan tiga anak kandungnya di tengah kondisi ekonomi yang terbatas.
Memasuki masa SMA, Rahmad mulai merasakan beratnya biaya pendidikan. Ia mengaku sering merasa sungkan meminta kebutuhan sekolah kepada ibu asuhnya yang telah banyak berkorban untuk merawatnya.
“Biaya sekolah saat SMA cukup memberatkan. Saya merasa tidak enak jika terus meminta kepada ibu asuh,” kenangnya dalam peluncuran program kolaboratif BesTeam (Bestian Sama Yatim) di ANTARA Heritage Centre, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Perasaan tersebut mendorong Rahmad mencari berbagai peluang beasiswa. Pencariannya membawanya kepada Program YES milik Dompet Dhuafa. Perjalanan untuk mendapatkan beasiswa itu tidak mudah. Ia harus melewati seleksi ketat mulai dari administrasi, ujian tertulis, hingga verifikasi langsung ke rumah oleh tim pendamping.
Dari sekitar 300 peserta yang mendaftar, Rahmad berhasil menjadi satu dari hanya 14 penerima beasiswa yang lolos.
Bagi Rahmad, Program YES bukan sekadar bantuan finansial. Program tersebut membuka jalan bagi cita-cita yang sebelumnya terasa mustahil. Jika dulu ia tidak pernah membayangkan bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kini ia tengah menempuh studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatra Utara, jurusan Pendidikan Guru.
“Dulu saya tidak pernah berpikir bisa kuliah. Tetapi melalui Program YES, saya menjadi lebih optimistis dan percaya diri untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Selain memperoleh bantuan biaya pendidikan, para penerima beasiswa juga mendapatkan pembinaan kepemimpinan, pengembangan diri, pendampingan intensif, hingga keterlibatan dalam berbagai proyek sosial.
Program tersebut membantu Rahmad berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan memiliki visi masa depan yang jelas.
Kini, sebagai mahasiswa semester empat, Rahmad aktif membagikan semangat kepada anak-anak yatim lainnya agar tidak menjadikan kondisi hidup sebagai penghalang untuk bermimpi.
“Kita semua berhak memiliki harapan dan cita-cita. Jangan pernah menjadikan status yatim sebagai alasan untuk berhenti maju,” katanya.
Rahmad juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur dan Dompet Dhuafa yang telah membantunya meraih kesempatan pendidikan yang lebih baik.
“Terima kasih kepada Dompet Dhuafa dan seluruh donatur. Saya merasakan langsung manfaat yang nyata dan tepat sasaran dari bantuan ini,” tuturnya.
Kisah Rahmad menjadi salah satu contoh bagaimana dukungan pendidikan yang tepat dapat membantu anak-anak yatim bangkit dari keterbatasan dan membangun masa depan yang lebih baik.
Melalui program BesTeam, Dompet Dhuafa berupaya menghadirkan ekosistem pendampingan yang mencakup pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan layanan kesehatan bagi anak-anak yatim di Indonesia.
Ketua Program BesTeam 2026, Widodo, menegaskan bahwa banyak anak yatim memiliki potensi besar yang perlu didukung secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara masyarakat, donatur, dan berbagai mitra.
“Memuliakan anak yatim bukan pekerjaan satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi agar manfaat yang diberikan dapat terus berkelanjutan dan berdampak luas,” ujarnya.





