Dunia Cemas Hadapi Virus Corona

Epidemi Covid-19 yang masif dan cepat ke 56 negara menyebabkan kecemasan masyarakat dunia. Sudah 2.780 orang tewas dan 79.824 terinfeksi virus maut itu (sampai 1/3).

WALAU pemerintah RI masih yakin, belum ada warga terpapar virus Corona galur baru (Covid-19), sistem pemantauannya harus terus diperbaiki karena penyebarannya yang masif dan cepat di luar  China.

Otoritas kesehatan China melaporkan, sampai Minggu (1/3) tercatat adanya tambahan 35 korban baru sehingga seluruhnya 2.870 korban  meninggal akibat Covid-19 yang telah memapar 79.824 orang.

Korea Selatan, negara dengan pelayanan kesehatan termasuk tertinggi di Asia terbukti juga tak bebas dari epidemi virus maut itu yang awalnya menjangkiti sekitar 260-ribu jemaah gereja  Shincheonji di kota Daegu dan kini sudah merenggut nyawa 17 warganya dan 3.159  lagi terinfeksi Covid-19.

Covid-19 juga mengganas di Iran, dengan jumlah korban 43 orang meninggal dari 388 kasus berdasarkan laporan resmi pemerintah, namun menurut  Reuters jumlah korban meninggal sampai 210 orang.

Otoritas Iran dilaporkan menutup sementara mesjid-mesjid di 23 kota  untuk kegiatan peribadatan akibat penyebaran Covid-19 yang sudah merambah 26 provinsi. Korbannya termasuk Wapres Masoumeh Ebtekar dan Menkes Iraj Harirci yang masih dalam perawatan.

Tujuh belas warga Itali tewas terinfeksi Covid-19 sehingga menduduki peringkat tertinggi di Eropah, bahkan Paus Fransiscus yang absen pada misa di Roma, Minggu ini (29/1) diberitakan terpapar Covid-19 walau  dibantah oleh Vatikan yang menyebutkan ia hanya terkena flu ringan.

Sementara Kemenkes RI kembali merespons  kecurigaan pihak asing bahwa sampai hari ini memang belum ada satu pun penduduk  terpapar virus Covid-19 berdasarkan pemantauan terhadap 143 pasien yang dilakukan sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Kabaglitbangkes Siswanto mengemukakan, pemantauan bertahap terhadap orang-orang yang berpotensi terpapar Covid-19 disiapkan di 44 RS yang tersebar di 22 provinsi.

Pada tahap ODP  (Orang Dengan Pemantauan), yakni mereka yang tiba dari  pintu-pintu masuk (bandara dan pelabuhan) diukur suhu tubuhnya dengan thermoscan, dan jika ada dugaan (suspect), diobservasi pada level Pasien Sedang dalam Pengawasan (PSP) yakni diperiksa specimen sputumnya (lendir) dengan alat Polymer Chain Action (PCA) berstandar WHO.

Bukan Terinfeksi Covid-19

Mengenai seorang pasien di Semarang yang meninggal, menurut Siswanto, korban bukan terinfeksi Covid-19, melainkan virus flu babi (H1N1). “Pada saat dalam tahap observasi, pasien itu meninggal, dan dari hasil tes dengan PCA negatif dari paparan Covid-19, “ ujarnya.

Namun Komisioner Ombudsman RI, Alamsyah Saragih menyesalkan pernyataan kontroversial pejabat RI yang acap membingungkan masyarakat, sementara Kemenkominfo yang seharusnya bertanggung jawab malah bungkam.

“Seharusnya Menkominfo secara berkala menginformasikan perkembangan Covid-19 sesuai data dan informasi yang diperoleh dari otoritas kesehatan, “ tandasnya.

Walau taraf layanan kesehatan masyarakat masih dianggap buruk di level Asia sekali pun, sejauh ini, jajaran otoritas RI tetap “PD”, dan bahkan ada yang menyatakan menyatakan Indonesia “steril” dari Covid-19.

Ada juga yang menyatakan, beda gen, pola makan, kondisi geografis  bisa jadi membuat Indonesia aman dari paparan Covid-19, dan sebagai umat beragama, diyakini doa juga menghindari bangsa Ini dari musibah. Walalualam, jika menyangkut hak prerogatif Allah.

Keragu-raguan a.l. dilontarkan PM Australia Scott Morrison yang menyebutkan, sulit untuk memastikan tidak ada kasus Covid-19 di negeri seluas Indonesia dengan banyak pulau .

“Sulit memberikan jaminan secara absolut tentang (fakta-red) yang terjadi, “ ujarnya, seraya menambahkan, mungkin persoalannya karena ketidakandalan dalam metode pendeteksian.

Hal senada disampaikan oleh pakar epidemilogi Harvard Universitas, AS, Marc Lipsicht yang menyebutkan secara statistik, mustahil Indonesia bebas dari Covid-19, mengingat tingginya intensitas dan hubungan dan interaksi antara warga RI dan China.

Menurut Lipsicht, longgarnya pengawasan arus manusia di bandara-bandara dan pelabuhan laut dengan alasan demi menjaga jumlah kedatangan wisatawan, juga lemahnya metode pendeteksian menjadi dasar keraguannya bahwa Indonesia masih bebas Covid-19.

Minimnya jumlah orang yang diobservasi, juga menjadi keraguan pihak asing tentang kondisi nyata penyebaran virus Covid19, mengingat negara jiran seperti Singapura dan Malaysia saja sudah mengobservasi ribuan orang (dibandingkan Indonesia, 143 orang).

Epidemi Covid-19 yang sudah merebak secara cepat dan masif ke 56 negara di luar China  membuat Sekjen WHO Dr. Tedos Adharon Ghebereyesus mendeklarasikannya sebagai status darurat dunia sejak akhir Jan. lalu.

Kesiapsiagaan, pemantauan dan pengawasan lebih ketat dituntut  mengingat terbukanya pintu-pintu masuk, baik melalui darat, udara dan laut yang bisa sewaktu-waktu menimbulkan bencana “outbreak” epidemi Covid-19. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement