
KOMITMEN rakyat terhadap kelanggengan revolusi yang telah berhasil merombak sistem monarki pimpinan Syah Iran Reza Pahlevi (1941 – 1979) menjadi negara Islam menjadi goyah juga jika sudah menyangkut urusan perut.
Iran hingga akhir pekan lalu dilanda gelombang aksi unjuk rasa yang digelar di sejumlah kota untuk memprotes kenaikan BBM karena rakyat merasa harga BBM murah adalah hak mereka, sesuai dengan posisi Iran sebagai salah satu negara produsen minyak terbesar dunia.
Harga BBM baru naik 50 persen menjadi setara dengan 13 sen dollar AS (sekitar Rp1.820) per liter untuk pembelian 60 liter pertama, sedangkan pembelian di atas 61 liter dengan harga per liter tiga kali lipatnya.
Persoalannya, Iran tidak begitu saja bisa mengekspor minyaknya karena terganjal sanksi embargo oleh Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (bersama Jerman, Inggeris, Perancis, Rusia dan China) pada 2015.
Akibatnya, Iran juga mengalami kesulitan mengimpor barang-barang kebutuhan dalam negari karena kelangkaan devisa, sehingga pada gilirannya terjadi kesulitan ekonomi yang menyulut aksi unjukrasa besar-besaran pada akhr 2017 dan awal 2018.
Parlemen jang semula ingin menunjukkan keterpihakannya pada rakyat dengan mewacanakan pembatalan kenaikan BBM tersebut, urung setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei malah menyatakan mendukung kenaikan.
Dalam pernyataannya yang disampaikan, Minggu (17/11), Khamenei mengaku ia bukan lah pakar dan memang terjadi perbedaan pandangan mengenai harga BBM, namun jika pemerintah sudah memutuskannya, hal itu harus diberlakukan.
Walau ia juga bisa memahami ada penolakan, Khamenei menyebutkan, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membuat kerusuhan. “Sebagian orang bisa marah, tetapi merusak dan membakar adalah perbuatan perusuh, “ ujarnya.
Khamenei mengingatkan, aksi anarkis tidak akan menuntaskan persoalan, tetapi justeru menimbulkan persoalan baru dan absennya keamanan adan ketertiban adalah bencana terbesar di mana pun juga karena itu lah yang diinginkan oleh musuh-musuh Iran.
Selain membatasi layanan internet yang kapasitasnya hanya tersisa tujuh persen, aparat dilaporkan menangkap 40 perusuh di kota Yazd sedangkan di Bushehr, Isfahan dan Shiraz aparat dengan gas air mata dan bom air berusaha membubarkan massa.
Dari sisi geopolitik, mungkin saja kerusuhan yang terjadi di Iran saat ini bagian dari rangkaian gejolak yang muncul di Irak dan Lebanon sejak Oktober lalu. (AFP/Reuters/ns)




