
KAHYANGAN Jonggring Salaka tempat tinggal para dewa, lokasinya tak seluas bumi di ngercapada. Sama-sama planet dalam tatasurya, ukurannya hanya sepersepuluh dari luas dan besarnya bumi. Karenanya jumlah penduduk sebagai penghuninya tak sebanyak makhluk di bumi. Maka Sanghyang Tunggal di istana Ngondar-andir Bawana, memberi dispensasi semua wayang Jonggring Salaka terbebas dari kematian, kecuali Betara Kamajaya dan Dewi Ratih istrinya.
Menurut naskah kakawin Smaradahana, para dewa di kahyangan terbebas kematian berkat minum Tirta Amretta, yang kala itu dibagikan cuma-cuma di Jonggring Salaka. Semua dewa dapat jatah minuman istimewa itu, meski ukurannya hanya sebesar Akua gelasan. Sayangnya, pas pembagian Kamajaya-Ratih suami istri sedang ikut paket wisata halal, jalan-jalan ke bumi.
“Kenapa kangmas Kamajaya tidak protes? Ini namanya Sanghyang Tunggal diskriminatif pada makhluk ciptaannya. Sesama dewa, kenapa memperoleh perlakuan berbeda?” keluh Bethari Ratih.
“Justru kita ini beruntung, diajeng. Kematian itu adalah titik akhir dari semua penderitaan. Jika menjadi dewa hidup terus ngebelangsak, mendingan mati saja. Diajeng Ratih tahu sendiri kan, banyak makhluk bumi terjun dari apartemen atau minum bier oplosan, karena putus asa menjalani hidup,” jawab Bethara Kamajaya santai.
Demikianlah, Kamajaya – Ratih harus menerima takdir Sanghyang Tunggal, mereka diperlakukan sama dengan makhluk di bumi, yang sehari-hari minum Akua galonan, yang kadang-kadang dipalsukan pula. Artinya, bila bila kelak keduanya mati, harus dimakamkan di bumi, misalnya di TPU Ngagel, Surabaya, bukan Suralaya nama lain Jonggring Salaka. Di samping itu, di kahyangan memang tak ada TPU dan Krematorium.
Namun ironisnya, meski jatah umur makhluk di ngercapada dibuat pas bandrol, masih juga selalu memanjakan hawa nafsu, mereka lupa bahwa hidup di bumi itu sekedar mampir ngombe (numpang minum). Seperti misalnya, Prabu Nilakruda ratu gajah di Glagah Tinatar, kok pengin juga beristrikan bidadari kahyangan yang katanya enak digauli dan perlu.
“Togog, kalau saya melamar bidadari di kahyangan, itu etis nggak?” ujar Prabu Nilakruda kepada TKW (Tenaga Kerja Wayang) domestiknya.
“Jelas nggak etis, dan ironis pula. Soalnya semua wayang di bumi sudah memiliki jatahnya masing-masing. Sampeyan kan gajah, ya musti kawin sama gajah perempuan. Nggak boleh kawin sama bidadari, itu bisa ngrusak turun (merusak keturunan) nantinya.” Jawab Togog sekenanya.
“Lagian bidadarinya juga ogah. Kayak artis dan selebritis pada umumnya, mana mau bersuami gajah yang hanya panjang di belalainya doang!” tambah TKW Bilung.
Semua nasihat Togog-Bilung tersebut intinya melemahkan semangat Prabu Nilakruda. Karenanya segala maksud baik kedua TKW-nya tersebut tak digubris. Raja Glagah Tinatar itu segera kirim WA ke Jonggring Salaka. Ternyata benar kata kedua pembantunya, lamarane ditampik mentah-mentah. Selain stok nasional widadari telah menipis menjelang Tahun Baru 2020, dewa tak boleh diperjodohkan dengan species gajah. Bikin bingung nantinya, blasteran widadari – gajah lalu seperti apa bentuknya? Karenanya sekretaris kahyangan Bethara Penyarikan segera kirim WA penolakan. “Dengan sangat menyesal, lamaran Saudara kami tolak. Terima kasih atas perhatian Saudara….” Pendek, tapi kata Asmuni Srimulat, sengak didengar.
“Ini dewa nggak adil. Masak gajah dilarang mengawini bidadari. Ini rasis sekali, saya mau gugat ke MK, Gog….” Keluh Prabu Nilakruda.
“Itu masih mending. Coba kalau di DI Yogyakarta, jenis sampeyan pasti dilarang pula memiliki tanah SHM, paling-paling HGB 20 tahun.” Potong Togog lagi.
“Bukan hanya dilarang beli tanah, malah sampeyan bakal ditaruh di Bonbin Gembiraloka, atau Taman Safari Bogor.” ujar Bilung seenaknya.
Sebagai ratu gajah, raja Glagah Tinatar itu postur tubuhnya memang tinggi besar, badan manusia kepala gajah. Tenaganya luar biasa, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Dia kaya raya karena dibuat model iklan pabrik ban, royaltinya setiap tahun miliaran rupiah. Saking kayanya, dia berani beli moge antik Harley Davidson dan sepeda Bromton langsung dari Prancis. Dibawa pakai pesawat Garuda gratis pula, karena dia kenal baik dengan Dirutnya. Beruntung Prabu Nilakruda tak sampai ikut dipecat, karena dia bukan direksi maskapai Garuda.
Orang kaya raya sekelas Prabu Nilakruda, kok diremehkan oleh kahyangan. Kok berani-beraninya menolak itu lho, apa penguasa Jonggring Salaka tidak tahu bahwa Prabu Nilakruda pernah menolak tawaran jadi Watimpres? Ini penghinaan luar biasa dan tiada tara. Dewa di kahyangan harus dikasih pelajaran, di demo habis-habisan. Dengan bantuan alumnus PA 212 pasti Betara Guru Cs ngeper dibuatnya.
“Tujuh juta umat siap memenuhi lapangan Repat Kepanasan, untuk mengepung istana Bale Marcakunda.” Perintah Prabu Nilakruda optimis, kepada patih Jayakruda.
“Akur, gua mah setuju-setuju aja…” jawab patih Jayakruda yang selalu berotak proyek. Baginya, ini obyekan besar untuk pengadaan nasi bungkus.
Oleh karena itulah, pasca penolakan lamaran lewat WA, bala tentara gajah dari Glagah Tinatar segera berangkat ke Jonggring Salaka. Sayang PA 212 tak mau ikut, karena masih mempersiapkan demo khusus di Jakarta. Itupun, Repat Kepanasan telah berhasil dibuat kacau balau. Untuk meneror mental para dewa, bala tentara gajah mengamuk, mencabuti pohon beringin sekalian merobohkan rumah para dewa. Para dewa pun kalang kabut.
“Bagaimana ini kakang Narada, kok kahyangan Jonggring Salaka jadi chaos begini.” Keluh Betara Penyarikan.
“Nggak tahu saya. Saya kan bukan lagi patih di kahyangan, karena didemisioner oleh MK. Elekkkkk, elekkkk……!” jawab Narada sekenanya. (Ki Guna Watoncarita)


