5 Bentuk Sedekah Jariyah yang Pahalanya Terus Mengalir

JAKARTA – Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian, suatu kepastian yang tak terhindarkan. Tempat, waktu, dan cara seseorang meninggal adalah rahasia Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri tidak mengetahui kapan atau bagaimana kematian seseorang, termasuk dirinya sendiri.

Dalam menghadapi kenyataan bahwa kematian akan datang, tindakan terbaik yang bisa dilakukan adalah mempersiapkannya. Salah satu cara untuk mempersiapkan kepergian dari dunia ini dan mendapatkan husnul khotimah adalah dengan melakukan amal jariyah selama masa hidup.

Amal jariyah adalah amalan yang terus memberikan pahala, bahkan setelah orang yang melakukannya meninggal dunia. Amalan ini terus menghasilkan pahala yang disalurkan kepadanya. Apa saja amalan jariyah tersebut?

Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim, no. 1631)

Di antara ketiga hal tersebut, sedekah jariyah merupakan amalan termudah untuk mendapatkan aliran pahala yang tak putus-putus.

Sedekah jariyah adalah bentuk sedekah yang bisa dirasakan manfaatnya secara kontinu atau untuk tujuan jangka panjang. Sedangkan orang yang mengamalkannya akan mendapat pahala sepanjang sedekahnya masih bermanfaat bagi orang lain.

Dalam hadis lain juga disebutkan tentang amalan jariyah yang pahalanya tak terputus, meski yang melakukannya sudah tiada.

“Sesungguhnya di antara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan, sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya.” (HR Ibnu Majah)

Berikut lima bentuk sedekah jariyah:

1. Sedekah atau Wakaf Pembangunan Masjid

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa yang membangun masjid demi mencari wajah Allah, niscaya Allah bangunkan rumah baginya di surga.” (Terdapat dalam Ash-Shahihain)

Membangun masjid atau rumah Allah sangat tinggi nilai pahalanya di sisi Allah SWT. Masjid adalah sentra ibadah dan aktivitas kebaikan bagi umat Islam.

Oleh karena itu, setiap kebaikan yang dilakukan dengan adanya masjid akan tercatat sebagai amalan yang terus mengalir bagi yang bersedekah atau berwakaf untuk berdirinya masjid.

2. Sedekah atau Wakaf Sumur atau Penggalian Air

Dahulu kala, rakyat Madinah pernah mengalami masa kekeringan yang parah. Di saat yang lain kesulitan air, ada satu sumur milik seorang Yahudi yang masih memancarkan air.

Rasulullah SAW pun bersabda:

“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Seruan Rasulullah pun langsung disambut dengan semangat oleh sahabat nabi, Utsman bin Affan yang dikenal kaya raya. Ia membeli sumur Raumah milik orang Yahudi tersebut, setelah negosiasi yang panjang.

Sumur itu dibeli dengan harga yang sangat tinggi. Hingga saat ini kebermanfaatan sumur tersebut terus berlanjut dengan berubahnya sumur Raumah menjadi hotel bintang lima, Hotel Utsman bin Affan.

Sedekah semacam ini juga sama halnya dengan sedekah untuk kepentingan fasilitas umum, misal sedekah pohon, sedekah pembangunan jembatan, dan lain-lain.

3. Sedekah untuk Anak-Anak Yatim

Anak-anak yatim merupakan sosok-sosok yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Dalam sabdanya beliau mengisyaratkan kedekatan dengan anak yatim ibarat jari telunjuk dan jari tengah (dalam HR Bukhari no. 4998 dan 5659).

Menyantuni anak yatim dan mengasuhnya dengan baik merupakan teladan penuh kasih sayang yang Rasul contohkan. Untuk itu, bagi umat Islam yang mampu sudah selayaknya menyisihkan hartanya untuk anak-anak yatim dan mengurangi beban mereka.

Bahkan, Allah mengecam bagi orang-orang yang suka menghardik anak yatim dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama sebagaimana yang termaktub dalam QS Al-Ma’un (105), ayat 1-5.

4. Sedekah untuk Pesantren

Pesantren merupakan cikal bakal bagi muslimin dan muslimat yang menguasai ilmu agama, calon pemimpin bangsa dan sekaligus penerus perjuangan dakwah Islam. Dengan berdirinya pesantren-pesantren, umat Islam akan berada dalam cahaya terang oleh ilmu, adab, dan akhlak.

Oleh karena itu, mendukung pesantren dengan sedekah akan mendatangkan pahala yang begitu berlimpah. Pahala itu bersumber dari para santri yang menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, beribadah di pesantren.

Saat para santri menghafal Al-Qur’an, maka pahala dari setiap hafalan itu akan mengalir bagi yang mendukung berdirinya pesantren. Apalagi jika pesantren tersebut adalah pesantren untuk duafa atau mualaf atau untuk orang-orang yang membutuhkan lainnya.

5. Sedekah Sarana Dakwah Para Dai

Keberadaan para dai di Tanah Air menjadi ujung tombak dakwah Islam yang masih belum sepenuhnya dirasakan oleh umat. Banyak umat Islam di belahan negeri ini yang jarang sekali menerima asupan iman berupa pelajaran Islam dari para dai, khsususnya bagi mereka di pedalaman.

Tantangan berdakwah bagi para dai adalah tanggung jawab kita semua, karena sesama muslim adalah saudara.

Allah SWT pun sudah mengingatkan hal tersebut dalam QS Al-Hujurat (10) sebagaimana berikut:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah pun juga menyatakan bahwa sesama muslim harus saling menyayangi

رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, beliau meriwayatkannya dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, ‘Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri’.” (HR Al-Bukhari)

Itulah tadi penjelasan tentang sedekah jariyah dan lima di antara macam sedekah jariyah. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk beramal jariyah dan bersegera dalam bersedekah jariyah, karena dunia hanyalah sementara. Wallahu’alam.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here