JAKARTA – Islam telah menetapkan aturan yang jelas mengenai puasa Ramadan. Namun, seiring waktu, berbagai mitos dan pemahaman yang keliru mulai berkembang di masyarakat.
Beberapa keyakinan yang dianggap sebagai bagian dari syariat Islam ternyata tidak memiliki dasar yang kuat. Bahkan, hal-hal ini justru dapat menyulitkan pelaksanaan ibadah puasa.
Misalnya, banyak orang mengira bahwa waktu imsak adalah batas akhir untuk makan sahur, padahal sebenarnya tidak demikian. Lantas, apa saja kesalahpahaman tentang puasa Ramadan yang sering dianggap benar ternyata keliru?
- Menentukan 1 Ramadan dengan Ilmu Hisab
Menentukan awal bulan Ramadan hanya berdasarkan perhitungan astronomi (hisab) adalah sebuah kesalahan. Dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW, disebutkan bahwa awal Ramadan ditetapkan berdasarkan pengamatan hilal (bulan sabit pertama).
Allah SWT berfirman:
“Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan (datangnya) bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS Al-Baqarah: 185)
Sejalan dengan ayat di atas, Nabi Muhammad SAW juga menegaskan dalam hadis:
“Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu, karena melihat bulan. Apabila tertutup bagi kamu (disebabkan cuaca yang berawan), maka sempurnakanlah bulan Syakban tiga puluh hari.” (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan ayat dan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa cara untuk mengetahui awal bulan Ramadan adalah dengan melihat atau menyaksikan hilal, bukan menghitung hari, menghisab, dan yang lainnya.
- Mempercepat Makan Sahur
Sebagian orang memilih makan sahur lebih awal, bahkan sebelum tidur, karena takut kesiangan. Namun, hal ini tidak sesuai dengan sunah Rasulullah SAW yang menganjurkan agar sahur dilakukan mendekati waktu Subuh.
Dalam hadis disebutkan bahwa sahabat Zaid bin Tsabit RA berkata:
“Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra bahwa Zaid bin Tsabit ra berkata: ‘Kami makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan salat (Subuh)’. Aku bertanya, ‘Berapa lama jarak antara sahur dan salat Subuh?’ Zaid menjawab, ‘Sekitar (bacaan) 50 ayat’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak memajukan makan sahurnya, tetapi beliau mengakhirkannya hingga menjelang waktu Subuh.
Selain itu, terdapat keberkahan tersendiri di waktu sahur, sehingga kita dianjurkan bangun untuk makan di waktu sahur.
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim)
- Menjadikan Imsak sebagai Batas Waktu Sahur
Banyak orang mengira bahwa imsak adalah batas akhir waktu sahur, padahal sebenarnya sahur hanya berakhir saat azan Subuh berkumandang. Imsak hanyalah pengingat agar umat Islam bersiap-siap menyelesaikan sahurnya.
Allah SWT berfirman:
“…makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS Al-Baqarah: 187)
Hadis Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa batas akhir sahur adalah azan Subuh, bukan imsak.
“Sesungguhnya bilal azan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar seruan azan Ibnu Ummi Maktum.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa batas akhir waktu sahur adalah azan kedua, yaitu azan untuk salat Subuh.
Inilah yang seharusnya dipegang umat muslim, menjadikan azan Subuh sebagai batas terakhir makan sahur dan meninggalkan tanda imsak yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah SAW juga para sahabat.
- Melafazkan Niat Puasa di Waktu Sahur
Sebagian orang beranggapan bahwa niat puasa harus diucapkan secara lisan dan dilakukan saat sahur. Padahal, dalam Islam, niat cukup ada dalam hati dan bisa dilakukan kapan saja sejak terbenam Matahari hingga sebelum fajar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang tidak menetapkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa niat puasa Ramadan harus sudah ada sebelum fajar, namun tidak harus diucapkan secara lisan atau dilakukan tepat saat sahur. Dalam Islam, niat itu tempatnya di hati.
Selama seseorang sudah berniat dalam hatinya sejak malam, maka itu sudah dianggap sah. Sekalipun ia tidak mengucapkannya, namun ada kesadaran bahwa ia akan berpuasa esok hari, maka itu sudah termasuk niat.
- Berkumur dan Menghirup Air Wudu Batalkan Puasa
Sebagian orang takut berkumur atau menghirup air saat berwudu karena khawatir puasanya batal. Padahal, dalam Islam, hal ini tetap dianjurkan selama tidak berlebihan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i)
Hadis di atas menunjukkan bahwa berkumur dan menghirup air ke hidung tetap disunahkan saat berwudu sekalipun kita sedang dalam keadaan berpuasa. Namun, perlu diingat bahwa tidak berlebihan agar tidak membatalkan puasa apabila air sampai tertelan.
- Tidak Boleh Menelan Ludah
Menelan ludah tidak membatalkan puasa karena merupakan sesuatu yang alami dan sulit dihindari. Para ulama sepakat bahwa selama ludah tersebut tidak bercampur dengan makanan, minuman, atau dahak, maka menelannya tidak membatalkan puasa.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan, “Jika seseorang menelan ludahnya sendiri yang masih dalam mulutnya, maka hal itu tidak membatalkan puasa, karena sulit untuk menghindarinya”.
Namun, jika seseorang sengaja mengumpulkan ludah dalam mulut lalu menelannya, sebagian ulama memakruhkannya, tetapi tetap tidak membatalkan puasa.
- Mencicip Makanan Membatalkan Puasa
Sebagian orang ragu untuk mencicipi makanan saat memasak karena takut puasanya batal. Namun, mencicipi makanan diperbolehkan selama makanan tersebut tidak tertelan.
Sahabat Ibnu Abbas RA berkata:
“Tidak mengapa seseorang mencicipi makanan dari panci atau sesuatu lainnya, selama tidak masuk ke tenggorokan.” (HR Ibnu Abi Syaibah)
- Bayar Fidyah Sebelum Utang Puasa Terjadi
Misalnya, seorang wanita yang sedang hamil memutuskan untuk membayar fidyah sebelum Ramadan dimulai karena tahu ia tidak akan berpuasa. Namun, membayar fidyah hanya boleh dilakukan setelah seseorang benar-benar meninggalkan puasa.
Dalam Islam, fidyah merupakan pengganti puasa yang sudah terlewat, bukan sesuatu yang dibayarkan sebelum seseorang meninggalkan puasa.
Banyak pemahaman yang keliru tentang puasa Ramadan masih berkembang di masyarakat. Dengan memahami aturan puasa yang benar sesuai syariat Islam, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik tanpa terbebani mitos yang tidak berdasar.
Mari manfaatkan bulan Ramadan untuk meningkatkan ibadah, mulai dari puasa, salat wajib, salat malam, salat sunah, hingga bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.





