
PRESIDEN Joko Widodo meminta seluruh instansi terkait penanganan Covid-19 dan segenap komponen bangsa bekerja lebih keras agar penyebaran virus tersebut bisa diturunkan Juni nanti.
“Mari kita kerja lebih keras dan masyarakat juga harus lebih berdisiplin dan patuh sehingga pada Juni nanti penyebaran Covid-19 turun dan Juli kita sudah bisa memulai hidup normal lagi, “ kata presiden dalam rapat penanganan Covid-19 di Jakarta, Kamis (30/4).
Harapan Jokowi tersebut sesuai dengan prediksi tim peneliti Driven Innovation Lab Singapore University of Technology and Design (DIL-SUTD) tentang akhir wabah pandemi Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia yang dirilis baru-baru ini.
Disebutkkan, pandemi Covid-19 di Indonesia akan usai dalam tiga tahap yakni 97 persen sampai 7 Juni, 99 persen sampai 29 Juni dan dan 100 persen sampai 7 September, sedangkan secara global, wabah virus maut itu akan berakhir Desember 2020.
Hasil prediksi DIL-SUTD tersebut tidak berbeda jauh dari hasil kajian tim yang disampaikan oleh Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dedi Rosadi yang menyebutkan, penyebaran Covid-19 di Indonesia diprediksi akan mereda akhir Juli 2020.
Sementara Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB memprediksi, pandemi Covid-19 akan berakhir di Indonesia sekitar akhir Mei hingga awal Juni 2020.
Tentu saja harapan Jokowi dan prediksi para pakar tersebut didasarkan asumsi, PSBB yang mulai diberlakukan di sejumlah daerah seperti i DKI Jakarta dan wilayah penyangga serta provinsi tetangganya terutama terkait social distancing dan larangan mudik berjalan lancar dan efektif.
Faktanya, ditemui banyak pelanggaran terkait anjuran untuk berdiam di rumah dan sebagian warga yang masih ngotot mudik dengan berbagai alasan, termasuk melakukan aksi kucing-kucingan dengan petugas, naik pick-up bak terbuka ditutupi terpal, atau melalui jalan-jalan tikus.
Hakikat PSBB yakni social distancing guna mengerem laju penyebaran Covid-19, baik berasal dari pemudik yang sudah terpapar Covid-19 atau terinfeksi dari kaum-kerabat di kampung halaman mereka.
Di lapangan penegakan program social distancing juga menghadapi sejumlah kendala, selain warga yang tidak disiplin atau tidak memahami ancaman bahaya Covi-19 juga akibat bansos salah alamat.
Amburadulnya data tentang calon penerima program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) seperti sembako, kartu Keluarga Harapan dan Prakerja serta Bantuan Langsung Tunai (BLT) membuat sebagian program itu salah sasaran sehingga pada gilirannya juga ikut menghambat social distancing.
Ancaman outbreak atau ledakan jumlah korban Covid-19 masih di depan mata, mengingat rasio warga yang diambil specimennya melalui Rapid Test dan Polimerized Chain Reaction (PCR) masih sangat sedikit (baru sekitar 39-ribu orang) dibandingkan 270 juta penduduk.
Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia bahkan memprediksi, dengan asumsi intervensi pemerintah terkait penanganan Covid-19 dilakukan secara moderat, korban Covid-19 pada puncaknya nanti bisa mencapai 1,3 juta orang.
Sampai (30/4) tercatat 792 korban meninggal, 1.522 sembuh, 7.804 dirawat dan 10.118 kasus dari sekitar 220-ribu lebih Orang dalam Pemantauan (ODP), 21-ribu lebih Pasien dalam Pemeriksaan (PDP).
Sementara pandemi Covid-19 yang menyerang 210 negara, sampai (1/5) telah menewaskan 233.765 orang , terbanyak di AS (63.815 orang), disusul Itali (27.967) dan Spanyol (24.543) serta memapar 3.302.909 orang, sedangkan 1.083.390 orang dinyatakan sembuh.
Optimis boleh-boleh saja demi menjaga asa dan semangat, tapi jangan sampai lengah!




