
PANDEMI Covid-19 yang melanda dunia dan juga dialami Indonesia, di sisi lain ikut menumbuhkan sikap kesetiakawanan dan kedermawanan untuk saling membantu dan berbagi dengan mereka yang terhimpit kesulitan.
Tingginya antusias masyarakat untuk memberikan berbagai bentuk donasi trecermin dari hasil jajak pendapat yang digelar harian Kompas, 20 -24 April lalu (Kompas, 14/6) melibatkan 1.659 responden di 34 provinsi di Indonesia.
Sebanyak 26,1 persen responden mengaku pernah memberi bantuan berupa sembako pada keluarga atau tetanggga, 18,5 persen lewat donasi online , 14,6 persen memberi tip atau makanan siap saji pada pengemudi ojol, 8,4 persen lewat media, 26,4 persen tidak pernah berdonasi dan enam persen sisanya tidak tahun atau alasan lain.
Yang disayangkan, mayoritas responden (61,5 persen) mengaku tidak pernah memberikan bantuan pada petugas medis atau kesehatan, hanya 23,3 persen yang pernah memberikan bantuan uang, 10,6 persen memberikan bantuan alat pelindung diri (masker dll), 3,3 persen asupan gizi, dan 1,1 persen menjawab tidak tahu.
Hampir separuh (40,6 persen) responden berencana memberikan bantuan rutin (satu atau dua kali sebulan) selama pelaksanaan PSBB, delapan persen akan memberikan lebih sering, 26,1 persen tidak akan memberikan sumbangan dan 25,3 persen tidak tahu.
Alasan pemberian bantuan, 42,3 persen demi membantu sesama yang kesulitan, Â 21,4 persen untuk meringankan beban ekonomi mereka, 11,2 persen merasa kasihan, 3,8 persen menganggapnya perbuatan mulia, 1,4 persen hanya ikut-kutan, 11,3 persen menjawab tidak tahu dan 8,6 persen jawaban lainnya.
Dari sisi lain, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkaitan dengan Hari Peringatan Lahirnya Pancasila 1 Juni lalu menilai, situasi krisis di tengah pandemi Covid-19 saat ini sedang menguji, apakah Pancasila sudah menjadi pedoman hidup segenap elemen bangsa.
Nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial terjelma secara aktual melalui gotong-royong masyarakat lewat ragam donasi yang disampaikan.
Lahirnya masyarakat baru yang penuh empati, welas asih dan sarat kesetiakawanan dinilai sejumlah kalangan suatu sikap yang positif dan menjanjikan.
Namun ironisnya, para politisi di parpol dan parlemen agaknya lebih sibuk di dunia mereka dan mengedepankan kepentingan atau keompok mereka ketimbang ikut cawe-cawe proaktif memberikan kontribusinya di tengah kesulitan saat ini.
Sebagian politisi dan mantan pejabat malah cuma nyinyir menyerang sana-sini, begitu pula ada saja pemimpin umat yang ikut gendang mereka memolitisasi agama.




