Fenomena Aliran Sesat Berakar dari Kemiskinan

aliran sesat
ilustrasi/ korannonstrop

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyebut persoalan kemiskinan dan kebodohasn  menjadi akar munculnya fenomena aliran sesat.

“Orang mengembangkan aliran sesat ujung-ujungnya untuk mencari pengikut, mendapat uang dan lain sebagainya,” kata Sekretaris Umum MUI Prov Jatim, Ainul Yaqin di Jakarta, Kamis (24/11).

Menurutnya, kemiskinan dan kebodohan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tersebut. Sementara, orang-orang dalam kondisi miskin dan bodoh akan lebih gampang dipengaruhi oleh oknum-oknum tersebut. Mereka juga akan kehilangan sikap rasional.

Kemudian, dampak dari kebodohan juga menimbulkan perilaku tamak. Ia mencontohkan, kasus Dimas Kanjeng. Mengapa orang-orang bisa menjadi pengikut Dimas karena kebodohan membuat kehilangan sikap rasional.

“Yang tamak juga ingin mendapat sesuatu dengan mudah,” ujarnya, dikutip dari Republika.

Sementara, untuk persoalan toleransi antar umat beragama, MUI Prov Jatim menilai kerukunan di Jatim cukup bagus. Sebab, saat umat Islam menjadi mayoritas, mereka akan mengayomi. Sementara, ketika umat Islam jadi minoritas, mereka akan patuh pada peraturan yang berlaku.

Advertisement