BURISRAWA CLOMETAN

Burisrawa - Setyaki berantem di luar Istana Gajahoya, tapi lalu dipisahkan oleh Satpam.

SALYA muda yang bernama Narasoma, sebetulnya berwajah ganteng bak bintang sinetron seribu episode. Istrinya yang bernama Dewi Setyawati juga cantik jelita. Tapi sayang ketika mereka memiliki anak ke-4 bernama Burisrawa, ternyata bertampang setengah raksasa. Tapi harap dimaklumi, postur ksatria Cindekembang seperti itu karena dalam tubuh Burisrawa mengalir darah ber-DNA Begawan Bagaspati, begawan raksasa dari Hargabelah.

Jika diceritakan, who……panjang kisahnya. Yang jelas calon pewaris tahta kerajaan Mandaraka ini tak tertarik menjadi raja, maka ketika didaftarkan masuk ke Lemhanas jarang masuk, sehingga tidak dapat diploma. Malah hobinya kemudian berburu wahyu-wahyu yang nggak jelas. Kalau main HP juga sama, demen banget posting berita hoaks untuk pengaruhi sesama grup WA.

“Kamu itu calon raja, lho! Jangan suka nyinyir di HP, katanya naksir Sembadra, tapi kamu nyerang keluarga Ngamarta terus. Gimana sih?” Tegur Prabu Salyo sekali waktu.

“Kebenaran harus ditegakkan, rama. Dan kebenaran itu universal, tak memandang kawan dan lawan. Jika benar untuk kawan dan salah untuk lawan, itu namanya politisasi kebenaran,” jawab Burisrawa. Coba, ayah sendiri masih dikuliahi juga.

Di mata Burisrawa, pemerintahan yang bagus itu ya model Prabu Duryudana. Punya penasehat kerajaan seorang pendeta berjubah, namanya Pendita Durna. Kalau Ngamarta apaan, penasehatnya kok Prabu Kresna raja Dwarawati yang doyan kawin, bini sampai 3. Sedangkan Pendita Durna tak punya bini, karena pikirannya fokus untuk dan demi negara Ngastina. Soal beliaunya pernah naksir Setyaboma dari Lesanpura, Rukmini dari Kumbina dan Srikandi dari Pancala; itu kan kenangan masa lalu saat masih muda.

Burisrawa memang dekat dengan Prabu Duryudana, karena permaisuri Ngastina adalah kakak kandungnya, Dewi Banowati. Dengan Prabu Baladewa juga dekat, sebab kakak sulungnya Dewi Erawati diperistri raja Mandura tersebut. Idem ditto dengan Adipati Karno, lantaran Dewi Surtikanti istrinya juga kakak Burisrawa. Walhasil dia ini deket ke mana-mana, tapi ironisnya tak pernah diundang jika ada sowanan di Ngastina. Paling-paling tinggal dapat instruksi untuk pelaksanaannya. Istilah kata: mateng bagehi.

“Dhimas Buriswara dapat uleman (undangan) untuk jumenengan (ulangtahun pengangkatan raja) Prabu Duryudana, nggak?” tanya Durmagati.

“Dapat, tapi lewat WA doang. Namun begitu saya pasti hadir,” jawab Burisrawa memberi jaminan.

Mingggu depan tepatnya 1 Suro 1441 H, Prabu Duryudana memang sedang ulang tahun ke-5 jumenengan sebagai raja Ngastina. Tapi belum juga hari H tiba, di jagad medsos sudah ramai. Netizen mengkritisi pengangangkatan Duryudana yang tidak legimitid. Sebab katanya raja, tapi dia tak mampu duduk di dampar kencana warisan Prabu Palasara. Walhasil selama ini dia pakai dampar kayu jati bikinan Jl. Pahlawan Revolusi Klender. Bentuknya sama persis, cuma ini lebih ringan dan mudah digeser-geser termasuk bisa dipasangi pines.

Rata-rata yang komentar miring itu adalah kaum kecebong, mereka yang pro Ngamarta. Sedangkan kaum kampret pro Ngastina, tentu saja membela diri bahwa mempercayai kesakralan dampar kencana tersebut sama saja syirik. Sanksinya nanti jika mati dimasukkan kawah Candradimuka selama-lamanya.

“Yang dapat undangan resepsi jumenengan silakan hadir, jangan ngomong politik. Nanti bisa mengganggu suasana kebatinan para peserta,” kata Pendita Durna saat ditanya oleh pers.

“Jadi nggak boleh bawa spanduk tolak pengangkatan Duryudana sebagai penerus dinasti Palasara?” tanya  koran “Lampu Byarpet”.

“Apa lagi itu, jelas nggak boleh. Itu sangat sensitip. Yang penting datang saja, ikuti prosesi acara sampai selesai, dapat nasi bungkus dan pulang.” Jawab Pendita Durna lagi dan terus meninggalkan para jurnalis itu, takut ditanya yang lebih berat-berat.

Demikianlah, hari H jumenengan itu tiba juga. Tamu dari berbagai negara berdatangan. Prabu Salya, Prabu Baladewa dan Adipati Karno hadir dengan pakai mobil sedan mulus. Prabu Kresna-Setyaki hadir juga satu mobil. Sedangkan rombongan Pendawa Lima cukup pakai Isuzu minibus ¾. Ditunjuk sebagai  tukang parkir Citraksa dan Citraksi.

Burisrawa juga terlihat dalam acara itu, tapi dia hadir sebagai panitia, sehingga tidak duduk manis di barisan kursi para tamu. Dia mondar-mandir ke sana kemari. Dan begitu melihat Sembadra yang cantik dan duduk mesra bersama Harjuna suaminya, jantung langsung berdegub keras. Dia ingat cintanya yang ditolak mentah-mentah. Dan seperti kerasukan setan, tiba-tiba Burisrawa berteriak lantang,

“Mbok Mbodroa, wok wok kethekurrrrrr. Mbok Mbodro emang geboy…..”

“Para hadirin diharap tenang, acara akan segera dimulai….” Tiba-tiba suara pihak panitia menyeruak.

Seluruh hadirin terkejut, lalu mencari arah suara. Tapi tak tahu juga siapa gerangan pelanggar etika resepsi agung di Istana Gajahoya ini. Harjuna yang hafal akan suara Burisrawa, hanya bisa menahan marah. Andaikan  bukan di acara resmi demikian ini, pastilah si mulut clometan itu akan dihajar habis. Ini acara kenegaraan, bukan demo di Monas bersama PA-212.

Tapi beda dengan Haryo Setyaki. Dia sangat tersinggung oleh ucapan Burisrawa yang seperti tak pernah “mangan sekolahan” itu. Bagaimanapun juga Sembadra adalah adik kandung Prabu Kresna raja sesembahannya di Dwarawati. Sedangkan dia selama ini kan digelari sapukawat Ndwarawati. Maka diam-diam dia keluar dari barisan kursi tamu dan langsung menyeret keluar Burisrawa.

“Ayo keluar sebentar kangmas Burisrawa, ada yang perlu kita bicarakan bersama.” Ujar Setyaki bisik-bisik.

“O Dimas Setyaki, serius nih? Oke, oke, ha ha ha…..,” jawab Burisrawa santai, sama sekali tak menyadari apa yang baru saja diucapkan.

Begitu tiba di luar istana, langsung saja kepalan tangan Setyaki mendarat ke kepala Burisrawa, pletakkk! Tentu saja Burisrawa gentian membalas, memukul Setyaki yang postur tubuhnya lebih kecil. Tapi karena dihindari, tangan Burisrawa justru menghantam patung Bali hiasan di luar Istana. Pyarrrr……Yang berada di dalam Istana pun terkaget-kaget mendengar keributan di luar.

Untung saja Satpam segera memisahkan keduanya, lalu dibawa ke pos. Tapi begitu tahu keduanya adalah tokoh-tokoh terhormat dari Dwarawati dan Mandaraka, mereka hanya diminta meninggalkan fotokopi. Setelah berjabatan tangan keduanya dipersilakan kembali ke tempat acara.

“Saya belum puas Dimas Setyaki, nanti kita ketemu di Perang Baratayuda.” Tantang Burisrawa.

“Siapa takut?” Jawab Setyaki.

Seperti sudah tertera dalam kitab Jitapsara, kedua ksatria itu nantinya akan ketemu dan berperang kembali dalam lakon Baratayuda Jayabinangun seri Timpalan, dengan kematian pada Burisrawa akibat bahu kanannya putus kena panah Harjuna. Begitulah nasib wayang yang suka clometan, nyinyir di medsos. (Ki Guna Watoncarita).,

 

 

 

 

Advertisement