Ada 500 Petani Ikut Kelompok Pemberdayaan Kopi Dompet Dhuafa

KOPI GAYO - Kopi Gayo Aceh binaan Dompet Dhuafa laris diserbu pengunjung dan peserta Indonesia Philanthropy Festival (IPFest) 2016 pada Jumat (7/10/2016) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. - Foto: DD

JAKARTA – Lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa menghadirkan tiga produk kopi hasil pemberdayaan masyarakat dari pengelolaan Ziswaf, yaitu Kemloko, Gayo, dan Kahaya. Sudah ada sekitar 500 petani kopi yang tergabung dalam kelompok pemberdayaan kopi di seluruh Indonesia, seperti dikatakan Direktur Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa (KMM-DD), Jodi Iswanto dalam online talkshow ZTV, Rabu (9/9).

“Pendekatan Dompet Dhuafa selalu berkelompok karena kalau sendiri tidak terlalu berpengaruh, kita fasilitasi kelompok yang legal, dan biasanya mereka membentuk paguyuban, dari pihak desa juga sudah merespon, kita siapkan gudang untuk menyimpan kopi, bibit, dan ada juga yang dari bantuan pemerintah, namun kita seleksi juga,” ucap Jodi.

Sementara ditempat yang sama. Dwi, salah satu petani kopi yang dihubungi langsung dari Kemloko, Temanggung, JawaTengah mengucapkan terimaksaih kepada Dompet Dhuafa, karena dengan adanya program pemberdayaan petani kopi jadi lebih mencintai kebunnya sendiri. Karena dalam pelaksanaanya banyak petani kopi tapi menyuguhkan teh kepada para tamu yang datang.

“Itu kan jadi lucu, dan akhirnya kita komit untuk bergabung, dan Alhamdulillah setelah masuk akhirnya kita mengelola kebun-kebun kopi yang jarang diurus, dan hasilnya banyak petani kopi yang lebih mencintai kebunnya,” imbuh Dwi.

Sementara untuk proses pemberdayaan, dikatakan lebih lanjut oleh Jodi, Dompet Dhuafa melakukan pendampingan minimal selama 2 tahun, dan tinggal disana. Kemudian kita bekali ketrampilan pelatihan dengan kopi, jadi selama mereka sudah ada kebun kopi, ada yang sudah ditanam, tinggal dirawat saja.

Sementara ketika ditanya mengenai suntikan modal dari Dompet Dhuafa, Jodi menjelaskan bisa berupa sumber dana yang bisa dipakai modal usaha.

“Dan kita pusatkan di koperasi atau paguyuban petani setempat,” ungkapnya

Advertisement