Pesawat NC-212i Go-Ekspor

Pesawat NC-212i buatan PT Dirgantara Indonesia yang dipesan Vietnam sedang mengudara. Filipina, Thailand dan Senegal juga sudah memesannya.

PESAWAT multiguna bermesin ganda NC-212i karya PT Dirgantara Indonesia (DI) ternyata cukup diminati di luar negeri, terbukti sejauh ini sudah dipesan oleh sejumlah negara tetangga seperti Filipina, Thailand, Vietnam, juga Senegal.

Serah terima dua dari enam pesawat NC-212i versi angkut sedang yang dibeli Filipina tersebut dilakukan antara Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dan mitranya Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana di Pangkalan Angkatan Udara Clark, Filipina (26/6) lalu.

Pesawat yang diawaki dua orang dan dengan daya angkut 28 penumpang adalah pengembangan dari versi sebelumnya yakni C-212 yang dirancang pabrik pesawat udara CASA, Spanyol yang mulai diterbangkan pada 1971. Sejauh ini sudah diproduksi 478 unit C-212 yang digunakan sekitar 40 negara, sedangkan 100 unit versi yang lebih baru (NC-212i) dikembangkan PT DI berdasarkan lisensi dari CASA.

Selain menggunakan sistem navigasi mutakhir, harga NC-212i dibandingkan pesawat sekelasnya juga relatif lebih murah yakni pada kisaran 12 juta hingga 15 juta dollar AS (sekitar Rp172 milyar sampai Rp215 milyar tergantung konfigurasi peralatan yang diinginkan pembeli).

Dengan panjang 16,15 meter, bentang sayap 20,28 meter, NC-212i yang bisa digunakan dalam berbagai varian fungsi a.l. evakuasi medis, patroli maritim dan pantai, membuat hujan buatan dan survei, memiliki daya tempuh 370 Km dan mampu terbang setinggi 7.925 meter. Dengan rak-rak yang dibuat berdasarkan opsi, NC-212i juga bisa dilengkapi senapan mesin dan bom seberat 500 Kg.

Selain NC212i, PT DI juga sedang mengembangkan pesawat penumpang ringan bermesin ganda N-219 berkapasitas 19 penumpang yang cocok digunakan untuk menghubungkan wilayah terpencil dan pegunungan karena memiliki kemampuan terbang dan mendarat pada landasan pendek 400 sampai 600 meter (Short Take Off and Landing – STOL) .

Industri penerbangan Indonesia mulai bangkit pada saat kepemimpinan Prof. Dipl. Ing. B.J. Habibie di Industri Pesawat Terbang Nurtanio – IPTN (sebelum berganti nama dengan PT DI).

Selain untuk meraup devisa untuk diekspor, Habibie yang kemudian menjadi Presiden ketiga RI berpandangan, industri dirgantara menuntut penerapan teknologi canggih, sehingga jika Indonesia mampu menguasainya, industri-industri di sektor lainnya niscaya juga bakal mudah dikuasai.

Maju terus, industri dirgantara anak bangsa!

Advertisement