
PBB menawarkan tiga poin solusi perdamaian di tengah konflik berdarah di Yaman yang sudah berkecamuk sejak sekitar tiga tahun lalu dan menewaskan sekitar 10.000 korban, lebih separuhnya warga sipil.
Konflik melibatkan milisi suku Houthi dukungan Iran melawan rezim berkuasa pimpinan Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi yang didukung koalisi pasukan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu, merenggut lebih 10.000 jiwa, sebagian besar warga sipil, menciptakan 2,5 juta pengungsi dan mengancam 7,5 juta penduduk dalam bahaya kelaparan serta memorakporandakan sejumlah prasarana dan sarana publik.
Koalisi Arab Saudi dan UEA yang melakukan intervensi dan bombardemen pesawat-pesawat tempurnya untuk mendukung rezim Mansour Hadi menguasai sejumlah wilayah di Yaman Selatan termasuk Propinsi Aden.
Sementara lawannya, milisi Houthi yang diperkirakan beranggotakan 100.000 personil saat ini menguasai ibukota Sanaa sepenuhnya dan sejumlah wilayah di Yaman Utara.
Rancangan solusi yang ditawarkan PBB memuat tiga poin yakni gencatan senjata menyeluruh dengan kompensasi milisi Houthi menghentikan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi, pembentukan pemerintahan transisi dengan menyertakan Houthi dan penyerahan seluruh senjata menengah dan berat termasuk rudal balistik.
Namun sjauh ini baru UEA melalui pernyataan menlunya, Anwar Gargash yang mendukung prakarsa PBB dalam mengupayakan perdamaian dan mengantarkan terbentuknya sistem politik baru di Yaman.
Tawaran PBB tersebut ditanggapi rada skeptis oleh pihak PBB yang menyatakan kepada Reuters, pelaksanaan gencatan senjata merupakan penghalang utama proses perdamaian karena sangat ditentukan oleh keseriusan dan ketaatan pihak-pihak lainnya.
Rezim petahana Mansour Hadi sejauh ini juga masih ngotot, upaya damai harus
berpatokan pada tiga syarat yakni pelaksanaan seluruh resolusi PBB terkait Yaman, penghentian kudeta oleh Houthi dan seluruh dampak akibat aksi tersebut terhadap isu kemanusiaan.
Utusan PBB Martin Griffiths juga menemui sejumlah tokoh Yaman yang mengasingkan diri di Mesir termasuk pengikut mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang semula berkoalisi dengan Houthi namun kemudian dibantai oleh kelompok mitranya tersebut karena dianggap berkhianat.
Pepatah lama “Sesama gajah bertarung, pelanduk mati di tengahnya”. Siapa “pelanduknya” kalau bukan rakyat Yaman yang paling menderita dan menjadi korban keganasan perang yang sudah berkecemuk.
Sejumlah upaya damai dilakukan PBB sejak 2015 namun semua menemui kegagalan, yang terakhir perundingan resmi yang digelar antara pimpinan Houthi dan rezim Mansour Hadi di Kuwait pada 2016.
Pertemuan berikutnya yang ditawarkan PBB dijadwalkan akan digelar kemungkinan dalam Juni ini setelah Idul Fitri.
Semoga semangat silaturahim dalam suasana Idul Fitri bisa mencairkan hati para pemimpin Yaman untuk membawa rakyatnya mewujudkan perdamaian. (Reuters/NS)




