Pergeseran Geopolitik dan Perimbangan Militer di Timteng

Warga Palestina menentang normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel baru-baru ini. (fotoReuters)

POSISI geopolitik  dan perimbangan kekuatan militer dalam konteks dunia Arab melawan Israel berubah pasca normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan negara Yahudi itu baru-baru ini.

UEA, salah satu negara petro dolar di kawasan Teluk yang notabene termasuk kubu Arab, dengan alasan pragmatis, utuk lebih fokus pada  pembangunan ekonomi dan hitech, membuka lembaran baru kemitraannya dengan Israel.

Pro-kontra pun bermunculan terkait normalisasi hubungan UEA dan Israel. Di kubu Arab, yang mendukung a.l. Mesir yang sudah lebih dulu melakukannya pada kesepakatan Camp David, AS (1979)  setelah kalah dalam tiga kali perang (1948, 1967 dan 1973) dan Jordania serta tentu saja AS yang menyeponsorinya. Bahrain kemungkinan akan menyusul langkah UEA.

Sebaliknya, Iran dan Turki mengecam keras dan menganggap kesepakatan damai yang dicapai UEA dengan Israel sebagai penghianatan terhadap perjuangan bangsa Palestina yang didukung oleh negara-negara Arab.

Arab Saudi sendiri, negara yang berpengaruh di kubu negara-negara Arab, di satu sisi menolak membuka hubungan resmi dengan Israel sebelum isu Palestina tuntas, namun di sisi lain “memberi lampu hijau” pada Israel dengan mengijinkan pesawat komersial (El Al) dari Tel Aviv ke Dubai di UEA melintasi koridor udaranya.

Saudi yang menjadi kiblat umat muslim sedunia dan juga tercatat oleh Stockholm International Peace and Research Institute (SIPRI) sebagai negara dengan anggaran militer terbesar ke-3 setelah AS dan China pada 2020 yakni 67,6 milyar dolar AS (sekitar Rp998 triliun) belum pernah terlibat perang langsung dengan Israel.

Saudi memiliki hubungan dekat dan membangun koalisi militer bersama UEA dalam perang saudara di Yaman di pihak rezim yang digulingkan di bawah Presiden Abdurabuh Mansur Hadi melawan milisi suku Houti, sedangkan dengan Bahrain juga sangat erat, bahkan negeri itu dijuluki  “provinsi” Saudi.

Di tengah perubahan peta geopolitik dan perebutan hegemoni di Timteng, Arab Saudi menjadikan AS-UEA sebagai mitra strategisnya menghadapi kubu Iran dan juga kubu Turki –  Qatar, bahkan secara tidak langsung memerlukan Israel untuk menghadapi kedua kubu tersebut.

Sementara Suriah, salah satu negara garda terdepan Arab melawan Israel yang babak belur dalam Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973 juga sudah tidak bisa diandalkan lagi, karena sejak gerakan musim semi Arab pada 2011 sampai kini tak lepas dari perang saudara.

Jadi, praktis tinggal Iran yang bisa diandalkan kekuatan militernya sebagai negara garis keras melawan Israel, sementara Turki yang anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dipimpin AS, agaknya tidak terlalu dipersoalkan Israel, karena keduanya sama-sama konco AS.

Yang terpojok saat ini tentu saja Palestina, apalagi jika negara Arab yang “menyeberang” ke Israel seperti dilakukan UEA bertambah, perjuangan mereka untuk merdeka dan memperoleh kembali wilayah Tepi Barat  semaki berat.

Perubahan geo politik telah terjadi di Timteng, “tidak ada kawan atau musuh yang permanen, yang ada cuma kepentingan yang abadi”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement