Musibah Maut di Era Kemajuan Pesat Layanan KAI

Sebanyak 15 korban tewas (10 sudah teridentifikasi) dan 91 luka-luka akibat gerbong penumpang perempuan KRL diseruduk dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek di St Bekasi Timur, Senin malam (27/4) . (foto: Kompas.com)

KECELAKAAN maut rangkaian KRL yang diseruduk KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) yang sejauh ini menewaskan 15 penumpang dan melukai 90-an korban (semua perempuan), mengusik kemajuan luar biasa layanan KA di negeri ini sejak sekitar satu dekade lalu.

Perombakan manajemen perkeretapian di Indonesia yang mengawali kisah sukses layanan angkutan KA dilakukan oleh Dirut PT KAI (Persero) , Ignasius Yonan (2009-2014) yang lalu menjadi menhub (2014 – 2016).

Gerbong KA resik dan nyaman, baik untuk penumpang KA komuter di wilayah Jabodetabek mau pun KA jarak jauh, ber-AC, tepat waktu dan tidak ada lagi penumpang berdiri, apalagi ‘nggelosor’.

Tidak ada lagi calo tiket di depan-depan loket, apalagi pedagang asongan yang bersliweran di atas gerbong seperti terjadi di KA Kelas Ekonomi atau Bisnis pada era sebelumnya. Toilet juga nyaman dan wangi.

Stasiun-stasiun KA pun mempersolek diri, bersih dan jadi tempat aman dan nyaman bagi calon penumpang, penjemput atau pengantar, berbagai gerai makan dan minum tersedia dan tertata baik.

Namun musibah berujung maut KRL di dekat Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4) pukul 20.50 WIB bermula dari kecelakaan sebuah taksi yang tertemper (tertabrak) KRL di perlintasan sebidang arah ke Jakarta di dekat Stasiun Bekasi Timur cukup megusik citra positif yang sudah dibangun dengan susah-payah.

Sejauh ini 15 orang dilaporkan meninggal dan 91 korban luka-luka (semua perempuan) setelah KA Argo Bromo Anggrek relasi St. Gambir – Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang (gerbong khusus perempuan) rangkaian KRL TM5568A yang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur.

Korban luka-luka masih dirawat di RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Primbon Cibitung, RS BHakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina serta RS Hermina Bekasi Timur dan Barat.

“Rangkaian KRL menemper mobil taksi jalur perlintasan langsung (JPL-85) dekat Bulak Kapal sehingga terhenti,” kata Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo kepada pers, Selasa (28/4).

Akibat insiden pertama, KRL kedua yang sedang menuju ke Cikarang di jalur yang sama terhenti di St. Bekasi Timur dan dalam bilangan menit, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju ke arah Cikarang di jalur sama menabraknya dari belakang.

Benturan dilaporkan cukup keras hingga menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian gerbong KRL paling belakang yang diperuntukkan bagi prempuan. Bahkan, loko KA jarak jauh berbobot sekitar 120 ton disebut menembus sampai sepertiga badan gerbong KRL.

Penyebab kematian
Karo Kedokteran Kepolisian, Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri (Karo Dokpol Pusdokkes Polri) Brigjen Nyoman Wirawan, menjelaskan hasil pemeriksaan terhadap 10 jenasah, umumnya korban mengalami cedera berat, penyebab utama kematian.

“Dalam pemeriksaan kami, tipikalnya adalah multiple trauma, jadi ada luka hampir di sekujur tubuh,” ujar Nyoman dalam jumpa pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4).

Pola luka tersebut lazim ditemukan pada kecelakaan akibat benturan keras, seperti tabrakan kereta, di mana korban mengalami cedera di lebih dari satu bagian vital tubuh bersamaan.

“Ada yang dominan di kepala, di dada, dan pada anggota tubuh lainnya,” kata Nyoman.
Akibat musibah itu 27 perjalanan KA jarak jauh dibatalkan Selasa (28/4) , sementara Presiden Prabowo Subianto memerintahkan investigasi menyeluruh dan berjanji akan membangun infrastruktur termasuk fly-over guna menghindari kejadian itu tak terulang.

Penyebab pasti kecelakaan baru bisa diketahui dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) , apakah sistem kontrol tak berfungsi atau tabrakan atau ada kelalaian atau ‘human error’.

Sistem keamanan berlapis
Menurut catatan, sistem berlapis yang diterapkan a.l. Automatic Train Protection (ATP) yang memantau kecepatan KA otomatis, mengerem jika masinis melanggar sinyal berbahaya atau melaju terlalu cepat.

Sistem Pengoperasian Otomatis (ATO) yang memungkinkan KA beroperasi secara otomatis, mengurangi potensi’ human error’.

Ada lagi Sistem anti tabrakan (disebut Kavach) berbasis radio yang membuat KA berhenti secara otomatis jika berada di jalur utama dalam jarak membahayakan.

Ada pula ‘Absolut Blocking System (ABS)’ yang memastikan hanya ada satu rangkaian KA dalam suatu petak blok, untuk mencegah tabrakan dari belakang (rear-end collision).

Untuk sistem persinyalan, ditambah lagi dengan pengaturan sinyal digital yang saling mengunci untuk mencegah rangkaian KA melintasi jalur tidak aman.

Mengenai keamanan pada lintasan sebidang, dilakukan penutupan perlintasan liar, pembangunan flyover/ underpass dan sistem peringatan dini untuk mendeteksi adanya kendaraan yang mogok di lintasan rel. Pertayaannya, apakah semua sistem sudah berjalan?

Begitu pula dengan kendaraan taksi listrik VinFast VFe34 buatan Vietnam dengan nopol B 2864 SBX , apakah pengemudi menerobos pintu lintasan sebidang rel KA?

Ada pula yang menduga, sistem kelistrikan mobil terkunci sehingga kendaraan nahas itu melintang, “tersangkut” di tengah rel. Supir berhasil menyelamatkan diri, sementara kendaraan saat kejadian tanpa penumpang.

Publik menanti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang transparan dan komprehensif. (ns/berbagai sumber)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here