JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono menduga air minum tercemar jadi sumber penularan penyakit hepatitis A di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Diketahui hingga kini sudah lebih dari 900 orang terjangkit hepatitis A sehingga membuat Pemerintah Kabupaten Pacitan menetapkan kejadian luar biasa (KLB).
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan sementara media [penularan virus] yang digunakan berupa air diduga, menggunakan air yang tidak dimasak, tetapi perlu dilakukan analisis epidemiologi lebih lanjut.
Menurutnya, dugaan sementara penularan virus itu adalah sumber air yang masih digunakan masyarakat berasal dari Sungai Sukorejo. Sementara ini, katanya, sungai tersebut tercemar limbah.
“Ada banyak limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai. Air sungai tersebut didistribusikan melalui mobil tangki untuk di jual ke masyarakat sebagai sumber air bersih,” ujarnya.
Berdasarkan hasil penelitian, ia menyebut air sungai tersebut terbukti mengandung bakteri e-coli.
Sayangnya, kata dia, air yang tak bersih itu diduga digunakan dalam sejumlah panganan. Misalnya, panganan saat bulan puasa dan di acara syukuran pada periode sebelum, saat, dan sesudah lebaran.
“Pada bulan Ramadan masyarakat sekitar kasus banyak mengkonsumsi jangelan atau cincau yang dibawa oleh pedagang keliling,” tutur dia.
Buktinya, tim menemukan depo air minum isi ulang yang tidak bermerek. Meskipun, tidak semua masyarakat mengonsumsi air tersebut.





