BANON CINAWI BANGUN

DARI 100 bini Harjuna, termasuk sejumlah bidadari di kahyangan, paling disayang adalah Wara Sumbadra, kemudian Srikandi. Beruntung, meski keduanya bukan bagian dari “madu bersyariah” tapi tetap rukun dan damai. Nyaris seperti kakak beradik saja, Srikandi dengan tulus ikut momong Abimanyu kecil. Kadang ketika diajak jalan-jalan, wayang yang tidak tahu menganggap Srikandi babysitter dari Banon Cinawi tempat tinggal Wara Sumbadra selama ini.

“Itu babysitter Wara Sembadra kok cantik banget ya. Digaji berapa dia.” Ucap seorang wayang akar rumput.

“Ngawur saja kamu! Itu bini Harjuna juga, tahu! Namanya Srikandi, karena tak punya anak sendiri, kasih sayangnya jatuh pada anak madunya.” Potong wayang lain memberikan klarifikasi.

Biasanya pagi-pagi sekitar pukul 07.00 pagi Srikandi dengan kereta dorongnya mengajak balita Abimanyu jalan-jalan menghirup udara pagi Taman Banon Cinawi. Tapi sudah sebulan lebih tradisi itu hilang. Srikandi ke mana-mana sendirian, sementara Wara Sembadra dan Abimanyu kecil entah pergi ke mana. Jika diajak jalan-jalan keluar kota atau luar negeri, faktanya Harjuna juga tetap ada di kesatrian Madukara.

Menurut informasi dari sumber yang layak dipercaya, kabarnya Wara Sumbadra “purik” ke Dwarawati bersama si kecil Abimanyu. Sebab dia punya tuntutan kepada suaminya, tapi tak kunjung dikabulkan. Asal didesak jawab Harjuna entar…..entar….. presis emak-emak ditagih tukang kredit panci. Saking jengkelnya tak diperhatikan, maka Wara Sumbadra pun kabur ke rumah kakaknya, Prabu Kresna raja Dwarawati.

“Taman Banon Cinawi sudah rusak, genting banyak yang pecah, plafon pada bocor. Kapan dipugar kembali, bapakne kulup.” Desak Wara Sumbadra.

“Sabar ibune kulup. Anggaran dari Ngamarta belum turun. Kalau takut kehujanan dalam rumah, ya pakai payung dulu. Begitu saja kok repot.” Jawab Harjuna sekenanya.

Bila Ngamarta sebuah kerajaan, kesatrian Ngamarta tak lebih hanya sebuah kadipaten, yang tiap tahunnya dapat DAU (Dana Alokasi Umum) dari pemerintahan pusat. Uang Dana Desa juga ada, tapi semua bantuan dari negara itu untuk kepentingan rakyat, bukan keluarga Harjuna secara pribadi. Karenya Harjuna tak berani gunakan dana pusat untuk memugar Taman Banon Cinawi, salah-salah jadi urusan KPK.

Bagi Harjuna yang banyak istri, ditinggal Wara Sembadra selama beberapa minggu sebetulnya tak perlu pusing. Ibarat mobil, ban cadangan masih begitu banyak, maui pilih yang radial atau ban biasa, semua tersedia. Cuma ki Lurah Semar menyarankan, tak baik terlalu lama pisah dengan garwa padmi (permaisuri), bisa jomblo nanti. Kalau “jomblo”-nya Gubernur DKI masih dapat Dana Operasional Gubernur dobel. Kalau kesatria Madukara, jomblo ya jomblo beneran.

“Sebaiknya Wara Sumbadra dijemput, Ndara. Jika tahu Wara Sembadra “vacuum”, dikhawatirkan Burisrawa cari peluang. Nyesel nanti sampeyan.” Nasihat Lurah Semar.

“Oo, begitu kakang Semar. Ya sudah kalau begitu, saya harus pergi ke Dwarawati jemput istri.” Jawab Harjuna mendadak bersemangat.

Harjuna bersemangat tiba-tiba karena diingatkan oleh Lurah Semar, tentang bahaya ancaman Burisrawa. Sudah bukan rahasia lagi, kesatria Cindekembang putra Prabu Salya ini memang tak pernah henti mengejar-ngejar Wara Sumbadra. Dia tak mau kawin lagi juga karena terus mengharap cinta Wara Sumbadra. Katanya, tak dapat gadisnya, jandanya pun oke. Karena katanya, “Yang penting rasanya Bung!”

Demikianlah, Harjuna berangkat ke Dwarawati. Sayangnya, Wara Sumbadra tak mau menemui, mau lihat balita Abimanyu juga tak diizinkan. Prabu Kresna juga sudah ikut membantu melunakkan hati sang adik, tapi Wara Sumbadra bergeming. Katanya, minggu-minggu ini masih males ketemu Harjuna. Bahkan katanya, jika “kebelet” kan masih ada istri-istri yang lain.

“Aku akan kembali ke Banon Cinawi, manakala taman itu sudah dipugar sebagus mungkin. Jika tidak, ya sudah lupakan saja Sumbadra-Abimanyu tinggal di Dwarawati.”

“Masak sebegitunya sama suami sendiri, diajeng.” Harjuna mencoba merayu  sambil menarik tangan istrinya, diajak pulang paksa. Tapi Sumbadra menolak.

“Nggak ada kompromi, nggak ada lobi-lobi. Solusinya hanya satu, segera pugar Taman Banon Cinawi, pasti aku kembali.” Kata Wara Sembadra tegas.

Harjuna terpaksa meninggalkan Dwarawati, dengan kepala cekot-cekot tapi tak bisa disembuhkan oleh Bodrex-nya Dede Jusuf. Dia lalu berpikir keras, bagaimana cara memugar Taman Banon Cinawi dengan cepat. Pakai cara konvensional, pasti nunggu ada dana longgar, sedangkan APBD Madukara sudah defisit. Maka Harjuna pun segera menghubungi dewa di kahyangan, agar bisa membantunya pakai ilmu tingkat dewa. Biar kata Rocky Gerung di luar akal sehat, tapi soal beginian kahyangan sangat mampu.

Perlu diketahui bahwa di kahyangan ini Harjuna banyak sekali koleganya. Sebab asal ada dewa punya anak perempuan, pastilah punya mantu Harjuna. Begitulah resiko wayang punya status “satriya lananging jagad”, dia harus mengawini 100 wanita, baik dari kalangan bidadari (dewa) maupun rakyat ngercapada. Asal tahu saja, dari 100 istri Harjuna, hanya Wara Sembadra dan Srikandi yang dapat fasilitas ganda benggol dan bonggol, yang lainnya sebanyak 98 cuma memperoleh bonggol semua!

“Taman Banon Cinawi sudah selesai dipugar pakai Ilmu Gaib. Pulanglah kamu, sudah siap pakai dan tinggal jemput kembali istrimu.” Kata Betara Endra.

“Terima kasih pukulun atas segala bantuannya.” Ujar Harjuna sambil pamitan.

Tiba di Madukara, janji dewa benar adanya. Taman Banon Cinawi sudah dipugar megah. Atap yang sebelumnya pakai kayu borneo dan habis dimakan rayap, kini pakai kuda-kuda galvalum yang anti karat dan anti rayap. Dijamin takkan roboh seperti SD Gentong Pasuruan (Jatim) beberapa hari lalu.

Tapi celaka tiga belas, baru saja Harjuna hendak menyusul istri ke Dwarawati, tiba-tiba pondasi Banon Cinawi ambles, dan otomatis atap dan dinding tembokya melesak ke bawah. Lho, kok begitu ya? Memangnya dewa korupsi bestek? Harjuna mau protes ke kahyangan, tapi dicegah oleh Lurah Semar. Sepertinya memang ada sabotase, dan ini bukan urusan Betara Endra Cs.

“Jangan tergesa-gesa protes ke Jonggring Salaka. Selidiki dulu akar masalahnya, saya curiga ini ada aktor politiknya. Soalnya saya kemarin lihat di medsos, Betari Durga berangkulan mesra dengan Burisrawa.”

“Jangan lebay kakang Semar. Masa si bewok Burisrawa rangkulan saja dipolitisir.” Harjuna protes atas kecurigaan.

Semar tak peduli. Dia kemudian muja semedi (berdoa) di dekat gedung Banon Cinawi yang ambles. Ternyata di dunia non kasat mata, tampaklah Jaramaya-Jarameya kaki tangan Betari Durga tengah sibuk mengeruk tanah di bawah gedung Banon Cinawi, sehingga bangunan itu terus melesak ke bawah.

“Hei, menus elek, berhenti! Siapa yang perintahkan kamu, ha?” bentak Semar garang, sambil menangkap keduanya yang mencoba mau kabur.

“Maaf, ini orderan Betari Durga dan Burisrawa.” Jawab keduanya ketakutan, cemas jika diberi “bom atom” lurah Semar yang gajinya tak sampai Rp 33 juta itu.

Jaramaya-Jarameya segera ditelikung Lurah Semar, dibawa menghadap Betari Durga di Pasetran Gandamayit. Tentu saja Betari Durga ketakutan, karena tahu-tahu Semar melabraknya ke kahayangan. Sebagaimana Jaramara-Jarameya, Betari Durga juga takut kena “bom atom” rasa jengkol milik Semar.

“Saya tak mau bikin masalah. Yang penting kembali bangunan Banon Cinawi kembali berdiri tegak.” Ujar Semar.

“Wah nggak bisa Oom, kandungan tanah di bawahnya sudah kadung longsor. Teknologi tingkat dewa tak mau ngurusi begituan. Mending pakai teknologi tingkat wayang saja, disuntik pakai cor-coran saja,” saran Betari Durga.

Semar – Betari Durga kemudian bertanya pada konsultan bangunan. Ternyata disarankan harus dicor bakai koral dan pasir kwalitas tinggi,  di mana stoknya hanya ada di Pemprov DKI Jakarta.

“Berapa harganya?” Tanya Semar.

“Kira-kira Rp 52 miliar, Pakde.” Jawab sang konsultan.

Karena yang bikin ulah awalnya Burisrawa, maka biayanya kemudian dibebankan kepada ksatria Cindekembang tersebut. Burisrawa ketimbang masuk penjara gara-gara urusan ganggu bini orang, terpaksa mau membiayainya. Dan ternyata betul, setelah disuntik cor-coran pasir dan koral seharga Rp 52 miliar, gedung Taman Banon Cinawi berangsur naik dan kembali tegak. Harjuna pun optimis bisa boyong kembali Wara Sumbadra ke Madukara. (Ki Guna Watoncarita).

 

 

 

           

 

Advertisement