
SARJOKESUMA layak marah. Sebab dalang cap apapun, asalkan ambil lakon anak-anak Pandawa menikah, yang dijadikan korban pastilah putra Prabu Duryudana. Artinya, dirinya dipastikan jadi tokoh yang dikalahkan. Heboh di awal cerita, tapi selalu mengecewakan dirinya di akhir cerita. Sarjokesuma dipastikan gagal memperoleh jodoh, sedangkan putri itu diambil alih oleh putra Pendawa, misalnya Abimanyu, Gatutkaca atau Antasena.
“Bodo amat, terserah dalangnya lah! Memang mereka sentiment ama gua.” Keluh Sarjakesuma,
“Ya jangan begitu. Kamu boleh putus kolor seribu kali, tapi jangan putus asa menjalani kehidupan,” nasihat Patih Sengkuni asal-asalan.
Terlepas dari klaim Sarjokesuma, Prabu Duryudana memang kepengin sekali segera ngudang putu (menimang cucu). Maka meski sang putra mahkota setengah putus asa, Prabu Duryudana – Banowati terus berusaha mencarikan jodoh buat anak sulungnya. Maksud paduka raja, setelah menikah nanti dengan Dewi Rarasati, Sarjokesuma diminta untuk berdikari. Jika perlu diambilkan rumah susun di Jakarta yang DP-nya nol rupiah.
Beberapa hari lalu Prabu Duryudana menggelar sidang kerajaan terbatas, untuk membicarakan rencana perkawinan Sarjokesuma-Rarasati, adik Patih Udawa. Seakan sudah pasti saja, sehingga siang itu acara sudah mirip-mirip kumbakarnan (rapat persiapan perkawinan ala Solo).
“Interupsi anak prabu. Sarjokesuma kan masih mbocahi, kenapa musti dinikahkan buru-buru, macam kabis ketangkep Hansip saja. Mending carikan pasangan untuk Wakne Gondhel, yang hidup menduda dari jaman Dinasti Ming. Kasihan dia, setiap malam kerokan melulu..” Patih Sengkuni memotong pembicaraan.
“Nanti dulu Dhi Cuni. Sampeyan itu tulus mengusulkan, atau mau cari panggung untuk meledek saya? Mentang-mentang Pendhita Durna asal hendak menikah pasti batal? Ooo, patih kok syirik. Benci aku….!” protes Pandita Durna sepertinya tersinggung pol.
Ironis memang, dalam sidang istana kerajaan yang sakral, kok malah gaduh sendiri macam mentri-mentrinya Jokowi di Kabinet Indonesia Kerja. Untung saja segera dipisah Prabu Baladewa, sehingga konflik horisontal antara Sengkuni – Durna tidak sampai berkepanjangan. Sekarang kembali fokus membicarakan keinginan Prabu Duryudana. Intinya, Prabu Baladewa ditugaskan melamar Dewi Rarasati putri Widarakandhang untuk Sarjokesuma.
“Kenapa harus saya, yayi Prabu Duryudana? Saya ini kan wayang sumbu pendek, tak bisa menahan emosi saat dikecewakan orang.” Kata Prabu Baladewa sudah pesimis duluan.
“Justru saya menugaskan kangmas Baladewa, karena kangmas sudah akrab dengan Patih Udawa sedari muda di Widarakandang dulu. Apapun jika ada koneksi kan beda.” Jawab Prabu Duryudana mencoba menjelaskan.
Sesungguhnya Prabu Baladewa kurang sreg didaulat macam begituan. Sebagai raja Mandura, dia paling malas intervensi apapun bentuknya. Patih Udawa menggelar sayembara itu kan sudah menjadi haknya sebagai warga negara, yang penting ada izin dari Kementrian Sosial. Bila kemudian Rarasati diminta gratisan gara-gara lobi-lobi kekerabatan, keenakan Sarjokesuma dong! Tanpa modal kok tahu-tahu unjuk alat vital.
“Maksud saya, mengirim kontingen jago calon pengantin itu perlu anggaran besar, jika dipegang orang lain, bisa disalah-gunakan. Padahal Ngastina sedang devisit anggaran, jika sampai dimark up bagaimana?” Prabu Duryudana terpaksa buka kartu.
“O kalau begitu sih, terkejaba (terkecuali), saya terpaksa mau.”
Patih Udawa minggu-minggu ini sedang cuti di luar tanggungan negara. Patih Dwarawati tersebur kini tengah sibuk ngurusi sayembara pilih atau alap-alapan Rarasati, adik kandungnya yang tengah menjadi kembang kampung. Perizinan di Kementrian Sosial sudah selesai diurus, tapi lalu apa kriteri untuk menyaring peserta? Jika tanpa disortir, Udawa bisa capek deh karena harus berperang dengan banyak peserta.
Oleh karenanya sarat tambahan untuk peserta ditentukan sebagai berikut : 1. Punya NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), 2. Lunas Pajak Bumi & Bangunan (PBB) 5 tahun terakhir, 3. Surat keterangan bebas narkoba, 5. Surat keterangan Kelakuan Baik/Tidak Tersangkut HTI. Jika persyaratan lengkap Insya Allah bisa adu tanding dengaan Patih Udawa.
“Kakang Udawa, maksud kamu apa sih, kok bikim persyaratan aneh-aneh.” Prabu Kresna bertanya pada Udawa, saat berkunjung ke Widarakandang.
“Nggak tahu juga saya. Itu kan hanya bisa-bisanya ki kidalang saja,” jawab Udawa berbisik.
Pandaftaran pertama dibuka, terjadi antrian panjang untuk ambil formulir. Tercatat ada 125 peserta, mereka berasal dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Tapi setelah ada sarat tambahan, jumlah peserta ngedrop tinggal: Prabu Kala Handayaningrat raja dari negara Selamiring, Sarjokesuma dari Ngastina, dan Harjuna dari Dwarawati. Prabu Kresna melihat berkas lamaran kaipe (ipar) Janaka, sebetulnya terkaget-kaget. Sudah punya bini Sembadra kok masih ngudak-udak cewek lain, apa mau coba-coba poligami. Pantesan, sekarang pakai jenggot segala.
Sepulang menghadiri sidang kerajaan Ngastina, Prabu Baladewa segera panggil Patih Pragota dan Prabawa, diajak berembug soal instruksi Prabu Duryudana untuk mengikuti sayembara pilih di Widarakandhang. Sudah menjadi prinsip raja Mandura ini, dia paling males jika harus intervensi politik dan hukum. Maka maunya Sang Balarama (nama lain Baladewa), nanti yang berangkat ke Widarakandhang cukup Pragota dan Prabawa saja, beliaunya tetep di Mandura, monitor saja lewat WA dan video call.
“Sebetulnya, akan lebih baik hasilnya jika paduka sendiri yang melobi dimas Patih Udawa. Kalau saya ini apa, patih hanya golongan III-a, tak punya kekuasaan yang luas,” ujar Patih Pragota – Prabowo nyaris bersamaan.
“Tapi citraku yang hancur, dong. Bagaimana mungkin, aku yang selalu kampanye penegakan hukum, kok sekarang malah intervensi hukum negeri orang.” Alasan Prabu Baladewa.
Singkat cerita, Patih Pragota – Prabowo langsung mengajak Sarjokesuma untuk tampil dalam sayembara. Maunya, begitu perang tanding usai, Sarjokesuma langsung dinikahkan dengan Dewi Rarasati. Oleh karenanya saat berangkat ke Widarakandhang, Sarjokesuma telah mempersiapkan surat model NA untuk numpang nikah. Bukan itu saja, sepanjang perjalanan Sarjokesuma sibuk membaca buku “Surga Perkawinan” karangan Amir Taat Nast (Pustaka Endang – 1956), katanya sekedar untuk panduan malam pertama nanti.
“Sampai di sana, langsung akad nikah kan Pakde? Saya terima nikahnya Rarasati dengan maskawin seperangkat alat salat, dibayar tunai….,” ujar Sarjokesuma berkhayal.
“Mbok sabar sedikit, kenapa. Sesuatu belum jelas kan sudah dibayang-bayangkan.” Ujar Pragota.
Tiba di Widarakandhang ternyata misi Pragota – Prabowo gagal, sebab meskipun adik sendiri, Patih Udawa tak bisa ditawar. Mau tak mau mereka harus turun gelanggang, jika memang serius ingin memboyong Dewi Rarasati. Paling celaka, karena sayembara perangnya pakai “sistim gugur”, Pragota – Prabawa tak bisa ketemu langsung dengan Udawa, melainkan harus berperang dulu melawan Prabu Handayaningrat. Alhamdulilah, masih menang. Tapi setelah harus melawan Harjuna, meskipun keroyokan Harjuna tak bisa dikalahkan. Walhasil trio Pragota – Prabowo – Sarjokesuma harus puas hanya menjadi penonton alias keok.
Sarjokesuma menangis, kenapa sekali hidup di dunia susah amat mencari jodoh. Padahal leluhurnya eyang Begawan Palasara, meski sudah lanjut usia dan gondrong macam Ridwan Saidi, merayu cewek Dewi Durgandini di atas perahu, masih dapet saja.
“Pakdhe, yuk pulang saja. Saya kadung patah hati nih,” Sarjokesuma terisak-isak menahan tangis. Buku panduan bercinta dibuang entah ke mana.
“Nanti dulu lah, nonton final Udawa – Harjuna pasti rame….” Pragota membujuk.
Tapi Sarjokesuma sudah tak peduli. Akhirnya “kontingen” gagal dari Ngastina pulang dengan tangan hampa. Dalam perjalanan dia menerima WA bahwa pemenang final memang Harjuna. Meskipun kalah, Patih Udawa tetap merasa berbahagia karena Rarasati dikawini Harjuna, ksatria lananging jagad. (Ki Guna Watoncarita)


