JAKARTA (KBK) – Setelah 1 bulan mendiami LBH Jakarta, hari ini petani korban gusuran sengketa lahan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat kembali ke kampung halamannya. Proses pemulangan sempat dihias isak tangis sejumah warga yang mengaku masih trauma terhadap aksi intimidasi yang dilakukan pihak yang mengaku sebagai pemilik lahan.
“Saya tidak mau pulang kalau tidak ada jaminan keamanan, bagaimana nasib suami saya yang masih di penjara,” teriak Ipat salah seorang korban warga Wanajaya, Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat di Kantor LBH Jakarta, Senin (14/11/16).
Tak hanya Ipat puluhan korban lainnya yang sebagian besar ibu-ibu juga ikut berlinang air mata sambil meneriakan keadilan yang selama ini mereka dambakan. Bahkan belasan anak usia 9 – 13 tahun juga ikut dalam barisan yang menolak pulang.

Ahmad Rifai Ketua Umum Serikat Tani Nasional selaku pihak yang mengadvokasi korban mengatakan, luapan emosi tersebut merupakan hal wajar mengingat sudah satu bulan lebih para korban mendapatkan tekanan mental selama di pengungsian.
Rifai menambahkan proses pemulangan ini bukan akhir dari aksi advokasi yang selama ini dilakukan, karena masih terdapat segudang permasalahan yang belum terselesaikan. (Baca Juga Petani Diintimidasi, Dompet Dhuafa Berikan Bantuan)
“Warga tidak pulang kerumah melainkan akan direlokasi ke asrama haji karawang. Dua minggu kemudian baru akan ditempatkan di Rusun yang semua biaya termasuk pendidikan akan ditanggung oleh Pemkab Karawang,” ujarnya.

Madari Sekertaris Serikat Petani Teluk Jambe Bersatu mengamini apa yang dikatakan Rifai. Menurut Madari selain tempat tinggal dan akses pendidikan, korban yang sebagian besar petani tersebut juga akan dilindungi keamananannya.
“Tenang saja warga korban akan mendapat jaminan rasa aman dan penghentian kriminalisasi. Untuk sebagian warga yang masih ditahan juga proses hukumnya akan tetap ditangani. Pmulangan ini bukan akhir,” jelas Mudari





