Timor Leste, Pelopor Daur Ulang Plastik

Timor Leste yang merdeka dari RI, 20 Mei 2002 bekerja sama dengan Mura Energy, Australia, menjadi negara pertama yang mendaur ulang selururuh limbah plastik yang dihasillkan.

CARA Timor Leste, negeri berpenduduk 1,3 juta jiwa yang pernah menjadi provinsi ke-27 Indonesia dan merdeka pada 20 Mei 2022 ini menangani persoalan sampah plastik bisa ditiru.

Timor Leste menjadi negara pertama di dunia yang mendaur ulang seluruh sampah plastik yang dihasilkan melalui kerjasama pembangunan pablik daur ulang plastik dengan lembaga penelitian Mura Technology (MT) dari Australia.

Dengan Investasi pabrik berteknlogi maju senilai 40 juta dollar AS atau setara Rp 560 milyar rupiah itu bisa dipastikan seluruh sampah plastik dapat diolah menjadi produk baru.

MT selanjutnya akan membantu pemerintah Timor Leste mendirikan organisasi nirlaba RESPECT yang akan menangani kegiatan pabrik pendaur ulang plastik tersebut yang diharapkan sudah beroperasi pada 2020.

Thomas Maschmeyer, salah satu penemu teknologi daur ulang untuk pabrik tersebut mengemukakan, pihaknya mampu membuat perubahan di suatu negara kecil menjadi negara pertama yang bebas sampah plastik di tengah kawasan dengan polusi laut tinggi.

Menurut dia, jika tidak diurai dengan baik, plastik merupakan bahan berbahaya, tetapi jika diurai dengan baik, akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sebanyak 70 ton sampah plastik yang dihasilkan Timor Leste setiap hari akan didaur ulang menggunakan teknologi kimia  yang mampu dengan cepat mengubah limbah plastik menjadi bahan cair atau gas tanpa menggunakan bahan mineral.

Teknologi yang sama juga akan diaplikasikan di Australia, Inggeris dan Kanada. “Persoalan plastik adalah tentang apa yang anda lakukan setelah menggunakannya, “ tutur Maschmeyer.

Saat ini tercatat sekitar delapan juta ton limbah plastik dibuang ke laut setiap hari terutama d kawasan Asia seperti di negara China, Filipina, Indonesia, Thailand dan Vietnam.

Selain berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan, sebanyak 21 negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) menyatakan, sampah plastik merugikan sector pariwisata, perikanan dan industri perkapalan sekitar 1,3 milyar setahun.

Selain rendahnya kesadaran kalangan bisnis dan publik pengguna plastik, inkonsistensi pemerintah terkait peraturan mengenai penggunaan plastik dan penanganan limbahnya membuat persoalan sampah plastik tidak pernah tuntas. (Thomson Reuters Foundation/ Kompas/NS)

 

 

 

 

 

Advertisement