Polisi Didesak Lakukan Ekshumasi Kubur Sutrimo

Polisi didesak untuk melakukan ekshumasi atau penggalian makam Sutrimo, asisten rumah tangga tersangka tiga kasus korupsi jumbo mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang kematiannya mencurigakan. (ilustrasi: harian terbit)

JAKARTA – (IMBCNEWS) – 9/8 – POLISI diminta mengungkap kematian Sutrimo yang jasadnya ditemukan di depan klinik kecantikan Morden, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan sebelumnya disebutkan meninggal dalam kondisi tak wajar.

“Memang kami kemarin mendapat laporan warga kepada Bareskrim Polri terkait tentang kematian S yang dianggap tidak wajar,” kata Kabid Humas Polda Mero Jaya, Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Minggu (9/8).

Budi mengatakan, pelapor meminta penyelidik untuk melakukan ekshumasi yakni proses penggalian atau pembongkaran kembali jenazah dari dalam kubur yang dilakukan pihak berwenang.

Budi menyebut pihak kepolisian akan terlebih dahulu memeriksa dokter RSU Muhamadiyah di Taman Puring, Jaksel yang pertama kali menerima jasad Sutrimo.

Budi menjelaskan, ini merupakan pemanggilan ulang karena sebelumnya pihak dokter absen dari pangilan untuk pemeriksaan.

“Penyelidikan pihak kepolisian diharapkan untuk melakukan ekshumasi. Nanti kami akan sampaikan secara bertahap terkait tentang laporan tersebut,” kata dia.

“Minggu depan kita masih akanlakukan pemanggilan terhadap dokter RS Muhammadiyah yang menangani pertama pada saat jenasah pasien tiba di rumah sakit,” imbuhnya.

Kombes Budi sebelumnya menyampaikan alasan pemanggilan terhadap dokter RS tersebut. Salah satu yang ingin didalami ialah kabar Sutrimo meninggal dengan kondisi mulut berbusa seperti informasi yang beredar.

Budi mengatakan ada sejumlah foto dan video yang viral terkait kematian Sutrimo, namun kebenarannya harus diperiksa lebih lanjut oleh penyidik.

“Kita dan mungkin juga teman-teman (pers) sudah melihat ada foto yang beredar, tetapi kan harus diklarifikasi apakah benar itu kondisi awal. Benar ngggak, sosok almarhum S atau bukan. Termasuk video-video yang beredar ambulans, keranda jenazah yang dibawa ada CCTV. Temua ini kan harus disesuaikan oleh teman-teman penyidik,” kata Budi sepekan setelah penemuan jasad Sutrimo.

Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri pada Kamis (23/7). Korban selanjutnya dibawa oleh empat pria menggunakan ambulans ke RS Muhammadiyah, Taman Puring, Jaksel, dan dinyatakan sudah meninggal dunia.

Berdasarkan informasi yang beredar, korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa. Korban disebut-sebut merupakan kepala rumah tangga (Karumga) mantan Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah.

Namun sejauh ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait sosok korban.
Sejumlah kejanggalan

Sejumlah kejanggalan disampaikan oleh para pakar hukum terkait kematian Sutrimo di sebuah klinik kecantikan yang sudah tidak beroperasi di kawasan Kramat Pela, Jaksel, 23 Juli lalu.

Sutrimo yang sudah beberapa tahun menjadi Asisten Rumah Tangga Jampidsus Ferdie Ardiansyah diketemukan tergeletak denga mulut berbusa di depan klinik kecantikan yang diduga milik pejabat tersebut yang salah satu rumahnya berjarak beberapa ratus meter dari TKP.

Jasad Sutrimo diantar ke RS Muhammadiyah oleh empat orang di mana salah satunya adalah petugas Kejaksaan yang mengaku keluarga almarhum.
Mereka menolak dilakukan otopsi dan langsung membawa jasad Sutrimo ke kampung halanannya di Desa Wlahar, Kec. Wangon, Banyumas, Jawa Tengah dan dimakamkan hari itu juga di pemakaman setempat.

Yang juga dianggap janggal, ponsel korban tidak diketahui rimbanya, begitu juga surat kematian dari dokter.

Anehnya, sang dokter yang pertama kali menerima jasad Sutrimo saat tiba di RS Muhammadiyah juga tidak meminta tindakan Visum et Repertum, padahal mulut korban mengeluarkan busa, pertanda ia kemungkinan keracunan arsenik atau sianida.

Polisi dinilai lamban
Pihak polisi pun dinilai lamban, karena sampai hari ini, kematian Sutrimo sejak 23 Juli sudah berjalan 18 hari, belum memutuskan melakukan ekshumasi atau penggalian kubur untuk kemudian diotopsi.

Bertambah lama, menurut pakar forensik, bertambah sulit untuk menentukan penyebab kematian Sutrimo, karena racun sianida segera menguap di udara, begitu juga jasad korban akan tercampur dengan tanah.

Teka-teki kematian Sutrimo harus dipecahkan megingat sebagai asisten rumah tangga, ia diduga mengetahui banyak misalnya siapa-siapa orang atau tokoh yang bertemu dengan FA, mungkin juga asal-usul 74 Kg emas batangan dan uang senilai Rp476 milyar di brankas di salah satu rumah FA di akwasan Sentul, Bogor.

Menurut pihak keluarganya, Sutrimo pulang ke kampungnya di Banyumas, Jateng dan tinggal dua hari di sana seelum balik ke jakarta karena dipangil oleh FE.

Salah satu dugaan penyebab kematian Sutrimo, ia mati diracun untuk menghilangkan jejak atas keterlibatan tokoh-tokoh penting atas dugaan pencucian uang (money laundering) dan tiga kasus korupsi jumbo penyelesaian utang PT Krakatau Steel, pengadaan batubara untuk PLN dan korupsi di PT ASABRI.

Penanganan kasus ini juga memicu kontroversi, karena semula ditangani Kepolisian, lalu di tengah jalan diserahkan pada Kejaksaan Agung, padahal seharusya dilimpahkan kepada KPK.

Kejanggalan lainnya, penggeledahan rumah FA dilakukan sebelum ia ditetapkan sebagai tersangka dan pada saat digelandang ke Kejaksaan (setelah ditersangkakan) ia tidak mengenakan rompi dan borgol seperti layaknya terangka korupsi lainnya.

Ayo usut tuntas misteri kematian Sutrimo agar terang benderang, apa yang terjadi dan siapa-siapa saja yang terlibat dalam kasus korupsi dan pencucian uang yang ditersangkakan pada FA. (CNNi/ns)

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here