JAKARTA – Setiap tahunnya, dunia memeringati pekan ASI pada 1 hingga 7 Agustus. Hal tersebut bermula dari gagasan tentang pentingnya peran ASI, dalam tumbuh kembang kesehatan anak. Kemudian juga memiliki segudang manfaat bagi kesehatan fisik maupun emosional ibu dan bayi. Memeringati “World Breast Feeding Week” atau Pekan Menyusui Se-dunia, Dompet Dhuafa menyelenggarakan tayang bincang daring dengan tema “Support Breastfeeding for a Healthier World, Menyusui=Menyelamatkan Bumi?” Untuk memberikan wawasan kepada masyarakat, khususnya keluarga muda dari kalangan millenials yang langsung disiarkan melalui Chanel Youtube DD TV, pada Rabu (12/8)
Pada Rangkaian kegiatan tayang bincang Pekan ASI Sedunia, menghadirkan berbagai pembicara dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, FABM, Pendiri Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), Profesor DR. Euis Sunarti M.Si, Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dan Pimpinan Perhimpunan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia, Khalisah Khalid (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI) dan Dr. Yeni Purnamasari MKM (GM Kesehatan Dompet Dhuafa). Bersama audiens dari berbagai kalangan, Dompet Dhuafa terus mendukung gerakan pemerintah dalam membangun kepedulian maupun kesadaran semua pihak, untuk mendukung keberlangsungan pemberian ASI.
“Banyak muncul individu yang mempromosikan kebaikan menyusui. Ini merupakan sebuah tantangan dan harapan untuk kita. Setiap orang dapat menjadi agen perubahan. Harus ada dukungan secara struktural dari pemerintah atau dari negara. Untuk memastikan individu tersebut memperluas gerakannya, agar terjadi perubahan yang signifikan, jadi harus didukung oleh kebijakan negara,” ucap Khalisah Khalid, selaku perwakilan dari (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI).
Akibat pandemi COVID-19, di Indonesia akses layanan esensial seperti konseling menyusui di rumah sakit, klinik kesehatan, dan melalui kunjungan ke rumah, serta Rumah Sakit Sayang Bayi telah terganggu. Terdapat satu dari dua bayi berusia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, dan hanya sedikit lebih dari lima persen anak yang masih mendapatkan ASI pada usia 23 bulan. Artinya, hampir setengah dari seluruh anak Indonesia tidak menerima gizi yang mereka butuhkan selama dua tahun pertama kehidupan. Lebih dari 40 persen bayi diperkenalkan terlalu dini kepada makanan pendamping ASI, yaitu sebelum mereka mencapai usia enam bulan.
“ASI sumber nutrisi terbaik bayi dan melindunginya dari penyakit. Gangguan menyusui dapat menyebabkan penurunan suplai ASI, penolakan bayi untuk menyusu dan penurunan faktor imun pelindung yang terkandung dalam ASI. Satu tetes Asi bukan saja mengandung makanan. Tetapi juga mengandung vaksinasi. Asi pertama mengandung banyak air dan protein. Jadi menyusui itu adalah ibadah yang membuat kualitas hidup ibu dan bayi menjadi lebih baik,” ungkap dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, FABM, Pendiri Sentra Laktasi Indonesia (SELASI)
“Dompet Dhuafa melakukan proses pendampingan menyusui, tidak saja dalam situasi normal. Dompet Dhuafa mempunyai dua pendekatan yaitu pendekatan normal dan pendekatan dalam situasi bencana. Kita ingin program kesehatan Dompet Dhuafa dapat menjangkau keluarga, masyarakat baik situasi normal dalam kehidupan kita. Dompet Dhuafa juga memiliki program Jaringan Kesehatan ibu dan Anak (JKIA), serta Saving makes Generation Institue pada situasi bencana yang berkolaborasi bersama konseler menyusui dari SELASI maupun relawan konsuler menyusui. Kemudian juga melakukan pendampingan yang ditemukan di lapngan,” ucap Dr. Yeni Purnamasari MKM, selaku GM Kesehatan Dompet Dhuafa.





