Perlawanan (Terakhir) Presiden Lukashenko

Sudah sekitar sebulan Presiden Ukraina Alexander Lukashenko didemo rakyatnya yang menolak kemenangannya yang diangapa penuh kecurangan pada pemilu ulang 9 Agustus lalu

KEKUASAAN sering harus dipertahankan selama mungkin, karena selain dinikmati diri sendiri, juga oleh keluarga serta seluruh lingkaran suatu rezim yang ikut kecipratan.

Itu agaknya kenapa, diktator terakhir di daratan Eropa, Presiden Belarus Alexander Lukashenko yang berkuasa sejak 1994 bertekad tidak akan mundur meski sudah berminggu-minggu sejak pemilu ulang Agustus lalu didemo rakyatnya.

Alih-alih lengser dengan legowo, Lukashenko seperti dikuti Euronews (9/9), malah menyalahkan Amerika Serikat (AS) yang  ditudingynya telah memprovokasi protes massa.

Lukashenko bahkan juga mengingatkan Rusia, pendukung rezimnya, di hadapan jurnalis media beruang merah tersebut bahwa walau sangat menyakitkan baginya (didemo rakyat) ia bersumpah tidak akan menyerah.

Dalam wawancara dengan TV Russian Today Ia bahkan mengingatkan balik bahwa (pemerintah) negara besar seperti Rusia juga bisa mengalami hal serupa (didemo rakyat-red) dan jka ini terjadi, tidak ada cara untuk menghindarinya.

“Tuhan suatu hari akan memanggil saya, tetapi sekarang saya harus melindungi apa yang sudah saya bangun dan juga rakyat yang ikut berjuang bersama, “ ujarnya.

Dalam Pemilu ulang ang digelar 9 Agustus lalu, Lukashenko menang dengan meraih 80,1 persen suara, sementara pesaingnya, Svetlana Tikhanovskaya yang mendapatkan 10,12 persen suara menolak mengakui hasil pemilihan karena dianggap penh dengan kecurangan, lalu  kabur ke negara tetangga, Lithuania.

Aksi protes pun meletus di ibu kota, Minsk dan beberapa kota lain pasca pilpres menuntut mundur  Lukashenko, padahal tidak jelas siapa yang menggerakkan mereka karena sejumlah aktivis dijebloskan ke  penjara atau kabur ke luar negeri.

Puluhan ribu pengunjuk rasa, menurut saksi mata pada AFP,  berjalan menuju kediaman Lukashenko di Istana Kemerdekaan, Minggu lalu (6/9) dan meneriakkan yel-yel “Pengadilan”, “Berapa Anda dibayar?” serta “Saya meminta pemilu baru yang jujur”.

Pengunjuk rasa juga tampak membawa foto lawan politik Presiden Rusia, Vladimir Putin, pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny yang menurut Jerman telah diracuni dengan racun saraf Novichok (diduga oleh agen-agen Rusia-red). “Biarkan ia tetap hidup,” tulis plakat itu.

Paling tidak tiga pengunjuk rasa tewas, ratusan mengalami luka-luka akibat bentrok dengan aparat keamanan dan 6.000  orang ditahan di ibu kota negara tersebut dan dilaporkan mereka mengalami peyiksanaan di ryuang-ruang tahanan.

Dilaporkan pula terjadi penyiksaan terhadap para penentang Lukashenko seperti direkam oleh @euroradio dan diretweet oleh jurnalis Ukraina, Maksym Erstavi yang memperdengarkan suara teriakan para tahanan di rumah penyiksaan Akrestina di Minsk.

Lukashenko agaknya kini sedang menghitung hari-hari terakhir kekuasaannya, karena kehendak rakyat siapa yang bisa menghambat? Vox populi vox Dei, suara rakyat suara Tuhan!

 

 

 

 

 

 

Advertisement