
AMERIKA Serikat yang berpenduduk multi ras dengan “jam terbang” ratusan tahun berdemokrasi, sepekan terakhir ini diguncang kerusuhan bernuansa rasial akibat terbunuhnya pria kulit hitam, George Floyd (46) di Minneapolis, (25/5) lalu.
Floyd meregang nyawa setelah batang lehernya ditindih dengan dengkul selama beberapa menit oleh seorang anggota polisi berkulit putih, Derek Chaupin yang membekuknya setelah tertangkap basah membawa lembaran pecahan 20 dollar AS palsu.
Presiden AS Donald Trump pun mengerahkan ribuan pasukan Garda Nasional guna meredam ribuan massa yang melakukan aksi protes dan vandalisme dengan merusak sejmlah bangunan di sekitar Gedung Putih, Washington, Minggu lalu (31/5).
“Kejadian di Washington malam itu sungguh memalukan, “ ujar Trump seraya mengancam dalang aksi yang disebutnya “terorisme domestik” akan dikenakan sanksi hukum berat dan dibui selama mungkin.
Trump sempat menginspeksi Gereja Episkopal St John yang juga dikenal sebagai gereja presiden yang rusak akibat huru-hara bernuansa rasial yang kemudian ditunggangi aksi-aksi penjarahan dan vandalisme.
Demikian gawatnya situasi sehingga Trump dilaporkan sempat diamankan di bunker di bawah bangunan Gedung Putih saat aksi pendemo tak terkendali, melempari gedung icon kejayaan AS tersebut dan menggeser barikade-barikade serta membakar bendera AS.
Kerusuhan di AS kali ini yang terbesar sejak 1968, ketika ikon penegakan hak sipil, Martin Luther King Jr ditembak mati oleh anggota supremasi kulit putih.
Demo yang semula berjalan damai, menjadi brutal dan anarkis Minggu malam, bahkan menurut The New York Times, merambah ke 140 kota di AS, 40 kota diantaranya memberlakukan jam malam, dan 20 negara bagian menempatkan Garda Nasional untk meredam suasana.
Kerusuhan bernuansa SARA beberapa kali ini terjadi di AS, misalnya penembakan terhadap warga kulit hitam Michael Brown di Ferguson (17/8/2004) dan Freddie Grey di Baltimore (27/4/2015), Alton Sterling di Lousiana dan Philando Castile di Minnesota (8 dan 9/7/2016) dan beberapa peristiwa lainnya.
Kejadian di AS tersebut hendaknya menjadi pembelajaran bagi Indonesia yang secara geografis terdiri dari hampir 14.000 pulau, penduduk multi etnis, beragam budaya, agama dan kepercayaan.
Politisasi isu SARA terutama agama oleh politisi yang haus kekuasaan pada Pilkada DKI Jakarta 2014 dan Pilpres 2019 lalu nyaris membawa bangsa Indonesia ke tubir jurang perpecahan dan pola-pola seperti itu bisa saja dimainkan lagi.
Untuk itu, wawasan kebangsaan dan toleransi harus ditanamkan sejak dini, kesenjangan sosial ekonomi dan praktek korupsi harus dieliminasi, begitu pula keadilan hukum bagi seluruh rakyat harus ditegakkan.




